Kawah Ijen
– Bondowoso – Jawa Timur
8 November, 2011
Oleh Wedhya Wardani
Bersama Dhesi Gembira dan Irwan Perkasa
Terimakasih banyak pada Bpk Mutaqin yang mengijinkan kami menyertai hingga ke sumber belerang
Dari
arah terminal Sasak Perot-Banyuwangi, kami bertiga dengan
berkendara motor menuju ke arah barat kota Banyuwangi. Sampai di pertigaan patung
barong, aku berhenti sebentar, diikuti Irwan yang berboncengan dengan Dhesi.
Saat kutanyakan mau ambil jalan lurus atau belok kiri, mereka memintaku untuk
memutuskannya. Sekali ayun aku menutup
helm-ku dan menarik gas. Motorku melaju lurus,
yakni arah desa wisata osing. Walau jalannya tidak terlalu lebar dan banyak
tikungan tajam, aku menyukai jalur ini. Selain masih banyak sawah yang hijau
membentang, jalur ini lebih teduh karena terdapat kawasan perkebunan peninggalan masa kolonial Belanda. Di perkebunan Kalibendo
ini bisa dijumpai; pohon karet, cengkeh dan tanaman kopi yang tumbuh berbanjar-banjar, rapih dan sangat terawat baik.
Keluar dari wilayah perkebunan Kalibendo,
Kami memasuki daerah perkampungan yang masih jarang. Aku mengurangi sedikit
kecepatan saat melintasi buah kopi yang terhampar di tengah jalan. Hal ini sengaja
dilakukan oleh warga sekitar perkebunan sebagai cara efektif untuk mengeringkan
buah kopi sekaligus untuk memecah kulit kopi dengan memanfaatkan kendaraan yang
lewat. Walau demikian, apabila memungkinkan aku lebih suka menghindar atau
tidak melindas hamparan kopi tersebut. Karena rasanya seperti melaju di jalan
berkerikil. Kecuali berkendara dengan mobil, tentu dengan senang hati
melakukannya.
Tepat di desa Jambu, kami langsung belok ke
kanan. Saat melewati pos jaga perkebunan, aku sengaja melambatkan motorku.
Begitu kulihat seorang penjaga berdiri, aku melambai sambil menunjuk ke arah
tujuan kami. Sang petugas melambai, sambil berteriak, “hati-hati jalurnya
rusak!”. Aku tersenyum, menyakinkan padanya bahwa kami akan baik-baik saja.
Aku terus meluncur di jalan beraspal tipis
berpagar pohon cengkeh yang menjulang ke langit, sementara Irwan dan Dhesi yang
berboncengan terus mengekor di belakangku. Jalan masih relatif landai, dengan
beberapa belokan yang halus. Disepanjang jalan aku menjumpai pegawai perkebunan
yang menyiangi rumput.
Dikawasan ini juga terdapat budidaya lebah
madu. Dari arah jalan kita langsung bisa melihat kotak-kotak kayu yang
merupakan rumah lebah. Ditempatkan berkelompok-kelompok, menyebar diantara
tanaman yang ada di kawasan perkebunan. Sehingga madu yang dihasilkan oleh para
lebah bervariasi baik dalam rasa, warna, kepekatan dan khasiatnya; misalkan
yang diletakkan di areal tanaman kopi maka madunya berwarna sedikit hitam dan
berasa kopi.
Setelah melewati turunan yang tajam, kami
memasuki kawasan hutan tropis. Selain pohon-pohon besar dengan sulur akar
berhias anggrek yang menepel rapat dibatangnya, jajaran pohon palem dengan
daunnya yang lebar berikut beberapa jenis perdu seperti pakis terlihat hijau dan subur di sebelah kanan-kiri jalan. Namun keindahan
tersebut tidak dapat kami nikmati cukup lama, karena semakin masuk hutan, kondisi
jalan semakin rusak. Keadaan ini sangat berbeda dengan beberapa tahun yang
lalu. Jalan hotmix yang dulu kulewati tak kudapati lagi. Kini yang terbentang
adalah bongkahan-bongkahan batu gunung yang mencuat tak karuan, sangat
mengerikan serta membuatku ragu untuk melanjutkan perjalanan.
Apalagi ketika kami bertemu seorang sopir yang
mobil pick-up-nya mogok di tengah hutan sana. Pria setengah baya itu memberi
kami informasi bahwa di depan, kerusakan jalan kian parah. Apalagi semalam
turun hujan, selain tanah yang basah membuat jalan menjadi licin, batu-batu
yang dulunya merupakan pondasi jalan tak jarang lepas dari tempatnya saat di
lewati kendaraan. Aku menoleh ke arah Irwan untuk meminta pertimbangannya. Pria
satu-satunya yang menyertai kami ini dengan santainya mengatakan bahwa
perjalanan sudah tanggung, hanya perlu melewati beberapa tanjakan lagi. Sesudah
itu jalan akan landai yakni begitu mendekati pos pengangkutan belerang. Bahkan
ia menyakinkanku, jika nanti aku takut, maka ia akan membawa motor satu persatu
secara bergantian dan menyuruh kami untuk jalan kaki saja.
Dengan suara bulat, kami bertiga sepakat
untuk melanjutkan perjalanan. Satu tanjakan berikutnya berhasil aku lewati
dengan sangat berani. Akan tetapi ditanjakan berikutnya, dengan kemiringan
nyaris 70 derajat, aku menyerah. Aku turun dari motor dan menahannya sampai Irwan
berlari menggantikanku. Sementara Irwan membawa motor melewati tanjakan, aku
dan Dhesi berjalan kaki, demikian seterusnya.
Hingga kami bertemu dengan dua orang pegawai
perkebunan yang berboncengan dengan motor tril. Setelah bertegur sapa, juga sedikit
berbincang tentang masalah kami. Akhirnya dengan pertimbangan bahwa kami menuju
ke arah yang sama dan alasan manusiawi yakni menolong seorang wanita. ‘TENTU’. Tanpa
diminta-pun bapak-bapak tersebut akan menawarkan bantuannya untuk membawa
motorku sampai ke atas.
Benar-benar pertolongan disaat yang tepat,
fikirku. Kami-pun segera melanjutkan berjalanan. Walau hanya dibonceng,
terkadang aku ngeri dan apabila turunan atau tanjakannya terlalu curam, aku akan
memilih untuk turun dan berjalan kaki di belakangnya.
Setelah 2.5 jam perjalanan yang penuh
tantangan, akhirnya kami sampai di Paltuding. Paltuding adalah pos jaga yang
berada di kaki gunung Ijen. Sambil beristirahat, aku bertanya pada seorang
petugas, apakah jalur dari Bondowoso relatif lebih bagus. Dengan senyum kecut
beliau bilang bahwa ke dua jalan menuju Ijen sama rusaknya, selain itu jika
pulang ke Banyuwangi lewat arah Bondowoso, maka jarak tempuhnya akan lebih jauh
lagi. Intinya aku harus pulang dengan jalur yang sama. Aku menghela nafas tanpa
berucap.
**
Embun diunjung bunga-bunga rumput telah
menguap bersama nafas-nafas para penambang belerang yang menuruni kaki Ijen. Mereka
yang turun adalah para penambang gelombang pertama. Yang kutahu biasanya mereka
telah mendaki jauh sebelum waktu shubuh. Karena pada saat itu asap dari sumber
belerang dan kabut tidak begitu tebal, sehingga mudah bagi mereka untuk
mengambil bongkahan-bongkahan yang dimuntahkan dari perut bumi tersebut.
Sementara menunggu Dhesi yang melapor berikut
membayar retribusi ke pos jaga dan Irwan yang masih sibuk mengamankan motor,
aku melepas pandanganku pada perbukitan disekitar kaki Ijen. Kunjungan
terakhirku adalah empat tahun silam, saat membawa rombongan teman-teman kantor.
Karenanya dengan semua kerinduan yang terpendam, aku menghirup udara pegunungan
yang sejuk, membiarkan setiap kapiler dalam paru-paruku menyesapnya.
08:00 WIB, kami menapaki jalan setapak
menuju kawah Ijen, yang merupakan jalan satu-satunya yang biasa dilalui oleh
para penambang juga para pendaki. Buru-buru aku menepi, dan berhenti tatkala
berpapasan dengan beberapa penambang yang memanggul keranjang rotan dengan beban
sekitar 70kg hingga 100kg belerang di pundaknya. Yang disusul beberapa wisatawan baik lokal
ataupun asing. Aku tersenyum saat mereka melalui kami. Seorang pemuda berkulit
kemerahan dan berambut keriting membalas dengan memberi salam serta senyum mengembang. Setelah mereka berlalu, kami
kembali melanjutkan langkah.
Jalan yang kami lalui, sekilas mungkin
terlihat landai, walau dalam kenyataannya adalah mendaki. Dhesi mengeluh jika
dirinya merasa sesak. Aku menyuruhnya berhenti sebentar agar dapat mengatur
nafas dan memintanya supaya tidak perlu terburu-buru ingin sampai ke puncak.
Karena hal itu justru bisa membuat tenaganya cepat terkuras.
Di belakang kami, menyusul sekelompok
penambang dengan keranjang kosong. Salah seorang dari mereka menyapa dengan
bahasa osing (bahasa daerah di Banyuwangi). Setelah masing-masing dari kami
memperkenalkan nama dengan bahasa pengantar yang sama. Pembincaraan berlanjut
pada tawaran, agar kami ikut hingga ke sumber belerang. Awalnya aku ragu, sebab
telah beberapa kali aku ke kawah Ijen belum pernah ke sumber. Selain yang
kutahu ada larangan keras agar para pendaki tidak turun ke kawah karena alasan
keselamatan, juga ada pintu yang dijaga ketat sehingga pendaki tidak bisa
memasuki kawasan yang hanya diperkenankan untuk para penambang saja.
Mutaqin demikian nama bapak dengan dua putra
itu mengijinkan kami mengikuti jejak para penambang menuju sumber belerang.
Sebenarnya pria yang berusia sekitar 35 tahun ini adalah salah seorang pekerja
di PT. Candi Ngrimbi, perusahaan yang mempunyai ijin resmi untuk melakukan
penambangan Belerang di kawah Ijen. Tanggung jawab Mutaqin adalah menjaga
keamanan berikut memastikan bahwa jalan selalu dalam keadaan baik, dengan kata
lain dapat dilalui oleh buruh tambang baik disaat cuaca cerah atau yang paling
buruk sekalipun. Kegiatan keseharian mutaqin seperti memangkas rumput, menjaga
kebersihan parit yang ada di kedua sisi jalan, dan bila perlu membuat pijakan
di jalur yang sulit kala musim hujan.
Hari itu mungkin keberuntungan bagi kami
dapat bertemu dengan Mutaqin. Sebab jika bukan waktu libur kerja-nya, Mutaqin
akan bekerja pada pos-nya. Menambang di hari libur sesungguhnya ia lakukan guna
menambah pendapat bulanan-nya yang jauh dari mencukupi.
Kurang lebih 30 menit berjalan, akhirnya
kami sampai di pos pengumpulan belerang. Beberapa penambang terlihat sedang
duduk beristirahat sambil menghisap lintingan tembakau. Dhesi dan Irwan segera
duduk dibangku kayu sembari mengendorkan jacket yang mereka pakai, sedang aku
menuju kantin untuk memesan minuman hangat.
Di pos inilah belerang-belerang ditimbang
terlebih dahulu, sebelum dibawa turun. Setelah ditimbang sang penambang akan mendapatkan
kupon yang fungsinya semacam surat jalan, berisi nama penambang berikut berat
belerang dari petugas jaga. Jika mereka tidak tertib, atau tidak melakukan
penimbangan berikut membawa kupon dari pos ini, maka belerang yang mereka bawa akan
ditolak di pos pengumpulan yang terletak di kaki gunung. Karena di pos tersebut
belerang-belerang itu baru diterima/ditimbang ulang apabila ada kupon yang
menyertainya. Setelah pengecekan berat belerang, para buruh akan mendapat upah,
untuk satu kali angkut sekitar Rp. 50.000 hingga Rp. 80.000 tergantung berat
belerang yang mereka bawa. Selanjutnya setelah terkumpul, belerang akan diangkut
menggunakan truk ke pabrik pengolahan yang ada di daerah Kalibendo –
Banyuwangi.
Setelah menghilang beberapa saat di salah
satu bangunan berdinding anyaman bambu (gedek), Mutaqim muncul dengan membawa
masker yang biasa digunakan oleh petugas kesehatan. Ia memberikannya pada kami
dan meminta agar kami memakai masker tersebut apabila nanti masuk ke area
sumber Belerang.
Dari pos pengumpul belerang sesungguhnya
jalan terbagi menjadi dua, yakni; yang satu mendaki menuju puncak/ kawah dan yang
kedua menuju Dam yang dibangun semasa pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai
informasi sedikit, dibalik Dam terdapat jalur sungai yang berfungsi sebagai
saluran muntahan gunung Ijen yang tetap aktif hingga sekarang. Sehingga
muntahannya tidak merusak desa sekitarnya. Karena saluran ini sudah lama tidak
dipergunakan (sebab Gunung Ijen belum meletus lagi) dan proses pengedapan air
yang mengandung sulfur dari danau/ kawah Ijen yang merembes menyebabkan dasar aliran
sungai berwarna putih. Hal ini membuat pemandangan alam tersendiri atas Ijen
disisi yang lain.
Selesai membayar minuman, kamipun bergegas
melanjutkan perjalanan, dengan tujuan menuju kawah dan sumber belerang. Waktu
itu kira-kira sekitar pukul 09:00 WIB lewat ketika kabut tiba-tiba saja
meyelimuti segala hal termasuk jajaran pohon Cemara dan berbagai semak-semak
berbunga terang di kanan kiri jalan yang kami lalui. Kabut telah menghalangi
jarak pandang kami. Karenanya kami berjalan beriringan dengan tetap menjaga
jarak agar tidak terlalu jauh satu sama lain. Kami benar-benar mengandalkan Mutaqin
yang menjadi penunjuk jalan. Dengan langkah ringan Mutaqim yang menenteng
keranjang rotan itu seolah tidak terpengaruh dengan kabut yang mungkin bisa
menyesatkan jalan kami. Mutaqin hanya bilang ini sudah biasa. Setelah berjalan
sekitar setengah jam, akhirnya kami mulai mencium bau belerang, dan hal itu adalah tanda bahwa kami telah
sampai di ketinggian ±2386 m/dpl.
Untuk beberapa saat kami berhenti, mengatur
nafas sambil melihat sekeliling dan hanya kabut yang masih menyelubungi
panorama. Dari jauh kulihat, muncul diatara kabut yang enggan bergeser,
rombongan penambang yang mirip semut-semut pekerja berjalan dengan cepat walau
dipundaknya harus memikul tumpukan
bongkahan belerang. Aku terus mengawasi langkah mereka yang semakin mendekat ke
arah kami. Seperti yang sudah-sudah aku
bersama yang lain lebih menepi agar bapak-bapak penambang bisa lewat dengan
leluasa.
Selanjutnya Mutaqim memberi isyarat agar
kami segera mengikuti dirinya lagi. Tak satupun dari kami yang menjawab, hanya
langkah kami yang mengekor dibelakangnya. Kamipun menembus kabut, menyusup
diantara bau belerang yang semakin kuat. Memaksa kami untuk memasang masker
dengan benar, sedang Mutaqin hanya menggunakan handuk kecil sebagai penutup
hidung.
Saat perjalanan kami mendekati bibir kawah,
sempat kulihat papan peringatan yang terkesan seadanya, samar dalam pandanganku
yang mulai berair karena pedih; “All
visitor are strictly forbidden to go down to the crater”, yang kira-kira
artinya adalah ‘semua pengunjung dilarang keras turun ke kawah. Mataku berkedip,
berpaling dan buat pertama kalinya aku tidak mengindahkan peringatan tersebut, membandel,
dengan tetap mengikuti Mutaqim menuju sumber belerang.
Sampai diturunan yang cukup terjal, aku
berhenti sejenak. Aku mencari sesuatu sambil mengingat letaknya. Aku merasa telah
melewatkan satu hal. Melihat aku yang clingak-clinguk, Mutaqimpun bertanya, ‘apa
yang sedang kucari?’. Kukatakan padanya bahwa dikunjunganku yang terakhir, aku
melihat ada pintu pagar yang merupakan batas bagi para pengunjung.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Mutaqim menyipitkan
mata sambil melonggarkan handuk kecilnya. Kemudian Mutaqin menerangkan bahwa
pintu besi itu telah rusak total, terkerosi oleh asap belerang setahun yang
lalu. Dan dengan wajah serius Mutaqim menyakinkan pada kami bahwa tidak ada benda
berbahan besi yang mampu bertahan lama disitu.
“Lewat sini!” teriak Mutaqim yang sudah mendahului kami. Langkahnya
terlihat ringan walau medan yang kami lalui menurun dan curam, belum lagi
ditambah sergapan asap belerang yang selain menutup pandangan, memedihkan mata
juga membuat pernawasan menjadi sesak. Beberapa kali kami berhenti baik karena
harus memberi jalan kepada para penambang yang lewat, juga karena kami
terbatuk-batuk atau untuk mengatur nafas. Keinginan untuk mencapai sumber dan
dasar kawahlah yang membuat kami untuk tetap meneruskan perjalanan.
Akhirnya setelah 50 menit menuruni tebing
kami sampai di dasar kawah. Awalnya kami tidak melihat apapun selain asap pekat
beraroma tajam yang sangat menyiksa hingga dadaku terasa sesak sekali. Mutaqim menyuruh
kami istirahat di dalam gubuk bambu tidak jauh dari sumber belerang. Disitu ia
mengajarkan pada kami agar membasahi/mencuci masker dengan air, untuk kemudian
dipakai lagi. Dan hasilnya sangat lumayan, aku seperti menghirup oksigen
segar.
Setelah menunggu beberapa waktu, seperti
instruksi Mutaqim, pelan-pelan asap yang pekat menipis, lalu terbentang danau
yang tercipta oleh erupsi letusan gunung Ijen begitu sangat mempesona. Belum
lagi aku selesai mengagumi panorama yang terhampar di depanku, dengan
mengejutkan Mutaqim melompat dan menyuruh kami untuk mengikutinya dengan cepat.
Setengah berlari ia menuju ke sebelah kanan belakang pondok bambu. Seperti
janjinya, Mutaqim menunjukkan pipa-pipa yang tersambung ke dalam perut bumi,
sementara ujung yang lain mengeluarkan cairan mendidih. Mutaqim mencongkel satu
bongkah untuk ditunjukkan kepada kami. Warnanya oranye terang, ketika bongkahan
itu terkena udara dan dingin lambat laun warnanya berubah menjadi kuning seperti belerang yang
biasa kita lihat. Inilah sumber, tempat dimana para penambang harus mengambil
setiap bongkahan belerang untuk kemudian diangkut dengan pundaknya menuju ke
atas hingga di kaki gunung tempat pengumpulan belerang.
Ketika arah angin tiba-tiba berubah, hanya
dalam hitungan detik kami telah dikepung oleh asap belerang dengan cepat. Namun
aku masih sempat melihat seseorang berseragam merah lengkap dengan masker yang
menutup seluruh mukanya berjalan ke arah kami.
Mutaqim melambaikan tangan, memberi isyarat pada mahluk bermasker asap.
Selanjutnya aku tidak bisa melihat apapun. Mataku terpejam karena pedih oleh
asap. Akhirnya dengan cara bergandengan dan dituntun oleh Mutaqim kami kembali
bersembunyi ke dalam pondok.
Sesampainya di pondok, Aku menggeledah tas
jalanku, mengeluarkan air mineral dan segera menguyur mukaku. Baru setelahnya
aku sedikit bisa melihat lagi. Sambil mengulurkan air mineral kepada Dhesy, aku
bertanya siapakah orang berseragam merah tadi. Mutaqim menjelaskan bahwa yang
kulihat itu adalah penjaga sumber. Sebenarnya ada dua orang yang bertugas secara
bergantian untuk menjaga sumber belerang agar tetap dalam keadaan aman bagi
para penambang yakni supaya tidak ada penyumbatan pada pipa-pipa yang ada
ataupun kebakaran yang sering terjadi karena suhu yang terlalu panas.
Disaat kabut kembali tersibak, alam kembali mempertontonkan
langit yang biru tanpa cela, terang menaungi cadas berwarana gelap yang
membentengi danau yang laksana kaca raksasa. Aku segera berlari, menuju garis
batas dimana air danau beriak begitu lembut. Walau aku tergoda untuk bermain
dengan airnya. Aku merasa cukup menyentuh air danau yang terasa hangatdengan
ujung jemariku. Hanya mengingatkan, jika rekan-rekan nanti berkesempatan datang
ke Ijen dan mampu sampai di dasar kawah jangan mencoba mencuci muka di danau
ini! Sebab air danau mengandung belerang yang kadarnya belum diteliti. Tapi
efek umum yang pernah aku rasakan akan membuat kulit ari terkelupas dengan
sedikit gatal-gatal seperti digigit ribuan semut.
Ketika asap mulai menutup pandangan
lagi, kami sudah mulai menaiki tebing. Mutaqim tetap memimpin di depan, tapi
kali ini ia memanggul keranjang berisi belerang dengan beban sekitar 50 hingga
60kg. Kami yang hanya membawa badan
saja, musti istirahat beberapa kali, bahkan sempat tertinggal cukup jauh dari
Mutaqim. Membuat Mutaqim kembali dan memastikan keadaan kami baik-baik saja.
Karena kufikir kami begitu merepotkan, aku memintanya agar terus saja hingga
puncak, dan menunggu kami disana.
Lebih lama
dari saat kami menuruni tebing, akhirnya kami sampai di puncak. kulihat Mutaqim
tengah duduk santai. Saat melihat kami,
mutaqim segera bersiap kembali untuk memanggul keranjangnya. Tapi aksinya itu
ditahan oleh Irwan, yang ingin mencoba memanggul belerang tersebut. Dengan
hati-hati Mutaqim membantu meletakkan keranjang dipundak Irwan, dan memberi
arahan bagaimana langkah kaki sebaiknya seirama dengan gerakan keranjang. Sebab
jika terlalu kaku akan terasa lebih berat. Kurang dari 10 meter, Irwan menyerah
dan menurunkan beban dipundaknya.
12:30 Wib
sedikit berkabut namun secara keseluruhan cuaca puncak Ijen sangat cerah.
Setelah mempersilahkan Mutaqim untuk mendahului kami dan berjanji akan bertemu
dipkaki Ijen (Paltuding). Karena kami masih ingin menikmati pemandangan alam yang
tersaji.
Tiada kata, hanya rasa kagum dan syukur atas kebesaran Ilahi yang telah memberi
rupa pada sudut Jawa Timur dengan keelokan Kawah Ijen yang berwarna hijau
kebiru-biruan.
**
Catatan Penulis
- Kawasan obyek wisata kawah Ijen yang berada dibawah pengawasan Taman Nasional Baluran ini dulunya masuk daerah Kabupaten Banyuwangi, tapi entah mulai kapan yang kutahu saat kunjungan-ku terakhir kawasan ini telah masuk dalam daerah Kabupaten Bondowoso. Walau demikian orang masih mengenal kawah Ijen berada di Banyuwangi, sebab secara geografis letaknya memang relatif dekat dengan kota Banyuwangi.
- Untuk menuju Kawah Ijen ada beberapa jalur yang bisa ditempuh:
- Dari Surabaya; naik Kereta Api jurusan Banyuwangi (+/- 7jam), turun di stasiun Karang Asem. Selanjutnya bisa jalan kaki ke terminal Sasak Perot. Lalu dilanjut menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin), dari Jambu bisa ngojek atau ikut truk pengangkut Belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative
- Dari Surabaya; naik Bus antar kota jurusan Pasuruan-Probolingo-Situbondo-Banyuwangi (+/- 7jam) turun di Terminal Banyuwangi (Jika ingin cepat beli tiketnya per-terminal aja, sudah jadi kebiasaan klo yang kelas ekonomi dan penumpangnya sedikit busnya suka ngetem lama). Dari Terminal Banyuwangi Baru-Ketapang lanjut naik angkot menuju kota Banyuwangi/Terminal Blambangan (Rp 3ribu). Lalu ganti angkot yang menuju terminal Sasak Perot (harga sama). Kemudian dilanjut menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin). Selanjutnya bisa ngojek atau ikut truk pengangkut Belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative) hingga Paltuding.
- Dari Surabaya; mengunakan bus antar kota menuju Situbondo, lalu berlanjut ke Bondowoso (+/- 7jam). Dari terminal Bondowoso menuju ke desa kalianyar- kec sempol (+/- 52km) terus ke Belawan lanjut ke Paltuding.
- Dari Denpasar-Bali; Menuju penyebrangan Gilimanuk-Ketapang (+/- 5jam), Penyebrangan Gilimanuk-Tanjung Wangi (Ketapang) (+/- 1jam), dari pelabuhan Ketapang naik angkot menuju kota Banyuwangi/Terminal Blambangan (Rp 3ribu). Lalu ganti angkot yang menuju terminal Sasak Perot (harga sama). Kemudian dilanjut menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin). Selanjutnya bisa ngojek atau ikut truk pengangkut belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative) hingga Paltuding.
- Bagi yang mempunyai anggaran lebih dari Surabaya menuju Banyuwangi bisa ditempuh lewat udara (Pesawat). Maskapai yang beroperasi untuk sementara adalah Merpati dengan rute Surabaya (Juanda) – Banyuwangi (Belimbing Sari Apt), waktu tempuh kurang dari satu jam. Dari Bandara Belimbing Sari langsung menuju terminal Karang Ente lalu lanjut ke terminal Sasak Perot. Kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin), dari Jambu bisa ngojek atau ikut truk pengangkut Belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative) hingga Paltuding. Yang jelas tidak ada trayek angkutan menuju Paltuding.










Pengalaman yang sangat menarik. Jadi mau kesana nih melalui malang, rutenya gmn yah?
BalasHapusAda saan? Makasih sebelumnya.
Klo dari Malang bisa naik Kereta atau naik bus:
Hapus1) Kereta: Dari Malang seingatku ada kereta ekonomi jam 1 or dan jam 2 siang menuju Banyuwangi, ntar turun di stasiun Karangasem (+/- 6 s/d 7 jam perjalanan), dari sini bisa jalan kaki menuju terminal sasak perot, baru kamu nyari angkutan pedesaan yang menuju desa jambu-licin. Selanjutnya sama dengan keterangan diatas (ngojek atau ikut truck pengangkut belerang)
2) Bus: Dari Terminal Dinoyo-Malang ada yang langsung Banyuwangi dengan rute: Malang-Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (+/- 6 s/d 7 jam perjalanan), dari terminal Banyuwangi Baru-Ketapang naik angkot kuning ke terminal Blambangan kmd ganti angkot yang ke terminal sasak perot baru kamu nyari angkutan pedesaan yang menuju desa jambu-licin. Selanjutnya sama dengan keterangan diatas (ngojek atau ikut truck pengangkut belerang)
Kerenn
BalasHapusMakasih
Hapusmantapppp...
BalasHapusTerima Kasih Agus, Silahkan Explore Ijen, banyak sudut cantik disana, tidak hanya kawah-nya yang eksotik, tapi pemandangan di DAM (buatan masa kolonial Belanda) sangat menakjubkan.
Hapusaaaaaaaaaaaaaaaa ... gokil mbak sudah gak tahan saya !
BalasHapusIjen menanti Riski ^_^
Hapus