Selasa, 24 Juli 2012

Semalam di Belitung

29-30 Oktober, 2011
Terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan kepada;
Harianto, Iqbal, Dektina S, Maria U, Nofe I,  Dita A, Ramses, dan Alfa.

Oleh: Wedhya Wardani

Lima belas menit sebelum pesawat yang kami naiki mendarat di bandar udara tujuan, aku melepaskan semua rasa penasaranku yang tidak tertahankan pada daratan yang terbentang di bawah. Landai berwarna hijau dengan gradasi yang menyegarkan penglihatan, sementara di beberapa tempat berwarna putih kebiru-biruan. Aku mengira-ngira mungkin itu lubang-lubang bekas penggalian tambang yang telah ditinggalkan sebagaimana cerita-cerita yang kudengar selama ini dan sekarang lebih dikenal dengan nama danau kaolin.
Aku tegakkan kembali posisi dudukku saat sang pilot memberitahu bahwa pesawat pada posisi siap mendarat. Kulirik Nofe yang untuk kali pertama ‘nge-trip’ bersama kami. Ia masih tenggelam dalam musik yang didengarnya lewat ‘earphone’. Ia sangat bergantung pada benda tersebut untuk mengurangi efek dengung di telinganya. Sebaliknya Mery sibuk mencari pramugari guna memesan lampu pengganti lilin, yang dirasa olehnya sangat berguna saat berkemah nanti. Walau masing-masing dari kami sudah membawa lampu senter, Ia tetap kekeh untuk membeli lampu tersebut. Sementara itu Dektina yang duduk terpisah dari kami bertiga menemukan teman mengobrol selama perjalanan. 
   
Sedikit terlambat dari jadwal, kami tiba di bandar udara H. As. Hanandjoedin Tanjung Pandan. Setelah mengambil barang-barang dari bagasi, buru-buru kami menjumpai seorang teman yang sudah menanti. Hari yang merupakan putra daerah Belitung akan menjadi tour guide kami. Selanjutnya kami berempat digiring ke halaman parkir dimana mobil yang kami sewa seharga Rp. 250.000,- per hari (note: harga tersebut belum termasuk sopir) telah siap mengantar berkeliling.

Mobil yang kami kendarai meluncur dengan lancar di jalanan kota yang terlihat sepi bila dibading Jakarta tentunya. Setelah melewati beberapa perempatan, kami tiba di kedai Telapak untuk menjemput Iqbal yang datang ke Belitung sehari sebelumnya  dan 3 orang teman Belitung lainnya Dita, Ramses, Alfa yang akan bergabung dengan kami.      

Sementara yang lain mempersiapkan berbagai hal berikut menata barang-barang bawaan ke dalam mobil, aku dan Nofe berjalan ke arah Rumah Adat Belitung yang tidak jauh dari kedai Telapak. Keberadaan Rumah Adat Belitung sendiri masih relatif baru, hal ini  terlihat pada batu peresmiaannya tertanggal 30 Juni 2009.

Rabu, 18 Juli 2012

TERSESAT DI PULAU SERIBU


Oleh: Wedhya Wardani
Perjalanan bersama: Thawfiqa Tsulutsiah (FIQA) dan Wahid Taufa Widhi(TOFA)
Jakarta, Juni 2011
 
Perjalanan dimulai dengan perburuan untuk mendapatkan tiket kapal yang menurut informasi terakhir, kapal tipe kerapu yang disediakan oleh Dinas Perhubungan hanya mampu menampung 20 orang berikut jadwal keberangkatan yang harusnya dua kali dalam sehari menjadi hanya satu kali beroperasi karena alasan teknis “dalam perawatan” alias “rusak”. Kami tiba di Marina Ancol sekitar jam empat shubuh. Dan kami sangat terkejut saat mengetahui bahwa antrian menuju pulau Tidung yang terkenal dengan jembatan cintanya itu telah sampai di antrian ke-20, atau dengan kata lain kami diurutan ke-21 dan seterusnya.
            Walau demikian kami tetap turut mengantri,  dengan harapan petugas akan bersimpati pada keteguhan dan usaha keras kami. Selain itu informasi dari salah seorang pengantri yang menurut pengakuannya adalah penduduk di pulau tidung yakni kemungkinan pihak pengelola menambah kapal yang menuju kepulau tersebut, menguatkan kami untuk tidak hengkang dari jajaran para pengantri. 
Persis pukul enam pagi tidak kurang ataupun lewat, pintu loket dibuka. Satu persatu mengikuti antrian, orang-orang membeli tiket sambil menyodorkan KTP kepada petugas untuk dicatat namanya. Tepat giliranku, petugas berseragam putih terseyum, sambil mengatakan tiket habis dan loket ditutup. Padahal dibelakangku masih ada lebih dari 20 orang yang antri mulai dari sebelum matahari menyilaukan permukaan pantai.
           Kami menepi dengan tidak rela, jika perjalanan kami akan gagal hanya gara-gara tidak adanya tiket. Seorang calon penumpang yang juga tidak kebagian tiket menyapa dan menawari kami untuk naik Kapal Predator. Yakni sebutan untuk kapal dengan kecepatan tinggi (speed boat) yang dikelola oleh swasta. Namun yang membuat kami enggan adalah harga tiket per orang sebesar Rp. 200.000,- untuk satu kali jalan. Disaat itulah satu ide muncul dengan amat sangat briliant. Kami akan membeli tiket kapal kerapu dengan tujuan pulau manapun, dan dari sana kami akan menyewa kapal untuk menuju Tidung. Kamipun sepakat dengan cepat. Sementara orang-orang masih bingung menentukan pilihan, kami telah lari ke loket yang berada disebelah. Ternyata perjuangan kami tidak sia-sia, tersisa tiga tiket menuju pulau Kelapa. Kami segera membayar harga tiket sebesar Rp. 32.000,- per orang yang sudah termasuk biaya asuransi.

       Segera kami mengangkat ransel yang tergeletak di pelataran loket, menuju dermaga-21 tempat pemberangkatan. Disana seorang petugas telah siap dengan corong pengeras suara memanggil nama penumpang satu demi satu. Dengan tertib pula setiap penumpang maju dan masuk ke dalam kapal. Sungguh pengalaman yang unik, karena untuk naik pesawat saja tidak sampai seketat yang diterapkan untuk penumpang kapal kerapu. 
           Semua penumpang telah duduk ditempat masing-masing, termasuk diriku yang duduk paling depan. Selanjutnya salah seorang awak kapal berdiri disamping kemudi dan lagi-lagi ia mendata seluruh nama para penumpang. Kami mengangkat telunjuk dengan bangga. Selanjutnya kru kapal menerangkan aturan yang berlaku selama pelayaran, serta menunjukkan pelampung yang terletak di bawah bangku masing-masing penumpang. Dan sebagai penutup ia membagikan satu paket cemilan yang berisi snack dan minuman gelas kepada masing-masing penumpang.  
            Begitu kapten kapal bergabung bersama kami pintu kapal segera ditutup. Sang kapten memberi salam dibarengi senyum ramah, kemudian iapun duduk dikursi kehormatan dengan gagah.  Dengan percaya diri Ia memutar kunci, mirip orang darat yang menghidupkan mesin mobil. Selanjutnya ia mulai sibuk mengemudikan badan kapal yang bergerak dengan lembut diatas perairan.  Meninggalkan dermaga menuju lautan.