16 Mei 2012
Oleh: Wedhya Wardani
Setelah tertunda sekitar lima belas menit dari jadwal keberangkatan akhirnya GA0146 mengangkasa, menerobos gerimis, menembus gumpalan mega-mega dan meninggalkan daratan nun jauh di bawahnya. Sekali lagi aku berdoa semoga perjalananku ke tujuan berikutnya tidak ada halangan lagi.
Ketika
para pramugari membagikan satu paket snack pada seluruh penumpang, aku baru
tersadar jika seharian ini hanya makan pagi itupun saat di pesawat ketika
berangkat dari Jakarta saja. Sewaktu berkeliling di kota Medan aku sama sekali
tidak teringat untuk makan siang atau nyemil sesuatu, hanya air penghilang
dahaga saja.
“Em, memang melelahkan tapi sangat memuaskan,” desahku membenarkan
diri sendiri atas keteledoranku yang
sering silap dan alpa untuk menjaga diri dengan baik, utamanya
urusan makan.
Setelah
menghabiskan sajian berupa roti isi rogout dan secangkir teh hangat dengan
bersih dan cepat. Selanjutnya aku mengambil buku bacaan yang selalu kusiapkan di setiap
perjalanan. Membaca adalah salah satu trik untuk
mengalihkan perhatian atau menghilangkan kebosanan selama berada di kendaraan, seperti hal-nya saat naik pesawat. Tidak
banyak yang dapat kita lihat, apalagi jika cuaca mendung dan hujan.
Bungong Jeumpa, Meugah di Aceh
Dari kaca cendela pesawat kulihat bangunan Bandar Udara International Sultan
Iskandar Muda yang serupa dengan bangunan mesjid, atapnya
yang berbentuk kubah, menunjukkan pengaruh islam yang sangat kuat sekali.
Namun tiba-tiba pendengaranku menarik semua rasa ketertarikanku
pada musik yang diputar dalam ruangan pesawat. Lagu yang melambangkan icon atau
identitas satu daerah tersebut telah puluhan tahun lalu kudengar bahkan
kunyanyikan sewaktu duduk di bangku sekolah. Kini saat kudengar kembali, hatiku
serasa meloncat-loncat kegirangan. Gembira tiada dapat kulukiskan dalam
kata-kata.
Bungong jeumpa, Bungong jeumpa- Megah di Aceh
Bungong teuleubeh-teulebeh indah lagoina
[Bunga jeumpa, Bunga jeumpa - Terkenal di Aceh
Bunga yang sangat indah rupanya]
PLTD Apung-I
Di depan pintu keluar bandara aku bertemu Edi -- teman-nya Ria yang juga rekan Backpacker
Indonesia -- selanjutnya kami berdua segera pergi untuk menjumpai Ria yang
sudah bersama Fie.
Sedikit tentang Fie; Sedari awal nona satu ini telah memiliki
rencana yang matang untuk eksplore Aceh dan pulau Sabang. Lewat Ria kami
berkenalan via online karena selain Fie tinggal di Jakarta, jadwal kedatangan
kami ke Aceh-pun di tanggal dan jam yang nyaris sama, walau kami menggunakan
maskapai penerbangan yang berbeda. Juga berhubung aku kurang memiliki skenario yang apik seperti halnya Fie makanya aku bersedia mengikuti agenda perjalanannya. Yakni
mula-mula bertemu di bandara Aceh untuk kemudian langsung menuju pantai Log-Nga
yang elok.
Segalanya menjadi diluar kontrol saat aku tertinggal pesawat.
Jujur aku merasa bersalah atas kejadian tersebut. Beberapa kali aku minta maaf
pada Edi yang telah menyusahkan dirinya juga Ria karena diriku tidak tepat
schedule. Namun Edi menanggapinya dengan datar, bahwa bukan masalah aku datang
terlambat atau tidak, sebab seharian ini Aceh diguyur hujan yang sangat deras.
Sehingga mau pergi kemanapun tidak akan bisa.
Diam. Dibelakang boncengan Edi aku menyadari satu hal bahwa
sesungguhnya sekeras apapun manusia berencana hanya Alloh sang penentu akhir
dari segalanya. Rab yang Maha segalanya, telah memberikan pilihan waktu terbaik
di awal solo trip-ku. Dan hal itu membuatku teringat akan surat Ar-Rahman yang
kubaca sewaktu mengunjungi mesjid Agung di Medan;
“Sesungguhnya
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Aku tersadar dari lamunanku, ketika Edi mengatakan bahwa Ria
dan Fie sudah bergerak ke TKP. Walau tidak jelas dalam pendengaranku tempat
yang dituju karena suara kendaraan yang bising, aku setuju untuk menyusul
keduanya. Setelah sejam berkendara akhirnya kami berdua sampai lebih awal di
PLTD Apung-I yang telah menjadi salah satu monumen peringatan Tsunami. Dan sementara
Edi memarkir motor, aku berpamitan sebentar untuk sholat Ashar di musholla yang
persis berhadapan dengan lokasi monumen.
PLTD Apung-I dulunya adalah pembangkit listrik tenaga diesel
lepas pantai dengan bobot 2600 ton yang terdorong sejauh 5 km ke daratan oleh
gelombang berkekuatan besar (Tsunami). Disini pengunjung selain dapat melihat
bangkai kapal (pembangkit) juga terdapat monumen yang bertulis nama-nama korban
tsunami serta waktu yang menunjukkan saat bencana dahsyat itu terjadi. Adapun
Lokasi PLTD Apung-I berada di Gampong Punge Blang Cut Kota Banda Aceh.
Di areal monument
PLTD Apung-I inilah aku berjumpa dengan Fie dan Ria untuk pertama kalinya.
Senang sekali rasanya, setelah sekian lama hanya mengenal keduanya lewat jejaring sosial.
Taman Putroe Phang
Tanpa
tujuan yang pasti kami berempat segera bertolak dari PLTD Apung-I,
selain karena petugasnya telah mengusir kami hingga beberapa kali karena waktu
kunjungan telah usai, juga karena hari mulai merunduk pada senja. Kami terus
meluncur melewati komplek musium Tsunami yang telah tutup sedari jam 05:00 sore
waktu setempat. Berbelok lalu mengitari lapangan kota. Bersaing dengan ramai
kendaraan, Edi menunjuk satu monumen pesawat yang merupakan pesawat pertama
yang disumbangkan oleh rakyat Aceh kepada pemerintah RI pada masa pemerintahan
Presiden Soekarno untuk mendukung pelaksanaan di awal pemerintahan Indonesia. Lapangan
yang dibiarkan terbuka tanpa pagar pembatas tersebut dikelilingi
bangunan-bangunan kecil berbentuk ujung perahu dengan posisi tertelungkup. Aku
meminta Edi untuk berhenti sebentar, namun suaraku hanya tenggelam dalam suara
klakson mobil yang justru membuat Edi menambah gas motornya agar melaju lebih
cepat.
Membuatku
berdesah, karena detik selanjutnya motor telah berbelok ke arah kiri. Saat itu aku menyadari apabila Ria dan Fie
telah tertinggal. Segera aku meminta Edi supaya lebih pelan. Akan tetapi dengan
santai Edi menjawab bahwa keduanya tidak akan tersesat. Membuatku kembali diam,
sedang pandanganku awas memperhatikan bangunan-bangunan yang kami lalui. Hingga
aku melihat jembatan gantung bercat putih. Kali ini tanpa segan lagi aku langsung
menepuk bahu Edi. Setelah memintanya agar berhenti serta menelpon Ria untuk
memberitahukan posisi kami, tanpa membuang waktu akupun memasuki Taman.
Taman Putroe Phang demikian tertulis dengan huruf capital persis di pintu masuk. Di dalam papan informasi dijelaskan bahwa taman ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sebagai tanda bukti cinta sang sultan terhadap sang permaisuri yang diboyongnya dari kerajaan Pahang – Simenanjung Utara Malaysia yang telah ditaklukkan oleh tentara laut dan darat sang sultan (1613-1615).
Taman sari ini dibangun lengkap dengan gunongan; semacam
tempat bercengkrama ataupun tempat bagi sang permaisuri berganti pakaian
setelah mandi di sungai. Sebagai penghubung antara taman dan istana dibangun
pintu gerbang yang diberi nama ‘Pinto Knop’ dengan material bangunan dari
kapur. Sedang disebelah kanan kiri gerbang terdapat dua jembatan gantung yang
tadi menarik perhatianku.
Kedai Kupi Napoleon
Adzan Maghrib terdengar mengema ke penjuru kota, menyurutkan keramaian dan berbagai hiruk pikuk yang ada.
Kami berempat berbelok ke salah satu kedai kopi langganan Edi di daerah sekitar
perempatan Surabaya yang masih tutup seperti halnya kedai-kedai lain. Namun Edi
memastikan bahwa tidak ada masalah jika kita ingin beristirahat sekaligus
numpang sholat.
Selesai sholat magrib, sembari menunggu minuman yang kami
pesan kami mengobrol. Aku sangat tertarik dengan cerita Ria tentang Takengon.
Apalagi ketika Pranoto yang belakangan datang ikut membubuhi cerita Ria bahwa mengunjungi
tempat tersebut bagaikan berada di negri awan. Fie juga
turut menambahkan berbagai hal tentang Takengon yang ia kumpulkan dari berbagai
sumber di website. Aku merasa bahwa hanya aku yang minim informasi tentang
keindahan di Banda Aceh khususnya Takengon.
Membuat
Ria semakin antusias mengajak kami untuk mengunjungi Takengon yang merupakan
kampung halamannya. Sayang sekali jadwalku di Aceh hanya tiga hari saja. Sungguh jika ada kesempatan dan waktu,
tentunya dengan penuh semangat kecintaan terhadap alam Indonesia, aku ingin
sekali mengunjungi tempat tersebut.
Pukul tujuh lewat - waktu setempat, kami meninggalkan kedai
kopi Napoleon. Disini kami berpisah dengan Ria, sebab ia harus pulang ke
Takengon malam ini juga dikarenakan urusan keluarga. Sedang aku dan Fie akan bermalam di tempat
Pranoto.
Kedai Check Yukee MT
Pranoto
adalah seorang
teman yang aku kenal di Jakarta beberapa tahun lalu dan secara
kebetulan sedang berada di Aceh karena pekerjaan. Kami diijinkan menginap di rumah sewaan yang dijadikan kantor
operasional satu Yayasan yang bergerak di bidang Informasi Tehnologi. Kebetulan
sekali ketika kami tiba, pimpinan kantor yang kesehariannya dipanggil Octa
bersama istrinya itu belum pulang. Sehingga kami bisa berkenalan dan
bertanya-tanya tentang pulau Sabang yang besuk kami kunjungi.
Setelah
membersihkan diri, kami (Octa, Pranoto, Edi, Fie dan Aku) pergi untuk mencoba
kuliner di Banda Aceh. Sebagaimana julukan Aceh sebagai negeri seribu kedai
kopi tentunya tempat yang akan kami kunjungi juga kedai kopi pula. Dan pilihan
jatuh pada kedai Check Yukee MT yang berada di depan terminal Batoh – Banda
Aceh. Kedai ini sangat terkenal bahkan pernah diliput oleh salah satu stasiun
TV dalam acara wisata kuliner. Selain menyajikan berbagai jenis racikan kopi
sebagai ke-khasan-nya, menu lainnya adalah gulai bebek yang sangat lezat. Yang menjadi
kelebihan dari gulainya selain daging bebeknya yang empuk, bumbu yang tajam
juga ada hati bebek namun tanpa ampela. Aku jadi teringat dengan satu pribahasa
‘kalau dikasih hati jangan minta ampela’
. Menyikapi hal ini Octa menerangkan bahwa berbeda dengan di Jawa yang apabila memasak
hati bebek atau ayam biasanya satu paket ama ampela, namun di Aceh umumnya
ampela dibuang.
Dari tempatku duduk, dapat
kusaksikan bagaimana kepiawaian bartender kedai dalam meracik kopi gayo yang
telah terkenal ke penjuru dunia sejak masa kolonial Belanda itu. Begitu seorang
pelayan mengantar pesanan Edi, aku meminta ijin untuk mencicipi-nya. Sanger
adalah kopi hitam yang dicampur dengan susu. Sunguh jauh berbeda dengan yang
pernah kurasa, rasa kopinya pekat sekali walau sudah dicampur dengan susu.
‘Tetep terasa “PAHIT” .
Mendengar komentarku semua teman-temanku tertawa, dan langsung menghakimiku
jika aku bukan penggemar kopi sejati. Aku hanya senyum mendengarnya sambil
mengambil satu bungkusan roti yang unik. Namanya roti ‘sama hani’ yakni roti tawar yang diolesi
selai srikaya. Ukuran roti-nya setengah dari roti tawar yang ada di Jawa dengan rasa
susu yang sangat kuat sedang selai-nya legit sekali. Roti ini aku rekomendasikan agar dicicipi saat
berkunjung ke Aceh.
**
(bersambung ke bagian-3 )
http://wedhya.blogspot.com/2012/10/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-3.html
http://wedhya.blogspot.com/2012/10/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-3.html




Tidak ada komentar:
Posting Komentar