29-30 Oktober,
2011
Terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan kepada;
Terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan kepada;
Harianto, Iqbal, Dektina S, Maria U, Nofe I, Dita A, Ramses, dan Alfa.
Oleh:
Wedhya Wardani
Lima belas menit sebelum pesawat yang kami naiki
mendarat di bandar udara tujuan, aku melepaskan semua rasa penasaranku yang
tidak tertahankan pada daratan yang terbentang di bawah.
Landai berwarna
hijau dengan gradasi yang menyegarkan penglihatan, sementara di beberapa
tempat berwarna
putih kebiru-biruan. Aku mengira-ngira mungkin itu lubang-lubang bekas penggalian tambang
yang telah
ditinggalkan sebagaimana cerita-cerita yang kudengar selama ini dan sekarang lebih dikenal dengan nama danau kaolin.
Aku tegakkan kembali posisi dudukku saat sang pilot memberitahu bahwa pesawat pada posisi siap mendarat.
Kulirik Nofe yang untuk kali pertama ‘nge-trip’
bersama kami. Ia masih tenggelam dalam musik yang didengarnya lewat ‘earphone’. Ia sangat bergantung pada
benda tersebut untuk mengurangi efek dengung di telinganya. Sebaliknya Mery
sibuk mencari pramugari guna memesan lampu pengganti lilin, yang dirasa olehnya
sangat berguna saat berkemah nanti. Walau masing-masing dari kami sudah membawa
lampu senter, Ia tetap kekeh untuk membeli lampu tersebut. Sementara itu
Dektina yang duduk terpisah dari kami bertiga menemukan teman mengobrol selama
perjalanan.
Sedikit
terlambat dari jadwal, kami tiba di bandar udara H. As. Hanandjoedin Tanjung Pandan. Setelah mengambil barang-barang dari bagasi, buru-buru kami
menjumpai seorang teman yang sudah menanti. Hari yang merupakan putra daerah Belitung
akan menjadi tour guide kami. Selanjutnya
kami berempat digiring ke halaman parkir dimana mobil yang kami sewa seharga
Rp. 250.000,- per hari (note: harga tersebut belum termasuk sopir) telah siap
mengantar berkeliling.
Mobil yang
kami kendarai meluncur dengan lancar di jalanan kota yang terlihat sepi bila
dibading Jakarta tentunya. Setelah melewati beberapa perempatan, kami tiba di
kedai Telapak untuk menjemput Iqbal yang datang ke Belitung sehari
sebelumnya dan 3 orang teman Belitung
lainnya Dita, Ramses, Alfa yang akan bergabung dengan kami.
Sementara yang lain mempersiapkan
berbagai hal berikut menata barang-barang bawaan ke dalam mobil, aku dan Nofe
berjalan ke arah Rumah Adat Belitung yang tidak jauh dari kedai Telapak.
Keberadaan Rumah Adat Belitung sendiri masih relatif baru, hal ini terlihat pada batu peresmiaannya tertanggal
30 Juni 2009.
Tertarik
dengan ornamen yang ada, kami terusik ingin tahu lebih banyak, akan tetapi baru
saja kami hendak membuka sepatu untuk memasuki rumah adat, suara klakson mobil
yang berisi teman-teman kami sudah menanti di seberang jalan. Menyadari waktu
yang terbatas, aku dan Nofe bergegas menjumpai mereka. Tapi andaikata rekan-rekan
sempat berkunjung ke Rumah Adat Belitung, sempatkanlah masuk dan mencoba
memakai pakaian adat yang ada, lalu bergaya ala orang melayu dengan rumah
panggungnya. Pasti keren!!!
Mobil meluncur diatas jalan aspal yang mulus menuju tujuan
pertama yakni sungai Batu Mentas di desa
Kelekak Datuk kecamatan Badau. Setelah +/- 30 menit mobil berbelok memasuki
jalan beraspal tipis dimana di sebelah kanan terhampar kebun nanas sedangkan di
sebelah kiri pohon-pohon lada berdaun hijau muda berderet-deret rapi, persis di
ujung jalan mobil berhenti. Kami-pun turun dan membawa perlengkapan seperlunya.
Selanjutnya untuk menuju lokasi harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15
menit sedikit mendaki di jalan tanah merah yang bertabur bulir-bulir kerikil
berwarna putih susu. Selain kebun nanas dan lada, di lokasi ini juga terdapat
budidaya lebah madu.
Tiba di
lokasi Batu Mentas, Ramses, Alfa dan Iqbal menuju ke arah hulu dimana terdapat
batu pipih yang menghalang aliran sungai. Disitu mereka berganti pakaian dan
langsung menjeburkan diri ke dalam air -- belakangan kami tahu jika ternyata Iqbal
terpeleset dan kejebur. Sementara Dita diikuti Dektina, Mery dan Aku menyusur
aliran sungai ke arah hilir, dimana terdapat terjunan air yang sering digunakan
foto untuk acara ‘pre-wedding’. Sedangkan Nofe yang menolak untuk mandi, duduk dengan
santai diatas batu gunung berwarna gelap yang mencuat diantara aliran air
sungai yang jernih. Dan sang fotografer ‘Hari’ berpindah-pindah guna membidik
setiap aksi kami.
12:25 Wib Kami bertolak dari Batu Mentas menuju pantai
Tanjung Tinggi yang merupakan tempat syuting film ‘Laskar Pelangi’ yang
diangkat dari novel berjudul sama karya ‘Andrea Hirata’. Kira-kira satu jam
setengah kami baru tiba di pantai berpasir putih yang lembut dengan laut
berwarna biru kehijau-hijauan. Keindahan alam memang sangat memikat tapi alarm
dari perut kami sudah memberi tanda dari dua jam yang lalu minta diisi.
Kami
bersembilan menuju ke salah satu warung makan yang ada di sepanjang pantai. Setelah
memesan dan menunggu dengan teramat sabar, ikan bakar dan tumis kangkung keluar
dengan aroma yang menggoda, lalu disusul dengan sajian khusus khas Belitung
‘Gangan’ yakni sup ikan ketarap yang dibumbui kunyit, cabe dan potongan nanas.
Setelah tenaga kami pulih, kami segera menyusuri pantai Tanjung Tinggi, bermain dengan deburan ombaknya, berlari-lari kecil digaris pantai dan berfoto diatara batu-batu granit berukuran raksasa. Andai waktu tidak membatasi, tentu kami kian terlena oleh kecantikan alam yang terhampar di depan mata.
16:00 Wib kami memutuskan segera berkemas dan menuju pantai Tanjung Kelayang. Pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang hanya berjarak tempuh sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor. Di pantai ini kami menghabiskan sunset sambil mempersiapkan segala sesuatu diantaranya memindahkan barang-barang dan perbekalan ke atas perahu yang akan membawa kami ke pulau Kepayang (pulau Babi).
Bersama lungsurnya cahaya matahari ke tempat istirahatnya, perahu yang kami naiki bertolak dari pantai Tanjung Kelayang. Harga sewa perahu Rp. 350.000,- dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang. Walau saat itu musim alun (ombak) sebagaimana dijelaskan oleh tukang perahu, kami bersyukur selama pelayaran laut relatif tenang dan setelah sepuluh menit berlayar kami tiba di pulau Kepayang.
Mengikuti petunjuk Ramses, kami mengambil sejumput pasir saat kaki kami menjejak di bibir pulau dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing agar tidak mendapat gangguan selama berada di pulau tersebut. Dita yang tidak ikut berkemah kembali ke Tanjung Kelayang bersama perahu yang membawa kami tadi. Selanjutnya kami berdelapan berjalan beriringan menembus ilalang dan bayangan pohon-pohon yang merunduk menuju gelap. Kami berjalan tanpa suara, hanya langkah kaki dan dengus nafas kami yang memburu bersama siulan angin pantai. Kami baru berkata-kata ketika telah tiba dan berada di kawasan perkemahan.
Sementara yang lain istirahat sejenak, aku bersama Hari dan Ramses berkeliling mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Tapi apabila tidak mau susah membawa kantong tidur dan matrass sendiri seperti kami, di pulau Kepayang terdapat Bungalow yang disewakan seharga Rp. 350.000,- dan Cottage Rp. 250.000,- dengan fasilitas makan pagi untuk 2 orang, jika butuh extra bed dikenai tambahan Rp. 50.000,- sudah termasuk makan pagi. Juga terdapat Barak yang mampu menampung 10 orang dengan biaya Rp. 60.000,- per orang termasuk sarapan paginya.
Begitu tenda telah berdiri, Iqbal segera mengatur mattras dan kantong tidur para perempuan. Sedang para pria tidur di luar tenda untuk berjaga-jaga. Selanjutnya secara bergantian kami membersihkan diri di kamar mandi umum yang terdapat di pulau tersebut. Yang membuat aku terkesima adalah air di pulau Kepayang sangat jernih dan tidak payau sebagaimana umumnya pulau-pualu kecil atau daerah yang berada di dekat pantai. Puas mengguyur badan dengan air yang segar, aku berbenah dan sholat. Setelah itu aku segera bergabung dengan teman-teman yang telah lebih dahulu menyantap makan malam mereka dengan lahap. Untunglah aku masih kebagian ikan ‘Babulus’ yang terkenal gurih dan bertulang lunak.
Selesai
makan, kami berkumpul dan bernyanyi diiringi petikan gitar dari jari-jari Hari
yang terampil. Sampai kami tidak merasa apabila malam sudah sampai di pukul
sepuluh, dimana generator yang merupakan satu-satunya pembangkit listrik di padamkan.
Keadaan pulau menjadi sangat gulita, hanya lampu suar yang terlihat
dikejauahan. Padahal kami belum benar-benar mengantuk, akhirnya kami menyusuri
pantai yang surut. Kata Ramses apabila kami beruntung, kami bisa bertemu dengan
penyu yang akan bertelur. Mengingat pulau Kepayang adalah tempat
penangkaran penyu sisik.
Kami terus berjalan dan sampai di depan batu yang menyerupai sanggul (konde jawa). Lalu kami terangi batu tersebut dengan lampu senter, batunya berpendar memantulkan cahaya. Jika dilihat lebih teliti batu tersebut ternyata tersusun dari pecahan kristal-kristal granit yang unik.
Tidak jauh dari batu sanggul, terdapat batu lain yang permukaannya datar, aku merebahkan tubuhku diatas batu tersebut diikuti teman-temanku yang lain. Sambil melepaskan pandangan ke langit dimana berjuta bintang bertabur, kami bertaruh untuk menemukan satu rasi bintang. Lebih dari itu salah satu dari kami nyeletuk, “Semoga bisa menemukan bintang jatuh, sehingga bisa membuat satu permohonan” yang selanjutnya diikuti derai tawa.
Merasa mulai mengantuk aku mengajak teman-teman untuk kembali ke perkemahan. Sesampainya di depan tenda aku langsung masuk dan merebahkan badanku yang terasa lelah sekali. Kami tidur berjajar diatas kantung tidur masing-masing. Sambil membaca doa sebelum tidur, aku memandang lampu dari mercusuar diseberang pulau. Berkedip-kedip menghantarku menuju perjalanan yang lebih indah. Aku terlelap.
Setelah tenaga kami pulih, kami segera menyusuri pantai Tanjung Tinggi, bermain dengan deburan ombaknya, berlari-lari kecil digaris pantai dan berfoto diatara batu-batu granit berukuran raksasa. Andai waktu tidak membatasi, tentu kami kian terlena oleh kecantikan alam yang terhampar di depan mata.
16:00 Wib kami memutuskan segera berkemas dan menuju pantai Tanjung Kelayang. Pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang hanya berjarak tempuh sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor. Di pantai ini kami menghabiskan sunset sambil mempersiapkan segala sesuatu diantaranya memindahkan barang-barang dan perbekalan ke atas perahu yang akan membawa kami ke pulau Kepayang (pulau Babi).
Bersama lungsurnya cahaya matahari ke tempat istirahatnya, perahu yang kami naiki bertolak dari pantai Tanjung Kelayang. Harga sewa perahu Rp. 350.000,- dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang. Walau saat itu musim alun (ombak) sebagaimana dijelaskan oleh tukang perahu, kami bersyukur selama pelayaran laut relatif tenang dan setelah sepuluh menit berlayar kami tiba di pulau Kepayang.
Mengikuti petunjuk Ramses, kami mengambil sejumput pasir saat kaki kami menjejak di bibir pulau dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing agar tidak mendapat gangguan selama berada di pulau tersebut. Dita yang tidak ikut berkemah kembali ke Tanjung Kelayang bersama perahu yang membawa kami tadi. Selanjutnya kami berdelapan berjalan beriringan menembus ilalang dan bayangan pohon-pohon yang merunduk menuju gelap. Kami berjalan tanpa suara, hanya langkah kaki dan dengus nafas kami yang memburu bersama siulan angin pantai. Kami baru berkata-kata ketika telah tiba dan berada di kawasan perkemahan.
Sementara yang lain istirahat sejenak, aku bersama Hari dan Ramses berkeliling mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Tapi apabila tidak mau susah membawa kantong tidur dan matrass sendiri seperti kami, di pulau Kepayang terdapat Bungalow yang disewakan seharga Rp. 350.000,- dan Cottage Rp. 250.000,- dengan fasilitas makan pagi untuk 2 orang, jika butuh extra bed dikenai tambahan Rp. 50.000,- sudah termasuk makan pagi. Juga terdapat Barak yang mampu menampung 10 orang dengan biaya Rp. 60.000,- per orang termasuk sarapan paginya.
Begitu tenda telah berdiri, Iqbal segera mengatur mattras dan kantong tidur para perempuan. Sedang para pria tidur di luar tenda untuk berjaga-jaga. Selanjutnya secara bergantian kami membersihkan diri di kamar mandi umum yang terdapat di pulau tersebut. Yang membuat aku terkesima adalah air di pulau Kepayang sangat jernih dan tidak payau sebagaimana umumnya pulau-pualu kecil atau daerah yang berada di dekat pantai. Puas mengguyur badan dengan air yang segar, aku berbenah dan sholat. Setelah itu aku segera bergabung dengan teman-teman yang telah lebih dahulu menyantap makan malam mereka dengan lahap. Untunglah aku masih kebagian ikan ‘Babulus’ yang terkenal gurih dan bertulang lunak.
Selesai
makan, kami berkumpul dan bernyanyi diiringi petikan gitar dari jari-jari Hari
yang terampil. Sampai kami tidak merasa apabila malam sudah sampai di pukul
sepuluh, dimana generator yang merupakan satu-satunya pembangkit listrik di padamkan.
Keadaan pulau menjadi sangat gulita, hanya lampu suar yang terlihat
dikejauahan. Padahal kami belum benar-benar mengantuk, akhirnya kami menyusuri
pantai yang surut. Kata Ramses apabila kami beruntung, kami bisa bertemu dengan
penyu yang akan bertelur. Mengingat pulau Kepayang adalah tempat
penangkaran penyu sisik.Kami terus berjalan dan sampai di depan batu yang menyerupai sanggul (konde jawa). Lalu kami terangi batu tersebut dengan lampu senter, batunya berpendar memantulkan cahaya. Jika dilihat lebih teliti batu tersebut ternyata tersusun dari pecahan kristal-kristal granit yang unik.
Tidak jauh dari batu sanggul, terdapat batu lain yang permukaannya datar, aku merebahkan tubuhku diatas batu tersebut diikuti teman-temanku yang lain. Sambil melepaskan pandangan ke langit dimana berjuta bintang bertabur, kami bertaruh untuk menemukan satu rasi bintang. Lebih dari itu salah satu dari kami nyeletuk, “Semoga bisa menemukan bintang jatuh, sehingga bisa membuat satu permohonan” yang selanjutnya diikuti derai tawa.
Merasa mulai mengantuk aku mengajak teman-teman untuk kembali ke perkemahan. Sesampainya di depan tenda aku langsung masuk dan merebahkan badanku yang terasa lelah sekali. Kami tidur berjajar diatas kantung tidur masing-masing. Sambil membaca doa sebelum tidur, aku memandang lampu dari mercusuar diseberang pulau. Berkedip-kedip menghantarku menuju perjalanan yang lebih indah. Aku terlelap.
-^^-
Aku terbangun untuk yang ketiga kalinya saat Nofe bertanya, “apakah hujan turun? Sejak semalam aku mendengar suara air,” tuturnya polos. Kiranya ia lupa jika saat ini sedang berkemah dan tidur di pinggir pantai. Dan suara air yang semakin jelas terdengar itu karena air laut dalam keadaan pasang.
Aku terbangun untuk yang ketiga kalinya saat Nofe bertanya, “apakah hujan turun? Sejak semalam aku mendengar suara air,” tuturnya polos. Kiranya ia lupa jika saat ini sedang berkemah dan tidur di pinggir pantai. Dan suara air yang semakin jelas terdengar itu karena air laut dalam keadaan pasang.

Selesai sholat
shubuh, kami segera menjemput sang fajar dengan suka cita. Matahari masih
merangkak lamban, namun cahayanya yang berpendar telah menyirami kami dengan
gradasi warna yang menakjubkan. Meneteskan embun diujung rumput dan dedaunan.
Juga menyingkirkan bayangan bunga-bunga pohon ketapang yang jatuh semalam dari
tangkainya sehingga terlihat anggun meski tersuruk diatas akar-akar pohon yang
mencuat dari tanah.
Persis di
belakang Bungalow terdapat tempat penangkaran penyu sisik. Binatang bercangkang
yang mempunyai empat kaki dan mampu hidup di darat dan laut itu berenang di
dalam kolam-kolam kecil tempat mereka dirawat dan dijaga sebelum dilepas ke
habitat aslinya. Selesai mengamati dan memfoto para tukik (anak penyu) kami
kembali ke perkemahan.
Ramses
yang merupakan koki andalan kedai Telapak segera menyiapkan sarapan pagi buat
kami, dan Iqbal menggulung kantung tidur dan matrass bersama Hari. Nofe
membersihkan kerang-kerang yang dipungutnya di pantai. Mery dan Tina pergi
mandi dan berganti pakaian, sedang aku mencoba permainan outbond. Merangkak
diatas jaring-jaring mirip manusia laba-laba, cukup menantang dan menguras
tenaga. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, banyak hal yang bisa
dilakukan di pulau Kepayang seperti berkano, snorkle dan diving, lengkap dengan
peralatan dan pemandu yang professional.
Selesai
sarapan mie goreng, kami segera berkemas menanti Dita bersama perahunya yang
akan mengantar kami berkeliling mengunjungi pulau-pulau disekitar Belitung. Satu
jam terlambat dari jadwal yang ada, jam 08:30 Wib akhirnya kami berangkat
menuju Pulau Lengkuas. Hanya
butuh waktu 15 menit kami sudah merapat di pulau Lengkuas. Aku mendongakkan
kepala, menatap mercusuar peninggalan masa penjajahan Belanda yang masih
berdiri kokoh menjulang ke angkasa. Mercusuar di pulau Lengkuas tersebut
dibangun pada tahun 1882 dan saat ini masuk dalam distrik navigasi Tanjung
Priok (DSI 1880) Ditjen Perhubungan Laut – Departemen Perhubungan.
Setelah
puas berfoto-foto, kami kembali ke kapal dan masih di perairan sekitar pulau
Lengkuas kami bersiap-siap untuk melihat keindahan bawah laut. Selanjutnya satu
demi satu masuk ke dalam air, pada saat aku mencelupkan kepala dan membiarkan
pandanganku liar menyapu lautan; trumbu karang yang subur menghias dasar lautan.
Ada pula trumbu yang mirip bunga mawar berwarna merah menyala diantara kelopaknya
yang besar-besar ikan-ikan beraneka warna berenang diantaranya. Ikan Badut (amphiprion ocellaris) juga terlihat
malu-malu diantara anemonnya. Sementara kami terpesona oleh keindahan bawah
laut, Nofe yang tidak mau ikut snorkle
terlihat asyik memberi makan ikan dengan remah-remah roti.
Sengatan
matahari semakin terik membakar, kala kami memulai perjalanan menuju pulau
burung. Letaknya 30 menit dari pulau Lengkuas. Kami merapat di pulau burung dan
mengambil foto batu burung. Kapal kembali berlayar menuju Batu Berlayar. Mengingat
laut sedang pasang kami tidak bisa melihat keelokan Batu Berlayar yang
sesungguhnya, sangat disayangkan.
Sebelum
mencapai pantai Tanjung Kelayang, kami melewati batu Garuda. Kami berdecak
kagum sambil mengabadikannya pada camera masing-masing. 11:30 Wib perahu
merapat di pantai Tanjung Kelayang. Begitu kami turun, kami langsung digiring
kesalah satu rumah makan yang ada. Secara bergantian kami bergegas mandi dan
bertukar pakaian. Selanjutnya kami makan siang; menu laut tetap mendominasi,
cumi, udang, dan sup ikan ketarap telah siap untuk disantap.
13:30 Wib
kami meninggalkan pantai Tanjung Kelayang menuju kedai Telapak untuk menurunkan
barang-barang, lalu berlanjut ke pantai Tanjung Pendam guna mencari souvenir dan oleh-oleh. Pantai Tanjung Pendam merupakan taman hiburan
bagi penduduk Belitung, disana terdapat kios-kios yang menawarkan oleh-oleh ala
Belitung yang bisa dibawa pulang dengan harga terjangkau. Kami mampir kesalah
satu kios souvenir, dan masing-masing
dari kami mendapat satu kaos hitam bertuliskan ‘BELITUNG’.
Selesai
sholat ashar, kami bergegas meninggalkan pantai Tanjung Pendam dan langsung
meluncur ke arah bandara. 15:00 Wib kami tiba di Bandara, setelah berpamitan
dengan Hari, Dita, Ramses dan Alfa kami segera masuk untuk ‘check in’ pesawat. Sedang Iqbal akan kembali
ke Jakarta esok harinya, dengan penerbangan pertama.
Sementara Kru pesawat yang terdiri atas wanita-wanita anggun tengah menerangkan alat-alat keselamatan sebelum penerbangan. Seperti sebelumnya Nofe yang duduk di pinggir mengeluarkan earphone dan segera membenamkan alat tersebut ke dalam telinganya. Diseberang Nofe, Mery sudah memejamkan mata, istirahat akan memulihkan kekuatannya yang terkuras selama perjalanan. Sedang Dektina yang duduk diantara aku dan Nofe masih asyik melihat hasil foto-foto dari kameraku. Sesekali aku turut berkomentar atas hasil foto tersebut. Dan ketika pesawat mulai take off, Tina mematikan kamera dan mengembalikannya padaku. Ia-pun membenamkan tubuhnya di sandaran kursi dan berusaha untuk mengistirahatkan badannya.
Kugosok jendela
yang berembun dengan telapak tanganku, lalu kulepas pandanganku pada daratan
yang kutinggalkan. Semalam di pulau penghasil timah ini telah memberiku kesan
yang dalam. ‘See you the beuty Belitong’
-^^-
Catatan Penulis
- Untuk menghemat waktu, kami menggunakan penerbangan paling pagi dan pulang dengan penerbangan paling akhir. Sebab ini adalah salah-satu trik untuk memangkas biaya penginapan.
- Keputusan sewa mobil diambil dengan pertimbangan efisiensi waktu dan tidak ada angkutan umum yang menuju tempat-tempat yang kami tuju.
- Membuat itiniary sebelum melakukan perjalanan sangat penting, agar lebih terarah dan tidak membuang waktu dengan percuma.
- Jaga sikap, tidak sombong/arogan dan tetap bersopan santun walau berada di pulau tidak berpenghuni.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar