16
Mei 2012
Setelah terlebih
dahulu permisi numpang lewat pada penumpang yang telah duduk, akupun menempati
kursi di nomer 16B dengan perasaan lega. Aku berdesah diantara nafas yang masih
memburu, karena sebelumnya aku tidak pernah menyangka apabila aku akan
mengalami kejadian tertinggal pesawat.
Sejam yang
lalu, kira-kira lewat sepuluh menit dari check
in, aku berhadapan dengan seorang petugas bandara yang menahanku dengan
sopan. Aku membantahnya dengan mengatakan bahwa pesawat yang akan kunaiki
belumlah berangkat. Layaknya orang yang telah sering kali berhadapan dengan
penumpang yang panik. Tetap dengan tutur yang santun kakak petugas merujukku ke
loket penerbangan yang bersangkutan sekaligus meminta-ku agar segera kesana,
supaya dapat dibantu untuk keberangkatan dengan pesawat berikutnya.
Ada
sepuluh orang yang berbaris rapi di depan loket yang sama denganku. Setelah
menyerahkan tiket-ku pada petugas dan memintanya agar aku bisa ikut di
penerbangan berikutnya termasuk menyesuaikan jadwal penerbangan-ku. Aku melirik
Bapak yang menggerutu sedari ia datang; bahwa gara-gara harus mengantar seorang
penumpang di terminal-3, membuat bus harus menunggu portal dibuka untuk
beberapa lama karena harus mencari sang petugas jaga yang entah pergi kemana, akhirnya
mengakibatkan rentetan kejadian yakni dirinya terlambat. Seperti yang kuduga
Bapak yang memakai setelan safari rapi tersebut satu bus denganku yakni DAMRI
jurusan Blok-M - Bandara Soekarno-Hatta.
Kejadian
non teknis seperti yang kualami, sebetulnya bisa dihindari jika aku tidak
terlalu percaya diri untuk berangkat dengan range waktu yang mepet. Daripada
protes yang jelas-jelas bukan sepenuhnya kesalahan alat transportasi atau
akibat aturan ketat penerbangan, aku memilih diam menunggu dengan sabar di
depan loket.
Sejenak
aku memejamkan mata, terlintas bagaimana teman-teman yang berencana melakukan
perjalanan untuk ‘explore Medan” memutuskan batal di dua minggu terakhir, sementara
tiket sudah ku-issued dan ijin
cuti-pun telah disetujui. Kemudian disusul kekhawatiran dua sahabatku, akan
tekadku untuk tetap melakukan perjalanan apabila harus solo trip turut membuat perasaanku gamang. Namun tepat disaat
petugas menyerahkan perubahan tiket, aku sudah pulih dengan semangatku. Kutarik
nafas dalam-dalam sambil berdoa, semoga tujuh hari perjalananku akan lancar.
Toba Di ketinggian
Lagu
rayuan pulau kelapa yang mengalun lirih bagai lagu terapi penenang jiwa yang mengantarku
pada lamunan tentang jernihnya air yang terhempas di garis batas daratan,
sejuknya udara yang sepoi-sepoi dan birunya langit yang berhias arak-arakan
awan putih benar-benar melenakanku. Kusadari sepenuhnya, aku sedang menuju salah
satu zamrud nusantara, aku tersenyum, tulus bersama jiwaku.