Senin, 29 Oktober 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-3) Di Titik Nol KM - Pulau Sabang


Nanggroe Aceh Darusalam
17 Mei 2012
oleh Wedhya Wardani


Aku terbangun oleh suara kokok ayam jago yang pertama. Suaranya sangat nyaring menghunjam telingaku. Selanjutnya nyanyian indah itu diikuti oleh suara ayam-ayam betina yang  saling bersahutan, ramai dan sangat ribut hingga merobek dan memaksa kesadaranku kembali sepenuhnya dari nyenyak tidur yang mematikan. 

Sambil mengeluh aku pergi ke kamar mandi, “kenapa semalam tak satu orangpun yang memberitahu apabila kamar yang kutempati bermalam bersama Fie persis di belakangnya adalah kandang ayam. fyuuuu”.

Senin, 03 September 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-2): Negeri Seribu Kedai Kopi - Nanggroe Aceh Darussalam


16 Mei 2012

 

Oleh: Wedhya Wardani

Setelah tertunda sekitar lima belas menit dari jadwal keberangkatan akhirnya GA0146 mengangkasa, menerobos gerimis, menembus gumpalan mega-mega dan meninggalkan daratan nun jauh di bawahnya. Sekali lagi aku berdoa semoga perjalananku ke tujuan berikutnya tidak ada halangan lagi. 

Ketika para pramugari membagikan satu paket snack pada seluruh penumpang, aku baru tersadar jika seharian ini hanya makan pagi itupun saat di pesawat ketika berangkat dari Jakarta saja. Sewaktu berkeliling di kota Medan aku sama sekali tidak teringat untuk makan siang atau nyemil sesuatu, hanya air penghilang dahaga saja.

“Em, memang melelahkan tapi sangat memuaskan,” desahku membenarkan diri sendiri atas keteledoranku yang sering silap dan alpa untuk menjaga diri dengan baik, utamanya urusan makan.

Setelah menghabiskan sajian berupa roti isi rogout dan secangkir teh hangat dengan bersih dan cepat. Selanjutnya aku mengambil buku bacaan yang selalu kusiapkan di setiap perjalanan. Membaca adalah salah satu trik untuk mengalihkan perhatian atau menghilangkan kebosanan selama berada di kendaraan, seperti hal-nya saat naik pesawat. Tidak banyak yang dapat kita lihat, apalagi jika cuaca mendung dan hujan.         

Bungong Jeumpa, Meugah di Aceh

Dari kaca cendela pesawat kulihat bangunan Bandar Udara International Sultan Iskandar Muda yang serupa dengan bangunan mesjid, atapnya yang berbentuk kubah, menunjukkan pengaruh islam yang sangat kuat sekali.

Namun tiba-tiba pendengaranku menarik semua rasa ketertarikanku pada musik yang diputar dalam ruangan pesawat. Lagu yang melambangkan icon atau identitas satu daerah tersebut telah puluhan tahun lalu kudengar bahkan kunyanyikan sewaktu duduk di bangku sekolah. Kini saat kudengar kembali, hatiku serasa meloncat-loncat kegirangan. Gembira tiada dapat kulukiskan dalam kata-kata. 

Bungong jeumpa, Bungong jeumpa- Megah di Aceh
Bungong teuleubeh-teulebeh indah lagoina 

[Bunga jeumpa, Bunga jeumpa - Terkenal di Aceh
Bunga yang sangat indah rupanya]


Kamis, 23 Agustus 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-1): Tao Toba di Ketinggian



16 Mei 2012 

Setelah terlebih dahulu permisi numpang lewat pada penumpang yang telah duduk, akupun menempati kursi di nomer 16B dengan perasaan lega. Aku berdesah diantara nafas yang masih memburu, karena sebelumnya aku tidak pernah menyangka apabila aku akan mengalami kejadian tertinggal pesawat. 
Sejam yang lalu, kira-kira lewat sepuluh menit dari check in, aku berhadapan dengan seorang petugas bandara yang menahanku dengan sopan. Aku membantahnya dengan mengatakan bahwa pesawat yang akan kunaiki belumlah berangkat. Layaknya orang yang telah sering kali berhadapan dengan penumpang yang panik. Tetap dengan tutur yang santun kakak petugas merujukku ke loket penerbangan yang bersangkutan sekaligus meminta-ku agar segera kesana, supaya dapat dibantu untuk keberangkatan dengan pesawat berikutnya. 

Ada sepuluh orang yang berbaris rapi di depan loket yang sama denganku. Setelah menyerahkan tiket-ku pada petugas dan memintanya agar aku bisa ikut di penerbangan berikutnya termasuk menyesuaikan jadwal penerbangan-ku. Aku melirik Bapak yang menggerutu sedari ia datang; bahwa gara-gara harus mengantar seorang penumpang di terminal-3, membuat bus harus menunggu portal dibuka untuk beberapa lama karena harus mencari sang petugas jaga yang entah pergi kemana, akhirnya mengakibatkan rentetan kejadian yakni dirinya terlambat. Seperti yang kuduga Bapak yang memakai setelan safari rapi tersebut satu bus denganku yakni DAMRI jurusan Blok-M - Bandara Soekarno-Hatta.  

Kejadian non teknis seperti yang kualami, sebetulnya bisa dihindari jika aku tidak terlalu percaya diri untuk berangkat dengan range waktu yang mepet. Daripada protes yang jelas-jelas bukan sepenuhnya kesalahan alat transportasi atau akibat aturan ketat penerbangan, aku memilih diam menunggu dengan sabar di depan loket. 

Sejenak aku memejamkan mata, terlintas bagaimana teman-teman yang berencana melakukan perjalanan untuk ‘explore Medan” memutuskan batal di dua minggu terakhir, sementara tiket sudah ku-issued dan ijin cuti-pun telah disetujui. Kemudian disusul kekhawatiran dua sahabatku, akan tekadku untuk tetap melakukan perjalanan apabila harus solo trip turut membuat perasaanku gamang. Namun tepat disaat petugas menyerahkan perubahan tiket, aku sudah pulih dengan semangatku. Kutarik nafas dalam-dalam sambil berdoa, semoga tujuh hari perjalananku akan lancar.

Toba Di ketinggian

Lagu rayuan pulau kelapa yang mengalun lirih bagai lagu terapi penenang jiwa yang mengantarku pada lamunan tentang jernihnya air yang terhempas di garis batas daratan, sejuknya udara yang sepoi-sepoi dan birunya langit yang berhias arak-arakan awan putih benar-benar melenakanku. Kusadari sepenuhnya, aku sedang menuju salah satu zamrud nusantara, aku tersenyum, tulus bersama jiwaku. 

MENGIKUTI JEJAK PENAMBANG BELERANG


Kawah Ijen – Bondowoso – Jawa Timur
8 November, 2011


Oleh Wedhya Wardani
Bersama Dhesi Gembira dan Irwan Perkasa
Terimakasih banyak pada Bpk Mutaqin yang mengijinkan kami menyertai hingga ke sumber belerang

            Dari arah terminal Sasak Perot-Banyuwangi, kami bertiga dengan berkendara motor menuju ke arah barat kota Banyuwangi. Sampai di pertigaan patung barong, aku berhenti sebentar, diikuti Irwan yang berboncengan dengan Dhesi. Saat kutanyakan mau ambil jalan lurus atau belok kiri, mereka memintaku untuk memutuskannya. Sekali ayun aku menutup helm-ku dan menarik gas. Motorku melaju lurus, yakni arah desa wisata osing. Walau jalannya tidak terlalu lebar dan banyak tikungan tajam, aku menyukai jalur ini. Selain masih banyak sawah yang hijau membentang, jalur ini lebih teduh karena terdapat kawasan perkebunan peninggalan masa kolonial Belanda. Di perkebunan Kalibendo ini bisa dijumpai; pohon karet, cengkeh dan tanaman kopi yang tumbuh berbanjar-banjar, rapih dan sangat terawat baik

Keluar dari wilayah perkebunan Kalibendo, Kami memasuki daerah perkampungan yang masih jarang. Aku mengurangi sedikit kecepatan saat melintasi buah kopi yang terhampar di tengah jalan. Hal ini sengaja dilakukan oleh warga sekitar perkebunan sebagai cara efektif untuk mengeringkan buah kopi sekaligus untuk memecah kulit kopi dengan memanfaatkan kendaraan yang lewat. Walau demikian, apabila memungkinkan aku lebih suka menghindar atau tidak melindas hamparan kopi tersebut. Karena rasanya seperti melaju di jalan berkerikil. Kecuali berkendara dengan mobil, tentu dengan senang hati melakukannya.  

Tepat di desa Jambu, kami langsung belok ke kanan. Saat melewati pos jaga perkebunan, aku sengaja melambatkan motorku. Begitu kulihat seorang penjaga berdiri, aku melambai sambil menunjuk ke arah tujuan kami. Sang petugas melambai, sambil berteriak, “hati-hati jalurnya rusak!”. Aku tersenyum, menyakinkan padanya bahwa kami akan baik-baik saja.

Selasa, 24 Juli 2012

Semalam di Belitung

29-30 Oktober, 2011
Terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan kepada;
Harianto, Iqbal, Dektina S, Maria U, Nofe I,  Dita A, Ramses, dan Alfa.

Oleh: Wedhya Wardani

Lima belas menit sebelum pesawat yang kami naiki mendarat di bandar udara tujuan, aku melepaskan semua rasa penasaranku yang tidak tertahankan pada daratan yang terbentang di bawah. Landai berwarna hijau dengan gradasi yang menyegarkan penglihatan, sementara di beberapa tempat berwarna putih kebiru-biruan. Aku mengira-ngira mungkin itu lubang-lubang bekas penggalian tambang yang telah ditinggalkan sebagaimana cerita-cerita yang kudengar selama ini dan sekarang lebih dikenal dengan nama danau kaolin.
Aku tegakkan kembali posisi dudukku saat sang pilot memberitahu bahwa pesawat pada posisi siap mendarat. Kulirik Nofe yang untuk kali pertama ‘nge-trip’ bersama kami. Ia masih tenggelam dalam musik yang didengarnya lewat ‘earphone’. Ia sangat bergantung pada benda tersebut untuk mengurangi efek dengung di telinganya. Sebaliknya Mery sibuk mencari pramugari guna memesan lampu pengganti lilin, yang dirasa olehnya sangat berguna saat berkemah nanti. Walau masing-masing dari kami sudah membawa lampu senter, Ia tetap kekeh untuk membeli lampu tersebut. Sementara itu Dektina yang duduk terpisah dari kami bertiga menemukan teman mengobrol selama perjalanan. 
   
Sedikit terlambat dari jadwal, kami tiba di bandar udara H. As. Hanandjoedin Tanjung Pandan. Setelah mengambil barang-barang dari bagasi, buru-buru kami menjumpai seorang teman yang sudah menanti. Hari yang merupakan putra daerah Belitung akan menjadi tour guide kami. Selanjutnya kami berempat digiring ke halaman parkir dimana mobil yang kami sewa seharga Rp. 250.000,- per hari (note: harga tersebut belum termasuk sopir) telah siap mengantar berkeliling.

Mobil yang kami kendarai meluncur dengan lancar di jalanan kota yang terlihat sepi bila dibading Jakarta tentunya. Setelah melewati beberapa perempatan, kami tiba di kedai Telapak untuk menjemput Iqbal yang datang ke Belitung sehari sebelumnya  dan 3 orang teman Belitung lainnya Dita, Ramses, Alfa yang akan bergabung dengan kami.      

Sementara yang lain mempersiapkan berbagai hal berikut menata barang-barang bawaan ke dalam mobil, aku dan Nofe berjalan ke arah Rumah Adat Belitung yang tidak jauh dari kedai Telapak. Keberadaan Rumah Adat Belitung sendiri masih relatif baru, hal ini  terlihat pada batu peresmiaannya tertanggal 30 Juni 2009.

Rabu, 18 Juli 2012

TERSESAT DI PULAU SERIBU


Oleh: Wedhya Wardani
Perjalanan bersama: Thawfiqa Tsulutsiah (FIQA) dan Wahid Taufa Widhi(TOFA)
Jakarta, Juni 2011
 
Perjalanan dimulai dengan perburuan untuk mendapatkan tiket kapal yang menurut informasi terakhir, kapal tipe kerapu yang disediakan oleh Dinas Perhubungan hanya mampu menampung 20 orang berikut jadwal keberangkatan yang harusnya dua kali dalam sehari menjadi hanya satu kali beroperasi karena alasan teknis “dalam perawatan” alias “rusak”. Kami tiba di Marina Ancol sekitar jam empat shubuh. Dan kami sangat terkejut saat mengetahui bahwa antrian menuju pulau Tidung yang terkenal dengan jembatan cintanya itu telah sampai di antrian ke-20, atau dengan kata lain kami diurutan ke-21 dan seterusnya.
            Walau demikian kami tetap turut mengantri,  dengan harapan petugas akan bersimpati pada keteguhan dan usaha keras kami. Selain itu informasi dari salah seorang pengantri yang menurut pengakuannya adalah penduduk di pulau tidung yakni kemungkinan pihak pengelola menambah kapal yang menuju kepulau tersebut, menguatkan kami untuk tidak hengkang dari jajaran para pengantri. 
Persis pukul enam pagi tidak kurang ataupun lewat, pintu loket dibuka. Satu persatu mengikuti antrian, orang-orang membeli tiket sambil menyodorkan KTP kepada petugas untuk dicatat namanya. Tepat giliranku, petugas berseragam putih terseyum, sambil mengatakan tiket habis dan loket ditutup. Padahal dibelakangku masih ada lebih dari 20 orang yang antri mulai dari sebelum matahari menyilaukan permukaan pantai.
           Kami menepi dengan tidak rela, jika perjalanan kami akan gagal hanya gara-gara tidak adanya tiket. Seorang calon penumpang yang juga tidak kebagian tiket menyapa dan menawari kami untuk naik Kapal Predator. Yakni sebutan untuk kapal dengan kecepatan tinggi (speed boat) yang dikelola oleh swasta. Namun yang membuat kami enggan adalah harga tiket per orang sebesar Rp. 200.000,- untuk satu kali jalan. Disaat itulah satu ide muncul dengan amat sangat briliant. Kami akan membeli tiket kapal kerapu dengan tujuan pulau manapun, dan dari sana kami akan menyewa kapal untuk menuju Tidung. Kamipun sepakat dengan cepat. Sementara orang-orang masih bingung menentukan pilihan, kami telah lari ke loket yang berada disebelah. Ternyata perjuangan kami tidak sia-sia, tersisa tiga tiket menuju pulau Kelapa. Kami segera membayar harga tiket sebesar Rp. 32.000,- per orang yang sudah termasuk biaya asuransi.

       Segera kami mengangkat ransel yang tergeletak di pelataran loket, menuju dermaga-21 tempat pemberangkatan. Disana seorang petugas telah siap dengan corong pengeras suara memanggil nama penumpang satu demi satu. Dengan tertib pula setiap penumpang maju dan masuk ke dalam kapal. Sungguh pengalaman yang unik, karena untuk naik pesawat saja tidak sampai seketat yang diterapkan untuk penumpang kapal kerapu. 
           Semua penumpang telah duduk ditempat masing-masing, termasuk diriku yang duduk paling depan. Selanjutnya salah seorang awak kapal berdiri disamping kemudi dan lagi-lagi ia mendata seluruh nama para penumpang. Kami mengangkat telunjuk dengan bangga. Selanjutnya kru kapal menerangkan aturan yang berlaku selama pelayaran, serta menunjukkan pelampung yang terletak di bawah bangku masing-masing penumpang. Dan sebagai penutup ia membagikan satu paket cemilan yang berisi snack dan minuman gelas kepada masing-masing penumpang.  
            Begitu kapten kapal bergabung bersama kami pintu kapal segera ditutup. Sang kapten memberi salam dibarengi senyum ramah, kemudian iapun duduk dikursi kehormatan dengan gagah.  Dengan percaya diri Ia memutar kunci, mirip orang darat yang menghidupkan mesin mobil. Selanjutnya ia mulai sibuk mengemudikan badan kapal yang bergerak dengan lembut diatas perairan.  Meninggalkan dermaga menuju lautan.