Senin, 03 September 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-2): Negeri Seribu Kedai Kopi - Nanggroe Aceh Darussalam


16 Mei 2012

 

Oleh: Wedhya Wardani

Setelah tertunda sekitar lima belas menit dari jadwal keberangkatan akhirnya GA0146 mengangkasa, menerobos gerimis, menembus gumpalan mega-mega dan meninggalkan daratan nun jauh di bawahnya. Sekali lagi aku berdoa semoga perjalananku ke tujuan berikutnya tidak ada halangan lagi. 

Ketika para pramugari membagikan satu paket snack pada seluruh penumpang, aku baru tersadar jika seharian ini hanya makan pagi itupun saat di pesawat ketika berangkat dari Jakarta saja. Sewaktu berkeliling di kota Medan aku sama sekali tidak teringat untuk makan siang atau nyemil sesuatu, hanya air penghilang dahaga saja.

“Em, memang melelahkan tapi sangat memuaskan,” desahku membenarkan diri sendiri atas keteledoranku yang sering silap dan alpa untuk menjaga diri dengan baik, utamanya urusan makan.

Setelah menghabiskan sajian berupa roti isi rogout dan secangkir teh hangat dengan bersih dan cepat. Selanjutnya aku mengambil buku bacaan yang selalu kusiapkan di setiap perjalanan. Membaca adalah salah satu trik untuk mengalihkan perhatian atau menghilangkan kebosanan selama berada di kendaraan, seperti hal-nya saat naik pesawat. Tidak banyak yang dapat kita lihat, apalagi jika cuaca mendung dan hujan.         

Bungong Jeumpa, Meugah di Aceh

Dari kaca cendela pesawat kulihat bangunan Bandar Udara International Sultan Iskandar Muda yang serupa dengan bangunan mesjid, atapnya yang berbentuk kubah, menunjukkan pengaruh islam yang sangat kuat sekali.

Namun tiba-tiba pendengaranku menarik semua rasa ketertarikanku pada musik yang diputar dalam ruangan pesawat. Lagu yang melambangkan icon atau identitas satu daerah tersebut telah puluhan tahun lalu kudengar bahkan kunyanyikan sewaktu duduk di bangku sekolah. Kini saat kudengar kembali, hatiku serasa meloncat-loncat kegirangan. Gembira tiada dapat kulukiskan dalam kata-kata. 

Bungong jeumpa, Bungong jeumpa- Megah di Aceh
Bungong teuleubeh-teulebeh indah lagoina 

[Bunga jeumpa, Bunga jeumpa - Terkenal di Aceh
Bunga yang sangat indah rupanya]



PLTD Apung-I

Di depan pintu keluar bandara aku bertemu Edi  -- teman-nya Ria yang juga rekan Backpacker Indonesia -- selanjutnya kami berdua segera pergi untuk menjumpai Ria yang sudah bersama Fie. 

Sedikit tentang Fie; Sedari awal nona satu ini telah memiliki rencana yang matang untuk eksplore Aceh dan pulau Sabang. Lewat Ria kami berkenalan via online karena selain Fie tinggal di Jakarta, jadwal kedatangan kami ke Aceh-pun di tanggal dan jam yang nyaris sama, walau kami menggunakan maskapai penerbangan yang berbeda. Juga berhubung aku kurang memiliki skenario yang apik seperti halnya Fie makanya aku bersedia mengikuti agenda perjalanannya. Yakni mula-mula bertemu di bandara Aceh untuk kemudian langsung menuju pantai Log-Nga yang elok. 

Segalanya menjadi diluar kontrol saat aku tertinggal pesawat. Jujur aku merasa bersalah atas kejadian tersebut. Beberapa kali aku minta maaf pada Edi yang telah menyusahkan dirinya juga Ria karena diriku tidak tepat schedule. Namun Edi menanggapinya dengan datar, bahwa bukan masalah aku datang terlambat atau tidak, sebab seharian ini Aceh diguyur hujan yang sangat deras. Sehingga mau pergi kemanapun tidak akan bisa.

Diam. Dibelakang boncengan Edi aku menyadari satu hal bahwa sesungguhnya sekeras apapun manusia berencana hanya Alloh sang penentu akhir dari segalanya. Rab yang Maha segalanya, telah memberikan pilihan waktu terbaik di awal solo trip-ku. Dan hal itu membuatku teringat akan surat Ar-Rahman yang kubaca sewaktu mengunjungi mesjid Agung di Medan; 

“Sesungguhnya nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
 
Aku tersadar dari lamunanku, ketika Edi mengatakan bahwa Ria dan Fie sudah bergerak ke TKP. Walau tidak jelas dalam pendengaranku tempat yang dituju karena suara kendaraan yang bising, aku setuju untuk menyusul keduanya. Setelah sejam berkendara akhirnya kami berdua sampai lebih awal di PLTD Apung-I yang telah menjadi salah satu monumen peringatan Tsunami. Dan sementara Edi memarkir motor, aku berpamitan sebentar untuk sholat Ashar di musholla yang persis berhadapan dengan lokasi monumen. 

PLTD Apung-I dulunya adalah pembangkit listrik tenaga diesel lepas pantai dengan bobot 2600 ton yang terdorong sejauh 5 km ke daratan oleh gelombang berkekuatan besar (Tsunami). Disini pengunjung selain dapat melihat bangkai kapal (pembangkit) juga terdapat monumen yang bertulis nama-nama korban tsunami serta waktu yang menunjukkan saat bencana dahsyat itu terjadi. Adapun Lokasi PLTD Apung-I berada di Gampong Punge Blang Cut Kota Banda Aceh.


Di areal monument PLTD Apung-I inilah aku berjumpa dengan Fie dan Ria untuk pertama kalinya. Senang sekali rasanya, setelah sekian lama hanya mengenal keduanya lewat jejaring sosial.  

Taman Putroe Phang

Tanpa tujuan yang pasti kami berempat segera bertolak dari PLTD Apung-I, selain karena petugasnya telah mengusir kami hingga beberapa kali karena waktu kunjungan telah usai, juga karena hari mulai merunduk pada senja. Kami terus meluncur melewati komplek musium Tsunami yang telah tutup sedari jam 05:00 sore waktu setempat. Berbelok lalu mengitari lapangan kota. Bersaing dengan ramai kendaraan, Edi menunjuk satu monumen pesawat yang merupakan pesawat pertama yang disumbangkan oleh rakyat Aceh kepada pemerintah RI pada masa pemerintahan Presiden Soekarno untuk mendukung pelaksanaan di awal pemerintahan Indonesia. Lapangan yang dibiarkan terbuka tanpa pagar pembatas tersebut dikelilingi bangunan-bangunan kecil berbentuk ujung perahu dengan posisi tertelungkup. Aku meminta Edi untuk berhenti sebentar, namun suaraku hanya tenggelam dalam suara klakson mobil yang justru membuat Edi menambah gas motornya agar melaju lebih cepat. 

Membuatku berdesah, karena detik selanjutnya motor telah berbelok ke arah kiri.  Saat itu aku menyadari apabila Ria dan Fie telah tertinggal. Segera aku meminta Edi supaya lebih pelan. Akan tetapi dengan santai Edi menjawab bahwa keduanya tidak akan tersesat. Membuatku kembali diam, sedang pandanganku awas memperhatikan bangunan-bangunan yang kami lalui. Hingga aku melihat jembatan gantung bercat putih. Kali ini tanpa segan lagi aku langsung menepuk bahu Edi. Setelah memintanya agar berhenti serta menelpon Ria untuk memberitahukan posisi kami, tanpa membuang waktu akupun memasuki Taman.

Taman Putroe Phang demikian tertulis dengan huruf capital persis di pintu masuk. Di dalam papan informasi dijelaskan bahwa taman ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sebagai tanda bukti cinta sang sultan terhadap sang permaisuri yang diboyongnya dari kerajaan Pahang – Simenanjung Utara Malaysia yang telah ditaklukkan oleh tentara laut dan darat sang sultan (1613-1615). 

  
Taman sari ini dibangun lengkap dengan gunongan; semacam tempat bercengkrama ataupun tempat bagi sang permaisuri berganti pakaian setelah mandi di sungai. Sebagai penghubung antara taman dan istana dibangun pintu gerbang yang diberi nama ‘Pinto Knop’ dengan material bangunan dari kapur. Sedang disebelah kanan kiri gerbang terdapat dua jembatan gantung yang tadi menarik perhatianku.   

Kedai Kupi Napoleon

Adzan Maghrib terdengar mengema ke penjuru kota, menyurutkan keramaian dan berbagai hiruk pikuk yang ada. Kami berempat berbelok ke salah satu kedai kopi langganan Edi di daerah sekitar perempatan Surabaya yang masih tutup seperti halnya kedai-kedai lain. Namun Edi memastikan bahwa tidak ada masalah jika kita ingin beristirahat sekaligus numpang sholat.

Selesai sholat magrib, sembari menunggu minuman yang kami pesan kami mengobrol. Aku sangat tertarik dengan cerita Ria tentang Takengon. Apalagi ketika Pranoto yang belakangan datang ikut membubuhi cerita Ria bahwa mengunjungi tempat tersebut bagaikan berada di negri awan.  Fie juga turut menambahkan berbagai hal tentang Takengon yang ia kumpulkan dari berbagai sumber di website. Aku merasa bahwa hanya aku yang minim informasi tentang keindahan di Banda Aceh khususnya Takengon. 

Membuat Ria semakin antusias mengajak kami untuk mengunjungi Takengon yang merupakan kampung halamannya. Sayang sekali jadwalku di Aceh hanya tiga hari saja. Sungguh jika ada kesempatan dan waktu, tentunya dengan penuh semangat kecintaan terhadap alam Indonesia, aku ingin sekali mengunjungi tempat tersebut.  

 
Pukul tujuh lewat - waktu setempat, kami meninggalkan kedai kopi Napoleon. Disini kami berpisah dengan Ria, sebab ia harus pulang ke Takengon malam ini juga dikarenakan urusan keluarga.  Sedang aku dan Fie akan bermalam di tempat Pranoto.    

Kedai Check Yukee MT

Pranoto adalah seorang teman yang aku kenal di Jakarta beberapa tahun lalu dan secara kebetulan sedang berada di Aceh karena pekerjaan. Kami diijinkan menginap di rumah sewaan yang dijadikan kantor operasional satu Yayasan yang bergerak di bidang Informasi Tehnologi. Kebetulan sekali ketika kami tiba, pimpinan kantor yang kesehariannya dipanggil Octa bersama istrinya itu belum pulang. Sehingga kami bisa berkenalan dan bertanya-tanya tentang pulau Sabang yang besuk kami kunjungi.

Setelah membersihkan diri, kami (Octa, Pranoto, Edi, Fie dan Aku) pergi untuk mencoba kuliner di Banda Aceh. Sebagaimana julukan Aceh sebagai negeri seribu kedai kopi tentunya tempat yang akan kami kunjungi juga kedai kopi pula. Dan pilihan jatuh pada kedai Check Yukee MT yang berada di depan terminal Batoh – Banda Aceh. Kedai ini sangat terkenal bahkan pernah diliput oleh salah satu stasiun TV dalam acara wisata kuliner. Selain menyajikan berbagai jenis racikan kopi sebagai ke-khasan-nya, menu lainnya adalah gulai bebek yang sangat lezat. Yang menjadi kelebihan dari gulainya selain daging bebeknya yang empuk, bumbu yang tajam juga ada hati bebek namun tanpa ampela. Aku jadi teringat dengan satu pribahasa ‘kalau dikasih hati jangan minta ampela’ . Menyikapi hal ini Octa menerangkan bahwa berbeda dengan di Jawa yang apabila memasak hati bebek atau ayam biasanya satu paket ama ampela, namun di Aceh umumnya ampela dibuang. 


Dari tempatku duduk, dapat kusaksikan bagaimana kepiawaian bartender kedai dalam meracik kopi gayo yang telah terkenal ke penjuru dunia sejak masa kolonial Belanda itu. Begitu seorang pelayan mengantar pesanan Edi, aku meminta ijin untuk mencicipi-nya. Sanger adalah kopi hitam yang dicampur dengan susu. Sunguh jauh berbeda dengan yang pernah kurasa, rasa kopinya pekat sekali walau sudah dicampur dengan susu. ‘Tetep terasa “PAHIT” . 

Mendengar komentarku semua teman-temanku tertawa, dan langsung menghakimiku jika aku bukan penggemar kopi sejati. Aku hanya senyum mendengarnya sambil mengambil satu bungkusan roti yang unik. Namanya roti ‘sama hani’ yakni roti tawar yang diolesi selai srikaya. Ukuran roti-nya setengah dari roti tawar yang ada di Jawa dengan rasa susu yang sangat kuat sedang selai-nya legit sekali. Roti ini  aku rekomendasikan agar dicicipi saat berkunjung ke Aceh.
**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar