20 Mei 2012
oleh Wedhya Wardani
Setelah berkemas, pukul delapan lewat Hendri mengantarku ke terminal Padang Bulan. Tidak seperti umumnya terminal, namun bisa dikatakan serupa pangkalan yang berada dipinggir jalan utama dimana mobil-mobil isuzu setara minibus berderet, memanjang rapi.
Beberapa makelar atau kenek langsung menyambutku begitu aku turun dari boncengan ‘kereta’ alias sepeda motor, dengan bertanya tujuanku berikut menunjukkan mobil yang berada deretan paling depan.
Setelah berterima kasih pada Hendri, aku segera naik ke
mobil. Karena tempat di depan telah terisi, akhirnya aku memilih tempat duduk
di belakang sopir, hal ini untuk keamanan dan supaya tidak tersesat atau
kelewatan dimana harusnya aku turun nantinya.
Duduk di seberangku sepasang kakek dan nenek, aku
melempar senyum padanya. Mereka membalas dengan keramahan nusantara. Kemudian salah
satu diantaranya bertanya dengan bahasa setempat yang tidak kemengerti.
Untunglah, ia segera mengulang dengan bahasa persatuan walau dengan logat
sedikit kaku. Dari keduanya, minimal aku mendapat gambaran tempat yang kutuju
dan perkiraan waktu tempuh perjalanan.
Mobil melaju dengan sangat kencang walau jalan yang
dilalui berkelok-kelok dan tidak jarang disisi jalan adalah jurang yang cukup
dalam. Membuatku beberapa kali menahan nafas karena ngeri, namun dipihak lain
pemandangan yang tersaji dalam perjalanan menuju tanah karo ini sangat indah.
Pengunungan dan lembah-lembah, berikut rumah-rumah adat batak memberiku sensasi
perjalanan yang berbeda.
Persis setelah Hanura (Hutan Hiburan Rakyat) atau tepatnya
di pertigaan sebagaimana petunjuk Hendri, mobil berhenti dan segera aku
membayar ongkos sebesar Rp. 10.000,-. Selanjutnya sembari berterima kasih pada sepasang kakek & nenek yang berkali-kali
berpesan agar aku selalu hati-hati, akupun turun.





