Rabu, 18 Juli 2012

TERSESAT DI PULAU SERIBU


Oleh: Wedhya Wardani
Perjalanan bersama: Thawfiqa Tsulutsiah (FIQA) dan Wahid Taufa Widhi(TOFA)
Jakarta, Juni 2011
 
Perjalanan dimulai dengan perburuan untuk mendapatkan tiket kapal yang menurut informasi terakhir, kapal tipe kerapu yang disediakan oleh Dinas Perhubungan hanya mampu menampung 20 orang berikut jadwal keberangkatan yang harusnya dua kali dalam sehari menjadi hanya satu kali beroperasi karena alasan teknis “dalam perawatan” alias “rusak”. Kami tiba di Marina Ancol sekitar jam empat shubuh. Dan kami sangat terkejut saat mengetahui bahwa antrian menuju pulau Tidung yang terkenal dengan jembatan cintanya itu telah sampai di antrian ke-20, atau dengan kata lain kami diurutan ke-21 dan seterusnya.
            Walau demikian kami tetap turut mengantri,  dengan harapan petugas akan bersimpati pada keteguhan dan usaha keras kami. Selain itu informasi dari salah seorang pengantri yang menurut pengakuannya adalah penduduk di pulau tidung yakni kemungkinan pihak pengelola menambah kapal yang menuju kepulau tersebut, menguatkan kami untuk tidak hengkang dari jajaran para pengantri. 
Persis pukul enam pagi tidak kurang ataupun lewat, pintu loket dibuka. Satu persatu mengikuti antrian, orang-orang membeli tiket sambil menyodorkan KTP kepada petugas untuk dicatat namanya. Tepat giliranku, petugas berseragam putih terseyum, sambil mengatakan tiket habis dan loket ditutup. Padahal dibelakangku masih ada lebih dari 20 orang yang antri mulai dari sebelum matahari menyilaukan permukaan pantai.
           Kami menepi dengan tidak rela, jika perjalanan kami akan gagal hanya gara-gara tidak adanya tiket. Seorang calon penumpang yang juga tidak kebagian tiket menyapa dan menawari kami untuk naik Kapal Predator. Yakni sebutan untuk kapal dengan kecepatan tinggi (speed boat) yang dikelola oleh swasta. Namun yang membuat kami enggan adalah harga tiket per orang sebesar Rp. 200.000,- untuk satu kali jalan. Disaat itulah satu ide muncul dengan amat sangat briliant. Kami akan membeli tiket kapal kerapu dengan tujuan pulau manapun, dan dari sana kami akan menyewa kapal untuk menuju Tidung. Kamipun sepakat dengan cepat. Sementara orang-orang masih bingung menentukan pilihan, kami telah lari ke loket yang berada disebelah. Ternyata perjuangan kami tidak sia-sia, tersisa tiga tiket menuju pulau Kelapa. Kami segera membayar harga tiket sebesar Rp. 32.000,- per orang yang sudah termasuk biaya asuransi.

       Segera kami mengangkat ransel yang tergeletak di pelataran loket, menuju dermaga-21 tempat pemberangkatan. Disana seorang petugas telah siap dengan corong pengeras suara memanggil nama penumpang satu demi satu. Dengan tertib pula setiap penumpang maju dan masuk ke dalam kapal. Sungguh pengalaman yang unik, karena untuk naik pesawat saja tidak sampai seketat yang diterapkan untuk penumpang kapal kerapu. 
           Semua penumpang telah duduk ditempat masing-masing, termasuk diriku yang duduk paling depan. Selanjutnya salah seorang awak kapal berdiri disamping kemudi dan lagi-lagi ia mendata seluruh nama para penumpang. Kami mengangkat telunjuk dengan bangga. Selanjutnya kru kapal menerangkan aturan yang berlaku selama pelayaran, serta menunjukkan pelampung yang terletak di bawah bangku masing-masing penumpang. Dan sebagai penutup ia membagikan satu paket cemilan yang berisi snack dan minuman gelas kepada masing-masing penumpang.  
            Begitu kapten kapal bergabung bersama kami pintu kapal segera ditutup. Sang kapten memberi salam dibarengi senyum ramah, kemudian iapun duduk dikursi kehormatan dengan gagah.  Dengan percaya diri Ia memutar kunci, mirip orang darat yang menghidupkan mesin mobil. Selanjutnya ia mulai sibuk mengemudikan badan kapal yang bergerak dengan lembut diatas perairan.  Meninggalkan dermaga menuju lautan.
“Hemmm….. akhirnya kita berlayar,” desisku dengan riang, sembari memakai kaca mata untuk meneduhkan penglihatanku.
            Belum ada satu menit, kapal berlayar. Aku diburu oleh keringat dingin dan perasaan tidak nyaman. Selain karena aku sendiri punya masalah dengan ruang sempit dan tertutup, hentakan-hentakan ombak yang diterjang oleh badan kapal benar-benar mengaduk perutku. Parahnya, Aku merasa terperangkap dalam kaleng yang kedap udara lalu dilontar-lontarkan di jalan berbatu. Aku benar-benar tersiksa. Aku tidak bisa bertahan lagi. Aku telah sampai pada batas daya tahanku. Aku pasrah untuk mabuk laut. 
Disaat yang kritis justru hentakan-hentakan yang menjungkir balikkan isi perutku menghilang. Kapal bergerak gemulai, seperti seekor angsa yang berenang di atas air kolam. Begitu tenang dan anggun memasuki teluk dengan hamparan pasir putih dan merapat ke galangan. Seorang awak kapal segera membuka pintu, yang langsung diserbu oleh semilirnya angin pantai. Membuat paru-paruku bisa bernafas dengan lega. Aku ikut keluar bersama penumpang yang lain agar lebih bebas menghirup O2 yang telah menyelamatkan diriku. Kepalaku yang berdenyut-denyut mendadak sembuh terhipnotis oleh keindahan pulau. Dari salah satu seorang penumpang kami mengetahui jika pulau yang disinggahi bernama ‘Pulau Pari’.  
 Selesai dengan kegiatan bongkar muat, kapal kembali diberangkatkan. Kali ini aku tidak lagi duduk di depan. Karena salah seorang penumpang yang baik hati memberi tempat duduknya yang berada di belakang. Kapal kembali digoyang oleh ombak. Hentakan-hentakan kian keras, tapi memang benar dengan duduk di belakang aku tidak terlalu merasakan mual. Kapal terus melaju, lalu bersandar sebentar di pulau Pramuka untuk menurunkan penumpang, kemudian kembali lagi memecah ombak laut Jawa yang bergelung-gelung. Akhirnya setelah kurang lebih dua jam berangkat dari pantai Marina-Ancol-Jakarta Utara, kapal tiba ditujuan terakhir ‘Pulau Kelapa’.
            Saat kami turun dari kapal, untuk sesaat aku tertegun melihat deretan becak-becak disepanjang dermaga, karena seperti kita ketahui kendaraan antik yang dikayuh oleh tenaga manusia ini sudah sulit ditemui lagi di Jakarta. Beberapa dari mereka menawarkan jasanya berikut menanyakan tujuan kami. Kami hanya beradu pandang, berdiri di dermaga pulau Kelapa layaknya tiga musyafir yang kehilangan arah.
            Sampai salah seorang dari kami mengambil inisiatif setuju untuk naik becak, aku berbisik padanya apakah dirinya tahu kita harus kemana, ia menggeleng. ‘Upss’, kemudian aku bertanya lagi berapa ongkos naik becak?
Temanku menjawab, ”sepuluh ribu.”
“Kemana?”
“Mereka menyebutkan nama Tanjung Harapan, aku iyakan saja,” terangnya sembari menarikku agar naik ke atas becak. Aku tidak bertanya lagi, karena aku yakin kalaupun aku bertanya lebih detail, jawabannya adalah ‘nyengir’ alias tidak tahu.
Duduk manis diatas kendaraan beroda tiga, kami meluncur meninggalkan dermaga pulau Kelapa yang sebenarnya pulau kecil yang menghubungkan pulau Kelapa besar dan pulau Tanjung Harapan. Kami melintasi jalan berpaving yang di kanan kirinya adalah air laut, sedang disepanjang jalan terdapat beberapa pos jaga atau tempat peristirahatan bercat merah. Sangat nyaman digunakan untuk bersantai sambil menikmati udara pantai. Kami terus meluncur, sambil mengumpulkan berbagai informasi dari abang tukang becak yang dengan antusias menjelaskan berbagai hal. 
Kurang dari sepuluh menit, kami telah sampai diujung perjalanan, yakni taman yang ada di pulau Tanjung Harapan. Kami segera meletakkan barang-barang dan meluruskan badan untuk beberapa saat di rumah-rumahan bergaya joglo.  Selanjutnya sambil membuka bekal yang seharusnya untuk makan pagi, kami mengatur rencana, yakni mencari ojek kapal dan kembali ketujuan awal yakni pulau Tidung, dimana team kami yang lain mungkin telah menunggu. Karena sebenarnya kami terbagi menjadi dua team, aku, Fiqa dan Tofa berangkat pagi, agar satu-satunya peserta pria yang ada bisa menunaikan ibadah sholat Jum’at. Sedang empat teman yang lain karena beberapa alasan berangkat siang hari.
Sementara aku sibuk menghubungi team dengan jadwal keberangkatan siang, seorang pria paruh baya menghampiri kami. Mula-mula ia memperkenalkan namanya dan posisinya sebagai kepala RT di pulau Tanjung Harapan. Dan saat kami bertanya apakah kami bisa menyewa kapal untuk pergi ke pulau Tidung. Bapak yang santun itu menerangkan bahwa pulau Tidung berada di bagian Selatan dan sekarang kami berada di Utara. Jarak tempuhnya kira-kira sama dengan kami pulang lagi ke Jakarta, kurang lebih tiga hingga empat jam dengan kapal kayu dalam keadaan cuaca cerah. Aku menelan ludah. Selanjutnya beliau menawarkan perjalanan keliling pulau, bahkan beliau sendiri yang akan menjadi pemandu. Untuk kesekian kalinya kami bertiga beradu pandang. Melihat hal tersebut Bapak RT segera membagi nomer telpon kepada kami, dan dengan sopan sebagaimana datang, beliau mohon diri.  
 Begitu pak Nawawi pergi, aku meminta kedua temanku untuk memeriksa uang yang ada di dompet masing-masing, sampai pecahan yang terkecil. Setelah memperhitungkan segala kemungkinan baik waktu, biaya juga saving money jika sesuatu terjadi, dengan suara bulat kami memutuskan menerima tawaran bapak RT dan meminta maaf kepada rekan-rekan kami yang berada di Pulau Tidung, karena kami tidak bisa bergabung dengan mereka berikut merelakan DP yang sudah disetor.
Tanpa membuang waktu kami bergegas menemui pak Nawawi. Dan menjelaskan rencana yang kami buat secara dadakan. Singkatnya kami segera diantar ke ‘Home Stay’ seharga Rp. 250.000,- permalam (sewa rumah berbeda-beda tergantung jumlah kamar dan fasilitas, tapi rata-rata sudah ada AC, TV dan tempat tidur spring bed). Tidak lupa kami juga memesan makan dengan tarip yang sama di pulau lain (Tidung atau Pramuka) yakni Rp. 15.000,-/orang. 
Selesai menunaikan ibadah sholat Jum’at (bagi laki-laki) dan sholat dhuhur (bagi perempuan), kami segera pergi ke pantai. Disana Pak Nawawi (Nama bapak RT) dan tiga orang laki-laki yang sekilas kami kenal saat di rumah pak Nawawi beberapa jam yang lalu tengah sibuk menaikkan perlengkapan kemah dan memancing. Kami-pun bersegera menaikkan barang-barang bawaan kami berikut alat snorkeling yang kami sewa seharga Rp. 35.000/set terdiri dari kacamata berikut alat untuk bernafas, jaket pelampung dan sepatu karet.
Perahu yang kami naiki adalah perahu kayu yang menggunakan mesin tempel atau motor sebagai penggeraknya. Perahu yang biasanya digunakan oleh pak Nawawi untuk mencari ikan ini mampu memuat penumpang antara sepuluh hingga dua belas orang. Dan sebagai informasi harga sewa kapal sekitar Rp. 250.000,- hingga Rp. 350.000,-. Penetapan harga sewa kapal umumnya berdasar pada perhitungan pemakaian bahan bakar. Semakin banyak pulau yang ingin dikunjungi otomatis pemakaian bahan bakarnya banyak dan tentunya berimbas pada harga. Aku melihat, khususnya pak Nawawi masih belum memperdulikan skill alias kemampuan yang dimilikinya yang sebenarnya layak untuk dihargai. Karenanya kami sepakat untuk memberi tambahan pembayaran kepada Beliau nanti.
Kami yang berada di dalam perahu telah berada dilautan, timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang. Namun pak Nawawi dengan lihai mengemudikan perahu sambil menyebutkan nama pulau-pulau yang kami lalui; pulau Bulat, pulau Genting kecil, pulau Genting besar, pulau Panjang, pulau Matahari, pulau Belanda, dan seterusnya. Sementara itu di bagian depan tiga orang pria yang berencana untuk berkemah disalah satu pulau yang ada tidur terlentang menghadap matahari. Sedang Si Tofa sibuk bermain air dengan menggantungkan kakinya di bibir perahu, membuat Fiqa bersungut karena air mencipratinya. Dan aku yang duduk di belakang, lengkap memakai pelampung memeluk erat tiang penutup kapal, pastinya aku sudah tidak mual apalagi mabuk laut, tapi aku takut tergelincir dari perahu.
Kami tiba di pulau pertama, pulau Bira Besar yang dulunya adalah resort dimana pengelola pulau yang notabene adalah orang asing sudah pulang ke negaranya. Kondisi resort tersebut kurang terkelola, walau demikian beberapa cottage-nya masih disewakan dengan harga yang lumayan tinggi.  Puas foto-foto, kami melanjutkan perjalanan lagi, dan kami merapat ke pulau Perak. Sesuai dengan namanya tepian pantainya yang berpasir putih sangat berkilau tertimpa cahaya matahari. Disini Fiqa menemukan kerang cantik. Dan ketiga teman seperjalanan kami memutuskan untuk berkemah di pulau tersebut. 
Kunjungan berikutnya adalah ke pulau Putri, yang sedianya adalah resort yang masih dikelola dengan baik. Kami sengaja singgah karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat aquarium bawah lautnya yang memamerkan trumbu karang dan beberapa spesies ikan hias yang indah. Tidak itu saja di pulau putri ternyata terdapat penangkaran biawak yakni sebangsa reptil yang termasuk golongan kadal besar. Biaya masuk ke pulau ini Rp. 50.000,- per-orang. Kunjungan kami di pulau ini diakhiri dengan lomba berenang antara Fiqa dan Tofa di kolam renang yanga ada di pulau, sedangkan aku terpilih sebagai juri dan cameramen
 Sebagai puncak acara, pak Nawawi membawa kami ke perairan sekitar pulau Macan (Tiger Island). Setelah melempar jangkar dan memberi panduan penggunaan alat snorkling, pak Nawawi lebih dahulu menceburkan dirinya ke dalam laut, diikuti Fiqa dan Tofa. Sedang aku masih menanti diatas perahu.  Fiqa segera meyakinkan aku bahwa dengan jaket pelampung yang aku pakai, aku tidak usah khawatir tenggelam. Bukan itu saja, kawan satu ini membagi semboyan hidupnya disaat yang kurang tepat, yakni ‘BERENANG MEMBUAT DIRIMU PERCAYA DIRI’. Kontan aku tertawa, karena tidak ada korelasi antara keduanya. Namun akhirnya aku memberanikan diriku menceburkan diri ke laut dan mencoba melihat keindahaan bawah laut, yang ternyata sangat MENAKJUBKAN. 
Puas berenang dan menikmati pemandangan bawah laut berikut foto-foto dengan bintang laut yang ditemukan. Kami bergegas naik ke perahu setelah pak Nawawi mengingatkan bahwa matahari mulai lungsur. Di pulau Genting Kecil perahu kami merapat, di dermaga-nya kami mengabadikan tenggelamnya matahari di laut Kepulauan Seribu.
-^-
           Walau kami tidak sempat menjemput sunrise karena antrian kamar mandi, begitu makan pagi telah siap untuk dibawa, kami-pun segera berkemas meninggalkan home stay. Karena menurut informasi yang kami dapat; perahu/ kapal yang menuju Muara Angke berangkat jam 07:00, sementara jadwal kapal kedua  belum tentu ada.
           Sembari menikmati angin laut, kami menyusuri jalan dimana awal kedatangan kami diantar tanpa tujuan oleh abang becak. Namun kali ini kami tidak menggunakan jasa mereka, kami memilih jalan kaki sambil menikmati udara laut yang bersih.
            Kami sampai di dermaga dimana kami diturunkan kemarin. Tapi yang membuat kami heran adalah kami tidak menjumpai satu orangpun disana. Awalnya kami berfikir, kami datang terlalu pagi. Sampai kami menyadari ada sesuatu yang mencurigakan, karenanya Tofa menelpon pak Nawawi. Selanjutnya memang benar adanya, bahwa kami salah dermaga. Dermaga kapal kayu berbeda dengan dermaga untuk kapal Kerapu, yakni di pulau Kelapa. Tanpa menunggu lebih lama kami-pun bergegas dengan berlari-lari menuju dermaga yang berada di sebelah kiri belakang dermaga kapal cepat.
            Sampai di dermaga kapal kayu kami terengah-engah, dengan nafas memburu sejenak kami bertiga saling pandang. Tanpa kata yang terlontar kiranya aku dapat menasbihkan pertanyaan kami sama yaitu, siapa yang akan jadi sukarelawan bertanya mengenai kapal mana yang akan berangkat. Lagi-lagi tanpa bicara, sedetik kemudian kami telah menyebar seperti tukang survei. Masing-masing bertanya dengan cara dan gaya-nya. Dan saat seorang anak buah kapal melambai ke arah kami.  Dengan cepat dan sigap kami naik ke kapal yang berada dideret ke tiga.
Sebagai info saja, tidak semua kapal melayani rute panjang yakni Pulau Kelapa hingga Muara Angke. Terdapat kapal dengan rute pendek yakni antar pulau terdekat. Karena kami berencana singah di pulau Pramuka terlebih dahulu sebelum pulang maka kami memilih kapal dengan rute pendek.
Lewat sedikit dari waktu yang mereka jadwalkan, kapal-pun bergerak menjauhi dermaga Pulau Kelapa. Semilir angin berubah lebih keras, walau demikian kantuk yang kuat menyerangku. Aku tak kuasa menahannya. Akupun benar-benar tertidur dibuatnya. Baru ketika kapal merapat di pulau Pramuka, Fiqa dan Tofa membangunkanku. Aku terjaga dan bersiap mengangkat tasku sembari menanyakan apakah ongkos kapal sudah dibayar atau belum? Fiqa menjawab ongkosnya Rp. 10.000/orang. Aku tersenyum padanya sebagai ucapan terima kasih, sambil mengikuti langkah Tofa yang sudah terlebih dahulu melompat ke daratan.
Pulau Pramuka selain merupakan pusat pemerintahan dari kepulauan seribu, pulau ini juga terkenal dengan adanya penangkaran penyu-nya. Jauh berbeda dengan pulau Kelapa atau Tanjung Harapan yang terkesan tenang, pulau Pramuka sangat ramai. Para wisatawan yang rata-rata pribumi alias warga Ibu Kota itu seolah berpindah tempat untuk menghabiskan hari liburnya di pulau tersebut. Ada yang bersiap-siap bersnorkle atau diving dan ada pula yang bersepeda santai mengelilingi pulau.  Sementara itu para pedagang banyak berjajar dipinggir jalan menjual oleh-oleh yang kebanyakan adalah hasil laut yang diawetkan/ diasin, atau berjulan makanan dan minuman dingin.  
Setelah bertanya beberapa kali, pada  penduduk setempat, kami sampai di tempat penangkaran penyu. Namun tidak seperti yang aku bayangkan. Keadaan penangkaran itu sangat minim sekali. Saat kami berkunjung hanya ada satu penjaga yang melayani. Selain terkesan jauh dari ramah dalam menyambut tamu, Bapak yang kutaksir berusia diatas 50 tahun itu hanya memberi ijin kepada para penggunjung yang disertai PIC setempat.   
Namun setelah melakukan pendekatan ‘humanity’, kami diperbolehkan masuk. Tanpa menunda lagi kami bertiga-pun memasuki bangunan semi permanen yang di dalamnya terdapat kolam-kolam berisi penyu-penyu yang diklasifikasikan sesuai dengan umurnya. Mereka ditangkar, disehatkan untuk kemudian akan dikembalikan lagi ke habitat aslinya. Selain penangkaran penyu, kami melihat ada penyemaian bibit bakau juga di tempat tersebut. 
Hari telah cukup siang, ketika kami menyudahi kunjungan di penangkaran tukik. Kami-pun  menuju dermaga untuk membeli tiket kapal cepat, dan untuk yang kesekian kali sepertinya kami belum beruntung. Karena menurut petugas, jadwal keberangkatan kapal cepat belum bisa dipastikan, karena masih harus menunggu kapal ke-dua yang datang dari Ancol.
Setelah berembuk, kami sepakat tidak bisa mengandalkan kapal cepat dengan jadwal yang belum pasti. Jadi rencana-B segera dijalankan yakni menuju dermaga kapal kayu. Sekitar 30 menit kami menunggu, akhirnya  kapal yang dinantikan datang juga. Seluruh penumpang yang rata-rata adalah wisatawan lokal menempati ruangan kapal yang ada.
Baru saja aku mau menyandarkan punggungku di dinding kapal, aku mendengar  keributan antara kapten kapal dan team penjual karcis. Sang kapten menolak memberangkatkan kapalnya jika penumpang yang ada kurang dari quota. Adu ngotot-pun terjadi antara kedua belah pihak, sementara itu kami terpanggang di dalam kapal. Untunglah segera disepakati biaya tambahan untuk menutup biaya bahan bakar dan hal tersebut dibebankan kepada para penumpang. Seluruh penumpang hanya bisa mengaminkan keputusan sepihak itu, karena tidak punya pilihan lain, selain harus membayar biaya tambahan jika ingin kapal segera berangkat.
Akhirnya kapal-pun bertolak dari pulau Pramuka menuju dermaga Muara Angke. Naik kapal kayu sangat berbeda dengan kapal cepat. Apabila naik kapal kayu rasanya seperti dalam buaian, diayun-ayun dan layaknya kanak-kanak yang dinina bobokan. Aku tersirep, lelap dan baru terbangun saat kapal sudah merapat di dermaga Muara Angke.    
-^^-
 
--Catatan Penulis--
  1. CP di pulau Harapan, Bapak Nawawi : 0818 0841 8677
  2. Membawa ‘cash money’ yang cukup sangat dianjurkan, karena di pulau tidak bisa mengandalkan kartu yang anda miliki, sebab mesin ATM-nya belum ada.
  3. Agar tidak ikut tersesat seperti kami, jangan pernah malu untuk bertanya.
  4. Menuju pulau-pulau di Kepulauan Seribu untuk tujuan Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa/ Tanjung Harapan bisa ditempuh dari 2 dermaga:
  • Dermaga-12 Ancol: memakai kapal cepat berkapasitas 20 penumpang. Jadwal keberangkatan jam 08:00 pagi dan jam 02:00 siang. Untuk jadwal siang tergantung jumlah penumpang dan/atau cuaca. Khusus hari Jum’at hanya pagi saja. Pembelian tiket dilayani satu jam sebelum keberangkatan, namun tidak jarang para penumpang sudah antri dari 2 bahkan 3 jam sebelumnya, terutama jika musim liburan. Lama perjalanan sekitar 2 jam (Jakarta hingga tujuan akhir pulau Kelapa/ Tanjung Harapan)     
  • Dermaga Muara Angke (pasar ikan muara angke): memakai kapal kayu nelayan berkapasitas hingga 200 penumpang. Jadwal keberangkatan jam 07:00 pagi dan jam 02:00 siang (PP). Lama perjalanan sekitar 4 jam (Jakarta hingga tujuan akhir pulau Kelapa/ Tanjung Harapan). Jika lewat dermaga ini jangan lupa bawa masker, pakai sendal japit, celana pendek karena lokasi ini sering banjir. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar