Oleh: Wedhya Wardani
Perjalanan bersama: Thawfiqa Tsulutsiah
(FIQA) dan Wahid Taufa Widhi(TOFA)
Jakarta, Juni 2011
Perjalanan dimulai dengan
perburuan untuk mendapatkan tiket kapal yang menurut informasi terakhir, kapal
tipe kerapu yang disediakan oleh Dinas Perhubungan hanya mampu
menampung 20 orang berikut jadwal keberangkatan yang harusnya dua kali dalam
sehari menjadi hanya satu kali beroperasi karena alasan teknis “dalam
perawatan” alias “rusak”. Kami tiba di Marina Ancol sekitar jam empat shubuh.
Dan kami sangat terkejut saat mengetahui bahwa antrian menuju pulau Tidung yang terkenal dengan jembatan cintanya itu telah sampai
di antrian ke-20, atau dengan kata lain kami diurutan ke-21 dan seterusnya.
Walau
demikian kami tetap turut mengantri,
dengan harapan petugas akan bersimpati pada keteguhan dan usaha keras kami. Selain itu informasi dari salah seorang pengantri yang menurut pengakuannya adalah
penduduk di pulau tidung yakni kemungkinan pihak pengelola menambah kapal yang
menuju kepulau tersebut, menguatkan kami untuk tidak hengkang dari jajaran para pengantri.
Persis pukul enam pagi tidak kurang ataupun lewat, pintu
loket dibuka. Satu persatu mengikuti antrian, orang-orang membeli tiket sambil
menyodorkan KTP kepada petugas untuk dicatat namanya. Tepat giliranku, petugas
berseragam putih terseyum, sambil mengatakan tiket habis dan loket ditutup.
Padahal dibelakangku masih ada lebih dari 20 orang yang antri mulai dari
sebelum matahari menyilaukan permukaan pantai.
Kami
menepi dengan tidak rela, jika perjalanan kami akan gagal hanya gara-gara tidak
adanya tiket. Seorang calon penumpang yang juga tidak kebagian
tiket menyapa dan menawari kami untuk naik Kapal Predator. Yakni sebutan untuk
kapal dengan kecepatan tinggi (speed
boat) yang dikelola oleh swasta. Namun yang membuat kami enggan adalah
harga tiket per orang sebesar Rp. 200.000,- untuk satu kali jalan. Disaat
itulah satu ide muncul dengan amat sangat briliant. Kami akan membeli tiket kapal
kerapu dengan tujuan pulau manapun, dan dari sana kami akan menyewa kapal untuk
menuju Tidung. Kamipun sepakat dengan cepat. Sementara orang-orang masih
bingung menentukan pilihan, kami telah lari ke loket yang berada disebelah.
Ternyata perjuangan kami tidak sia-sia, tersisa tiga tiket menuju pulau Kelapa.
Kami segera membayar harga tiket sebesar Rp. 32.000,- per orang yang sudah
termasuk biaya asuransi.
Semua penumpang telah duduk ditempat masing-masing, termasuk diriku yang duduk paling depan. Selanjutnya salah seorang awak kapal berdiri disamping kemudi dan lagi-lagi ia mendata seluruh nama para penumpang. Kami mengangkat telunjuk dengan bangga. Selanjutnya kru kapal menerangkan aturan yang berlaku selama pelayaran, serta menunjukkan pelampung yang terletak di bawah bangku masing-masing penumpang. Dan sebagai penutup ia membagikan satu paket cemilan yang berisi snack dan minuman gelas kepada masing-masing penumpang.
Begitu kapten kapal bergabung bersama kami pintu kapal segera ditutup. Sang kapten memberi salam
dibarengi senyum ramah, kemudian iapun duduk dikursi kehormatan dengan gagah. Dengan percaya diri Ia memutar kunci, mirip
orang darat yang menghidupkan mesin mobil. Selanjutnya ia mulai sibuk
mengemudikan badan kapal yang bergerak dengan lembut diatas perairan. Meninggalkan dermaga menuju lautan.
“Hemmm….. akhirnya kita
berlayar,” desisku dengan riang, sembari memakai kaca mata untuk meneduhkan
penglihatanku.
Belum
ada satu menit, kapal berlayar. Aku diburu oleh keringat dingin dan perasaan
tidak nyaman. Selain karena aku sendiri punya masalah dengan ruang sempit dan
tertutup, hentakan-hentakan ombak yang diterjang oleh badan kapal benar-benar
mengaduk perutku. Parahnya, Aku merasa terperangkap dalam kaleng yang kedap
udara lalu dilontar-lontarkan di jalan berbatu. Aku benar-benar tersiksa. Aku
tidak bisa bertahan lagi. Aku telah sampai pada batas daya tahanku. Aku pasrah
untuk mabuk laut.
Disaat yang kritis justru hentakan-hentakan yang menjungkir
balikkan isi perutku menghilang. Kapal bergerak gemulai, seperti seekor angsa
yang berenang di atas air kolam. Begitu tenang dan anggun memasuki teluk dengan
hamparan pasir putih dan merapat ke galangan. Seorang
awak kapal segera membuka pintu, yang langsung diserbu oleh semilirnya angin
pantai. Membuat paru-paruku bisa bernafas dengan lega. Aku ikut keluar bersama penumpang yang lain agar lebih bebas
menghirup O2 yang telah menyelamatkan diriku. Kepalaku yang
berdenyut-denyut mendadak sembuh terhipnotis oleh keindahan pulau. Dari salah
satu seorang penumpang kami mengetahui jika pulau yang disinggahi bernama ‘Pulau
Pari’.
Selesai dengan kegiatan
bongkar muat, kapal kembali diberangkatkan. Kali ini aku tidak lagi duduk di
depan. Karena salah seorang penumpang yang baik hati memberi tempat duduknya
yang berada di belakang. Kapal kembali digoyang oleh ombak. Hentakan-hentakan
kian keras, tapi memang benar dengan duduk di belakang aku tidak terlalu
merasakan mual. Kapal terus melaju, lalu bersandar sebentar di pulau Pramuka
untuk menurunkan penumpang, kemudian kembali lagi memecah ombak laut Jawa yang
bergelung-gelung. Akhirnya setelah kurang lebih dua jam berangkat dari pantai
Marina-Ancol-Jakarta Utara, kapal tiba ditujuan
terakhir ‘Pulau Kelapa’.
Saat kami turun dari kapal, untuk sesaat aku tertegun melihat deretan becak-becak disepanjang
dermaga, karena seperti kita ketahui kendaraan antik yang dikayuh oleh tenaga
manusia ini sudah sulit ditemui lagi di Jakarta. Beberapa dari mereka
menawarkan jasanya berikut menanyakan tujuan kami. Kami hanya beradu pandang, berdiri
di dermaga pulau Kelapa layaknya tiga musyafir yang kehilangan arah.
Sampai
salah seorang dari kami mengambil inisiatif setuju untuk naik becak, aku
berbisik padanya apakah dirinya tahu kita harus kemana, ia menggeleng. ‘Upss’,
kemudian aku bertanya lagi berapa ongkos naik becak?
Temanku menjawab,
”sepuluh ribu.”
“Kemana?”
“Mereka menyebutkan
nama Tanjung Harapan, aku iyakan saja,” terangnya sembari menarikku agar naik
ke atas becak. Aku tidak bertanya lagi, karena aku yakin kalaupun aku bertanya
lebih detail, jawabannya adalah ‘nyengir’ alias tidak tahu.
Duduk manis diatas kendaraan beroda tiga, kami meluncur meninggalkan dermaga pulau Kelapa yang
sebenarnya pulau kecil yang menghubungkan pulau Kelapa besar dan pulau Tanjung
Harapan. Kami melintasi jalan berpaving yang di kanan kirinya adalah air laut, sedang disepanjang jalan terdapat beberapa pos jaga atau tempat
peristirahatan bercat merah. Sangat nyaman digunakan untuk bersantai sambil
menikmati udara pantai. Kami terus meluncur, sambil mengumpulkan berbagai
informasi dari abang tukang becak yang dengan antusias menjelaskan berbagai
hal.
Kurang dari sepuluh
menit, kami telah sampai diujung perjalanan, yakni taman yang ada di pulau
Tanjung Harapan. Kami segera meletakkan barang-barang dan meluruskan badan
untuk beberapa saat di rumah-rumahan bergaya joglo. Selanjutnya sambil membuka bekal yang
seharusnya untuk makan pagi, kami mengatur rencana, yakni mencari ojek kapal
dan kembali ketujuan awal yakni pulau Tidung, dimana team kami yang lain
mungkin telah menunggu. Karena sebenarnya kami terbagi menjadi dua team, aku,
Fiqa dan Tofa berangkat pagi, agar satu-satunya
peserta pria yang ada bisa menunaikan ibadah sholat
Jum’at. Sedang empat teman yang lain karena beberapa alasan berangkat siang hari.
Sementara aku sibuk
menghubungi team dengan jadwal keberangkatan siang, seorang
pria paruh baya menghampiri kami. Mula-mula ia memperkenalkan namanya dan
posisinya sebagai kepala RT di pulau Tanjung Harapan. Dan saat kami bertanya
apakah kami bisa menyewa kapal untuk pergi ke pulau Tidung. Bapak yang santun
itu menerangkan bahwa pulau Tidung berada di bagian Selatan dan sekarang kami
berada di Utara. Jarak tempuhnya kira-kira sama dengan kami pulang lagi ke
Jakarta, kurang lebih tiga hingga empat jam dengan kapal kayu dalam keadaan cuaca cerah. Aku menelan
ludah. Selanjutnya beliau menawarkan perjalanan keliling pulau, bahkan beliau sendiri
yang akan menjadi pemandu. Untuk kesekian kalinya kami bertiga beradu pandang.
Melihat hal tersebut Bapak RT segera membagi nomer telpon kepada kami, dan
dengan sopan sebagaimana datang, beliau mohon diri.
Begitu pak Nawawi pergi, aku meminta kedua
temanku untuk memeriksa uang yang ada di dompet masing-masing, sampai pecahan
yang terkecil. Setelah memperhitungkan segala kemungkinan baik waktu, biaya
juga saving money jika sesuatu
terjadi, dengan suara bulat kami memutuskan menerima tawaran bapak RT dan
meminta maaf kepada rekan-rekan kami yang berada di Pulau Tidung, karena kami tidak bisa bergabung dengan mereka berikut
merelakan DP yang sudah disetor.
Tanpa membuang waktu
kami bergegas menemui pak Nawawi. Dan menjelaskan rencana yang kami buat secara
dadakan. Singkatnya kami segera diantar ke ‘Home
Stay’ seharga Rp. 250.000,- permalam (sewa rumah berbeda-beda tergantung
jumlah kamar dan fasilitas, tapi rata-rata sudah ada AC, TV dan tempat tidur spring bed). Tidak lupa kami juga
memesan makan dengan tarip yang sama di pulau lain (Tidung atau Pramuka) yakni
Rp. 15.000,-/orang.
Selesai menunaikan ibadah sholat Jum’at (bagi laki-laki) dan
sholat dhuhur (bagi perempuan), kami segera pergi ke pantai. Disana Pak Nawawi
(Nama bapak RT) dan tiga orang laki-laki
yang
sekilas kami kenal saat di rumah pak Nawawi beberapa jam yang lalu tengah
sibuk menaikkan perlengkapan kemah dan memancing. Kami-pun bersegera menaikkan
barang-barang bawaan kami berikut alat snorkeling yang kami sewa seharga Rp.
35.000/set terdiri dari kacamata berikut alat untuk bernafas, jaket pelampung
dan sepatu karet.
Perahu yang kami
naiki adalah perahu kayu yang menggunakan mesin tempel atau motor sebagai
penggeraknya. Perahu yang biasanya digunakan oleh pak Nawawi untuk mencari ikan
ini mampu memuat penumpang antara sepuluh hingga dua belas orang. Dan sebagai
informasi harga sewa kapal sekitar Rp. 250.000,- hingga Rp. 350.000,-. Penetapan
harga sewa kapal umumnya berdasar pada perhitungan pemakaian bahan bakar. Semakin
banyak pulau yang ingin dikunjungi otomatis pemakaian bahan bakarnya banyak dan
tentunya berimbas pada harga. Aku melihat, khususnya pak Nawawi masih belum
memperdulikan skill alias kemampuan yang dimilikinya yang sebenarnya layak untuk dihargai. Karenanya
kami sepakat untuk memberi tambahan pembayaran kepada Beliau nanti.
Kami yang
berada di dalam perahu telah
berada dilautan, timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang. Namun pak Nawawi
dengan lihai mengemudikan perahu sambil menyebutkan nama pulau-pulau yang kami
lalui; pulau Bulat, pulau Genting kecil, pulau
Genting besar, pulau Panjang, pulau Matahari, pulau Belanda, dan seterusnya. Sementara itu di
bagian depan tiga orang pria yang berencana untuk berkemah disalah satu pulau
yang ada tidur terlentang menghadap matahari.
Sedang Si Tofa
sibuk bermain air dengan menggantungkan kakinya di bibir
perahu, membuat Fiqa bersungut karena air mencipratinya. Dan aku yang duduk di belakang, lengkap memakai pelampung memeluk
erat tiang penutup kapal, pastinya aku sudah tidak
mual apalagi mabuk laut, tapi aku takut tergelincir dari perahu.
Kami tiba
di pulau pertama, pulau Bira Besar yang dulunya adalah resort dimana pengelola
pulau yang notabene adalah orang asing sudah pulang ke negaranya. Kondisi resort
tersebut kurang terkelola, walau demikian beberapa cottage-nya masih disewakan dengan harga yang lumayan tinggi. Puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan
lagi, dan kami merapat ke pulau Perak. Sesuai dengan namanya tepian pantainya
yang berpasir putih sangat berkilau tertimpa cahaya matahari. Disini Fiqa
menemukan kerang cantik. Dan ketiga teman seperjalanan kami memutuskan untuk
berkemah di pulau tersebut.
Kunjungan
berikutnya adalah ke pulau Putri, yang sedianya adalah resort yang masih
dikelola dengan baik. Kami sengaja singgah karena tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan untuk melihat aquarium bawah lautnya yang memamerkan trumbu karang
dan beberapa spesies ikan hias yang indah. Tidak itu saja di pulau putri
ternyata terdapat penangkaran biawak yakni sebangsa reptil yang termasuk
golongan kadal besar. Biaya masuk ke pulau ini Rp. 50.000,- per-orang. Kunjungan
kami di pulau ini diakhiri dengan lomba berenang antara Fiqa dan Tofa di kolam
renang yanga ada di pulau, sedangkan aku terpilih sebagai juri dan cameramen.
Sebagai
puncak acara, pak Nawawi membawa kami ke perairan sekitar pulau Macan (Tiger Island). Setelah melempar jangkar
dan memberi panduan penggunaan alat snorkling, pak Nawawi lebih dahulu
menceburkan dirinya ke dalam laut, diikuti Fiqa dan Tofa. Sedang aku masih
menanti diatas perahu. Fiqa segera
meyakinkan aku bahwa dengan jaket pelampung yang aku pakai, aku tidak usah
khawatir tenggelam. Bukan itu saja, kawan satu ini membagi semboyan hidupnya
disaat yang kurang tepat, yakni ‘BERENANG MEMBUAT DIRIMU PERCAYA DIRI’. Kontan
aku tertawa, karena tidak ada korelasi antara keduanya. Namun akhirnya aku
memberanikan diriku menceburkan diri ke laut dan mencoba melihat keindahaan
bawah laut, yang ternyata sangat MENAKJUBKAN.
Puas
berenang dan menikmati pemandangan bawah laut berikut foto-foto dengan bintang
laut yang ditemukan. Kami bergegas naik ke perahu setelah pak Nawawi
mengingatkan bahwa matahari mulai lungsur. Di pulau Genting Kecil perahu kami
merapat, di dermaga-nya kami mengabadikan tenggelamnya matahari di laut Kepulauan
Seribu.
-^-
Walau kami tidak sempat menjemput sunrise karena antrian kamar mandi, begitu makan pagi telah siap
untuk dibawa, kami-pun segera berkemas meninggalkan home stay. Karena menurut informasi yang kami dapat; perahu/ kapal
yang menuju Muara Angke berangkat jam 07:00, sementara jadwal kapal kedua belum tentu ada.
Sembari menikmati angin laut,
kami menyusuri jalan dimana awal kedatangan kami diantar tanpa tujuan oleh
abang becak. Namun kali ini kami tidak menggunakan jasa mereka, kami memilih
jalan kaki sambil menikmati udara laut yang bersih.
Kami sampai di dermaga dimana kami diturunkan kemarin. Tapi
yang membuat kami heran adalah kami tidak menjumpai satu orangpun disana.
Awalnya kami berfikir, kami datang terlalu pagi. Sampai kami menyadari ada
sesuatu yang mencurigakan, karenanya Tofa menelpon pak Nawawi. Selanjutnya
memang benar adanya, bahwa kami salah dermaga. Dermaga kapal kayu berbeda
dengan dermaga untuk kapal Kerapu, yakni di pulau Kelapa. Tanpa menunggu lebih
lama kami-pun bergegas dengan berlari-lari menuju dermaga yang berada di
sebelah kiri belakang dermaga kapal cepat.
Sampai
di dermaga kapal kayu kami terengah-engah, dengan nafas memburu sejenak kami
bertiga saling pandang. Tanpa kata yang terlontar kiranya aku dapat menasbihkan
pertanyaan kami sama yaitu, siapa yang akan jadi sukarelawan bertanya mengenai
kapal mana yang akan berangkat. Lagi-lagi tanpa bicara, sedetik kemudian kami telah
menyebar seperti tukang survei. Masing-masing bertanya dengan cara dan gaya-nya.
Dan saat seorang anak buah kapal melambai ke arah kami. Dengan cepat dan sigap kami naik ke kapal
yang berada dideret ke tiga.
Sebagai
info saja, tidak semua kapal melayani rute panjang yakni Pulau Kelapa hingga Muara
Angke. Terdapat kapal dengan rute pendek yakni antar pulau terdekat. Karena
kami berencana singah di pulau Pramuka terlebih dahulu sebelum pulang maka kami
memilih kapal dengan rute pendek.
Lewat
sedikit dari waktu yang mereka jadwalkan, kapal-pun bergerak menjauhi dermaga
Pulau Kelapa. Semilir angin berubah lebih keras, walau demikian kantuk yang kuat
menyerangku. Aku tak kuasa menahannya. Akupun benar-benar tertidur dibuatnya.
Baru ketika kapal merapat di pulau Pramuka, Fiqa dan Tofa membangunkanku. Aku terjaga
dan bersiap mengangkat tasku sembari menanyakan apakah ongkos kapal sudah
dibayar atau belum? Fiqa menjawab ongkosnya Rp. 10.000/orang. Aku tersenyum
padanya sebagai ucapan terima kasih, sambil mengikuti langkah Tofa yang sudah
terlebih dahulu melompat ke daratan.
Pulau
Pramuka selain merupakan pusat pemerintahan dari kepulauan seribu, pulau ini
juga terkenal dengan adanya penangkaran penyu-nya. Jauh berbeda dengan pulau
Kelapa atau Tanjung Harapan yang terkesan tenang, pulau Pramuka sangat ramai.
Para wisatawan yang rata-rata pribumi alias warga Ibu Kota itu seolah berpindah
tempat untuk menghabiskan hari liburnya di pulau tersebut. Ada yang
bersiap-siap bersnorkle atau diving dan
ada pula yang bersepeda santai mengelilingi pulau. Sementara itu para pedagang banyak berjajar
dipinggir jalan menjual oleh-oleh yang kebanyakan adalah hasil laut yang
diawetkan/ diasin, atau berjulan makanan dan minuman dingin.
Setelah
bertanya beberapa kali, pada penduduk setempat,
kami sampai di tempat penangkaran penyu. Namun tidak seperti yang aku bayangkan.
Keadaan penangkaran itu sangat minim sekali. Saat kami berkunjung hanya ada
satu penjaga yang melayani. Selain terkesan jauh dari ramah dalam menyambut
tamu, Bapak yang kutaksir berusia diatas 50 tahun itu hanya memberi ijin kepada
para penggunjung yang disertai PIC setempat.
Namun setelah melakukan pendekatan ‘humanity’, kami diperbolehkan masuk.
Tanpa menunda lagi kami bertiga-pun memasuki bangunan semi permanen yang di
dalamnya terdapat kolam-kolam berisi penyu-penyu yang diklasifikasikan sesuai
dengan umurnya. Mereka ditangkar, disehatkan untuk kemudian akan dikembalikan
lagi ke habitat aslinya. Selain penangkaran penyu, kami melihat ada penyemaian
bibit bakau juga di tempat tersebut.
Hari telah
cukup siang, ketika kami menyudahi kunjungan di penangkaran tukik.
Kami-pun menuju dermaga untuk membeli
tiket kapal cepat, dan untuk yang kesekian kali sepertinya kami belum
beruntung. Karena menurut petugas, jadwal keberangkatan kapal cepat belum bisa
dipastikan, karena masih harus menunggu kapal ke-dua yang datang dari Ancol.
Setelah
berembuk, kami sepakat tidak bisa mengandalkan kapal cepat dengan jadwal yang
belum pasti. Jadi rencana-B segera dijalankan yakni menuju dermaga kapal kayu. Sekitar
30 menit kami menunggu, akhirnya kapal
yang dinantikan datang juga. Seluruh penumpang yang rata-rata adalah wisatawan
lokal menempati ruangan kapal yang ada.
Baru saja
aku mau menyandarkan punggungku di dinding kapal, aku mendengar keributan antara kapten kapal dan team penjual
karcis. Sang kapten menolak memberangkatkan kapalnya jika penumpang yang ada
kurang dari quota. Adu ngotot-pun terjadi antara kedua belah pihak, sementara itu
kami terpanggang di dalam kapal. Untunglah segera disepakati biaya tambahan
untuk menutup biaya bahan bakar dan hal tersebut dibebankan kepada para
penumpang. Seluruh penumpang hanya bisa mengaminkan keputusan sepihak itu,
karena tidak punya pilihan lain, selain harus membayar biaya tambahan jika
ingin kapal segera berangkat.
Akhirnya
kapal-pun bertolak dari pulau Pramuka menuju dermaga Muara Angke. Naik kapal
kayu sangat berbeda dengan kapal cepat. Apabila naik kapal kayu rasanya seperti
dalam buaian, diayun-ayun dan layaknya kanak-kanak yang dinina bobokan. Aku
tersirep, lelap dan baru terbangun saat kapal sudah merapat di dermaga Muara
Angke.
-^^-
--Catatan Penulis--
- CP di pulau Harapan, Bapak Nawawi : 0818 0841 8677
- Membawa ‘cash money’ yang cukup sangat dianjurkan, karena di pulau tidak bisa mengandalkan kartu yang anda miliki, sebab mesin ATM-nya belum ada.
- Agar tidak ikut tersesat seperti kami, jangan pernah malu untuk bertanya.
- Menuju pulau-pulau di Kepulauan Seribu untuk tujuan Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa/ Tanjung Harapan bisa ditempuh dari 2 dermaga:
- Dermaga-12 Ancol: memakai kapal cepat berkapasitas 20 penumpang. Jadwal keberangkatan jam 08:00 pagi dan jam 02:00 siang. Untuk jadwal siang tergantung jumlah penumpang dan/atau cuaca. Khusus hari Jum’at hanya pagi saja. Pembelian tiket dilayani satu jam sebelum keberangkatan, namun tidak jarang para penumpang sudah antri dari 2 bahkan 3 jam sebelumnya, terutama jika musim liburan. Lama perjalanan sekitar 2 jam (Jakarta hingga tujuan akhir pulau Kelapa/ Tanjung Harapan)
- Dermaga Muara Angke (pasar ikan muara angke): memakai kapal kayu nelayan berkapasitas hingga 200 penumpang. Jadwal keberangkatan jam 07:00 pagi dan jam 02:00 siang (PP). Lama perjalanan sekitar 4 jam (Jakarta hingga tujuan akhir pulau Kelapa/ Tanjung Harapan). Jika lewat dermaga ini jangan lupa bawa masker, pakai sendal japit, celana pendek karena lokasi ini sering banjir.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar