Senin, 18 Februari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-7): Dejavu di Lembah Sipiso-piso



20 Mei 2012
 oleh Wedhya Wardani 

Setelah berkemas, pukul delapan lewat Hendri mengantarku ke terminal Padang Bulan. Tidak seperti umumnya terminal, namun bisa dikatakan serupa pangkalan yang berada dipinggir jalan utama dimana  mobil-mobil isuzu setara minibus berderet, memanjang rapi.

Beberapa makelar atau kenek langsung menyambutku begitu aku turun dari boncengan ‘kereta’ alias sepeda motor, dengan bertanya tujuanku berikut menunjukkan mobil yang berada deretan paling depan.    

Setelah berterima kasih pada Hendri, aku segera naik ke mobil. Karena tempat di depan telah terisi, akhirnya aku memilih tempat duduk di belakang sopir, hal ini untuk keamanan dan supaya tidak tersesat atau kelewatan dimana harusnya aku turun nantinya.

Duduk di seberangku sepasang kakek dan nenek, aku melempar senyum padanya. Mereka membalas dengan keramahan nusantara. Kemudian salah satu diantaranya bertanya dengan bahasa setempat yang tidak kemengerti. Untunglah, ia segera mengulang dengan bahasa persatuan walau dengan logat sedikit kaku. Dari keduanya, minimal aku mendapat gambaran tempat yang kutuju dan perkiraan waktu tempuh perjalanan. 

Mobil melaju dengan sangat kencang walau jalan yang dilalui berkelok-kelok dan tidak jarang disisi jalan adalah jurang yang cukup dalam. Membuatku beberapa kali menahan nafas karena ngeri, namun dipihak lain pemandangan yang tersaji dalam perjalanan menuju tanah karo ini sangat indah. Pengunungan dan lembah-lembah, berikut rumah-rumah adat batak memberiku sensasi perjalanan yang berbeda. 

Persis setelah Hanura (Hutan Hiburan Rakyat) atau tepatnya di pertigaan sebagaimana petunjuk Hendri, mobil berhenti dan segera aku membayar ongkos sebesar Rp. 10.000,-. Selanjutnya sembari berterima kasih pada sepasang kakek & nenek yang berkali-kali berpesan agar aku selalu hati-hati, akupun turun. 

Senin, 28 Januari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (Bagian 6): Jalan Bereng Rekan BPM



 19 Mei 2012 


Oleh Wedhya Wardani

Keluar pintu Bandara Polonia Medan, aku segera menuju kesalah satu kedai untuk beristirahat sejenak. Kulihat di sudut kedai, jam menunjukkan waktu pukul satu kurang lima belas menit.

Siang itu cukup panas. Seorang pelayan datang untuk menawarkan menu makanan, aku langsung meminta jus markisa yang menjadi salah satu minuman andalan di Medan.

Sembari menikmati jus segar berwarna orange, aku menanti konfirmasi dari teman-teman BPM (Backpacker Medan) yang sedianya akan menemaniku keliling kota Medan.

Persis minumanku habis, aku mendapat SMS bahwa salah seorang rekan BPM sudah menungguku di pintu keluar kawasan Bandara. Segera aku membayar tagihan minumanku, meraih ransel dan detik berikutnnya aku sudah menemui Hendri yang akan mengantarku keliling kota Medan. 

Penangkaran Buaya Asam Kumbang

Tujuan pertama yakni penangkaran buaya Asam Kumbang tepatnya di Jalan Bunga Raya II, Medan, Sumatera Utara.
 
Bau yang sangat menyengat langsung menyapa penciuman ketika kami memasuki daerah penangkaran. Dibatasi oleh dinding tembok setinggi satu meter dan bersambung dengan kawat ayam (wire mesh) yang tersekat-sekat menyerupai bilik-bilik dimana beberapa ekor buaya ditempatkan di dalamnya sesuai klasifikasi umur. Hal ini untuk memudahkan para pengunjung melihat buaya secara langsung.

Senin, 07 Januari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-5): Jejak Tsunami



Banda Aceh - Nanggroe Aceh Darussalam
18 ~ 19 Mei 2012
  
 Oleh Wedhya Wardani

Mesjid Raya Baiturohman
Setelah menaruh ranselku di kantor LSM yang menjadi tempatku bermalam. Pranoto mengantarku ke Mesjid Raya Baiturohman. Selanjutnya aku ditinggal karena ia harus pergi untuk urusan pekerjaan.
Aku masuk ke areal mesjid dari pintu sebelah kiri, dimana banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual berbagai jajanan khas Aceh. Aku tidak sempat mencoba membeli apapun, karena sudah tidak sabar untuk melihat bangunan yang seijin Alloh SWT telah selamat dari terjangan tsunami, padahal semua bangunan yang ada di sekitarnya tersapu oleh luapan air laut dan rata dengan tanah.
Mesjid kebanggaan penduduk Aceh ini berdiri di areal yang cukup luas, dengan taman berumput hijau yang dihias pohon-pohon kurma juga adanya kolam besar memberikan kesan teduh dan asri serta sangat nyaman dijadikan tempat bersantai. Sedang konstruksi bangunan-nya sendiri mempunyai tujuh (7) kubah, empat (4) menara, dan satu (1) menara induk yang terpisah. Persis di depan kolam terdapat batu peresmian pemugaran terakhir pasca bencana tsunami. 

Kamis, 03 Januari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian 4) Kilau Sunrise di Pantai Iboih – Pulau Sabang



Nanggroe Aceh Darussalam

18 Mei 2012


Oleh Wedhya Wardani
Kilau Sunrise di Pantai Iboih
Alarm memberiku tanda bahwa pagi segera menerangkan hari. Aku segera bangun, meraih tas berisi peralatan pribadi yang tergolek di lantai. Kuintip dari celah cendela, gelap masih sempurna menyelubungi bumi.
Walau ada perasaan malas karena toilet yang ada terpisah dari bangunan tempatku menginap, aku melangkah keluar kamar untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Aku menuruni tangga kayu, tak seorangpun kutemui kecuali suara ombak yang terhempas di garis pantai. Dan sesekali suara pelepah pohon kelapa yang berderak karena tertiup angin.
Tepat aku berada di depan pintu toilet, tiba-tiba seluruh lampu di kawasan tersebut padam. Membuatku kaget dan hanya diam di tempat. Kulihat ke sekeliling, hanya bayang-bayang pepohonan yang sekarang mirip tangan-tangan raksasa.
Jujur kawan, saat itu aku takut sekali. Apalagi lampu senter yang sedianya sudah kupersiapkan untuk keadaan darurat tidak kubawa.
Sejenak aku ragu masuk ke dalam bilik ukuran 1x1.5 meter untuk membersihkan diri. Aku mengamati sekelilingku, suasana seketika berubah begitu mencekam. Deburan ombak tidak dapat kudengar, alam benar-benar telah menjadi sangat sunyi.
Sesungguhnya bukan kawanan jin, syetan atau hantu dengan bentuk buruk yang sangat kutakutkan, tapi serangan hewan buas (mungkin saja, karena sekelilingku masih hutan) atau manusia yang berniat jahat.
Pemikiran terakhir membuatku untuk segera membersihkan diri dan wudhu. Lalu aku segera kembali. Menyusuri jalan yang gelap, langkahku tersuruk-suruk diatas pasir. Ketika tiba di depan tangga kayu dengan cepat aku menapaki anak tangganya. Walhasil sampai di dalam kamar nafasku, memburu seperti baru selesai jogging.
Segera kuambil lampu senter, menyalakannya untuk menerangi ruangan kamar yang gulita. Kulihat Fie masih tidur di tempatnya, sepertinya ia sama sekali tidak terusik dengan padamnya listrik.
Baru sekitar pukul enam lewat aku mendengar bunyi generator diikuti aliran listrik yang mengerakkan kipas angin juga menghidupkan lampu kecil yang menjadi penerangan kamar. Aku-pun bangkit, tersenyum, menertawakan ketakutanku beberapa menit yang lalu sambil membuka jendela kamar
Udara menyeruak, memenuhi kamar sekaligus membagi kesegaran dan aroma pantai.  Saat itu ‘Fie’ mengeliat dan kukatakan padanya saatnya bangun dan menjemput ‘sunrise’. ‘Fie’-pun segera mempersiapkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama dengan camera dan tripod, ‘Fie’ telah siap untuk memburu matahari pagi terindah yang akan muncul di pantai Iboih. 

Senin, 29 Oktober 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-3) Di Titik Nol KM - Pulau Sabang


Nanggroe Aceh Darusalam
17 Mei 2012
oleh Wedhya Wardani


Aku terbangun oleh suara kokok ayam jago yang pertama. Suaranya sangat nyaring menghunjam telingaku. Selanjutnya nyanyian indah itu diikuti oleh suara ayam-ayam betina yang  saling bersahutan, ramai dan sangat ribut hingga merobek dan memaksa kesadaranku kembali sepenuhnya dari nyenyak tidur yang mematikan. 

Sambil mengeluh aku pergi ke kamar mandi, “kenapa semalam tak satu orangpun yang memberitahu apabila kamar yang kutempati bermalam bersama Fie persis di belakangnya adalah kandang ayam. fyuuuu”.

Senin, 03 September 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-2): Negeri Seribu Kedai Kopi - Nanggroe Aceh Darussalam


16 Mei 2012

 

Oleh: Wedhya Wardani

Setelah tertunda sekitar lima belas menit dari jadwal keberangkatan akhirnya GA0146 mengangkasa, menerobos gerimis, menembus gumpalan mega-mega dan meninggalkan daratan nun jauh di bawahnya. Sekali lagi aku berdoa semoga perjalananku ke tujuan berikutnya tidak ada halangan lagi. 

Ketika para pramugari membagikan satu paket snack pada seluruh penumpang, aku baru tersadar jika seharian ini hanya makan pagi itupun saat di pesawat ketika berangkat dari Jakarta saja. Sewaktu berkeliling di kota Medan aku sama sekali tidak teringat untuk makan siang atau nyemil sesuatu, hanya air penghilang dahaga saja.

“Em, memang melelahkan tapi sangat memuaskan,” desahku membenarkan diri sendiri atas keteledoranku yang sering silap dan alpa untuk menjaga diri dengan baik, utamanya urusan makan.

Setelah menghabiskan sajian berupa roti isi rogout dan secangkir teh hangat dengan bersih dan cepat. Selanjutnya aku mengambil buku bacaan yang selalu kusiapkan di setiap perjalanan. Membaca adalah salah satu trik untuk mengalihkan perhatian atau menghilangkan kebosanan selama berada di kendaraan, seperti hal-nya saat naik pesawat. Tidak banyak yang dapat kita lihat, apalagi jika cuaca mendung dan hujan.         

Bungong Jeumpa, Meugah di Aceh

Dari kaca cendela pesawat kulihat bangunan Bandar Udara International Sultan Iskandar Muda yang serupa dengan bangunan mesjid, atapnya yang berbentuk kubah, menunjukkan pengaruh islam yang sangat kuat sekali.

Namun tiba-tiba pendengaranku menarik semua rasa ketertarikanku pada musik yang diputar dalam ruangan pesawat. Lagu yang melambangkan icon atau identitas satu daerah tersebut telah puluhan tahun lalu kudengar bahkan kunyanyikan sewaktu duduk di bangku sekolah. Kini saat kudengar kembali, hatiku serasa meloncat-loncat kegirangan. Gembira tiada dapat kulukiskan dalam kata-kata. 

Bungong jeumpa, Bungong jeumpa- Megah di Aceh
Bungong teuleubeh-teulebeh indah lagoina 

[Bunga jeumpa, Bunga jeumpa - Terkenal di Aceh
Bunga yang sangat indah rupanya]


Kamis, 23 Agustus 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-1): Tao Toba di Ketinggian



16 Mei 2012 

Setelah terlebih dahulu permisi numpang lewat pada penumpang yang telah duduk, akupun menempati kursi di nomer 16B dengan perasaan lega. Aku berdesah diantara nafas yang masih memburu, karena sebelumnya aku tidak pernah menyangka apabila aku akan mengalami kejadian tertinggal pesawat. 
Sejam yang lalu, kira-kira lewat sepuluh menit dari check in, aku berhadapan dengan seorang petugas bandara yang menahanku dengan sopan. Aku membantahnya dengan mengatakan bahwa pesawat yang akan kunaiki belumlah berangkat. Layaknya orang yang telah sering kali berhadapan dengan penumpang yang panik. Tetap dengan tutur yang santun kakak petugas merujukku ke loket penerbangan yang bersangkutan sekaligus meminta-ku agar segera kesana, supaya dapat dibantu untuk keberangkatan dengan pesawat berikutnya. 

Ada sepuluh orang yang berbaris rapi di depan loket yang sama denganku. Setelah menyerahkan tiket-ku pada petugas dan memintanya agar aku bisa ikut di penerbangan berikutnya termasuk menyesuaikan jadwal penerbangan-ku. Aku melirik Bapak yang menggerutu sedari ia datang; bahwa gara-gara harus mengantar seorang penumpang di terminal-3, membuat bus harus menunggu portal dibuka untuk beberapa lama karena harus mencari sang petugas jaga yang entah pergi kemana, akhirnya mengakibatkan rentetan kejadian yakni dirinya terlambat. Seperti yang kuduga Bapak yang memakai setelan safari rapi tersebut satu bus denganku yakni DAMRI jurusan Blok-M - Bandara Soekarno-Hatta.  

Kejadian non teknis seperti yang kualami, sebetulnya bisa dihindari jika aku tidak terlalu percaya diri untuk berangkat dengan range waktu yang mepet. Daripada protes yang jelas-jelas bukan sepenuhnya kesalahan alat transportasi atau akibat aturan ketat penerbangan, aku memilih diam menunggu dengan sabar di depan loket. 

Sejenak aku memejamkan mata, terlintas bagaimana teman-teman yang berencana melakukan perjalanan untuk ‘explore Medan” memutuskan batal di dua minggu terakhir, sementara tiket sudah ku-issued dan ijin cuti-pun telah disetujui. Kemudian disusul kekhawatiran dua sahabatku, akan tekadku untuk tetap melakukan perjalanan apabila harus solo trip turut membuat perasaanku gamang. Namun tepat disaat petugas menyerahkan perubahan tiket, aku sudah pulih dengan semangatku. Kutarik nafas dalam-dalam sambil berdoa, semoga tujuh hari perjalananku akan lancar.

Toba Di ketinggian

Lagu rayuan pulau kelapa yang mengalun lirih bagai lagu terapi penenang jiwa yang mengantarku pada lamunan tentang jernihnya air yang terhempas di garis batas daratan, sejuknya udara yang sepoi-sepoi dan birunya langit yang berhias arak-arakan awan putih benar-benar melenakanku. Kusadari sepenuhnya, aku sedang menuju salah satu zamrud nusantara, aku tersenyum, tulus bersama jiwaku.