Kamis, 23 Agustus 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-1): Tao Toba di Ketinggian



16 Mei 2012 

Setelah terlebih dahulu permisi numpang lewat pada penumpang yang telah duduk, akupun menempati kursi di nomer 16B dengan perasaan lega. Aku berdesah diantara nafas yang masih memburu, karena sebelumnya aku tidak pernah menyangka apabila aku akan mengalami kejadian tertinggal pesawat. 
Sejam yang lalu, kira-kira lewat sepuluh menit dari check in, aku berhadapan dengan seorang petugas bandara yang menahanku dengan sopan. Aku membantahnya dengan mengatakan bahwa pesawat yang akan kunaiki belumlah berangkat. Layaknya orang yang telah sering kali berhadapan dengan penumpang yang panik. Tetap dengan tutur yang santun kakak petugas merujukku ke loket penerbangan yang bersangkutan sekaligus meminta-ku agar segera kesana, supaya dapat dibantu untuk keberangkatan dengan pesawat berikutnya. 

Ada sepuluh orang yang berbaris rapi di depan loket yang sama denganku. Setelah menyerahkan tiket-ku pada petugas dan memintanya agar aku bisa ikut di penerbangan berikutnya termasuk menyesuaikan jadwal penerbangan-ku. Aku melirik Bapak yang menggerutu sedari ia datang; bahwa gara-gara harus mengantar seorang penumpang di terminal-3, membuat bus harus menunggu portal dibuka untuk beberapa lama karena harus mencari sang petugas jaga yang entah pergi kemana, akhirnya mengakibatkan rentetan kejadian yakni dirinya terlambat. Seperti yang kuduga Bapak yang memakai setelan safari rapi tersebut satu bus denganku yakni DAMRI jurusan Blok-M - Bandara Soekarno-Hatta.  

Kejadian non teknis seperti yang kualami, sebetulnya bisa dihindari jika aku tidak terlalu percaya diri untuk berangkat dengan range waktu yang mepet. Daripada protes yang jelas-jelas bukan sepenuhnya kesalahan alat transportasi atau akibat aturan ketat penerbangan, aku memilih diam menunggu dengan sabar di depan loket. 

Sejenak aku memejamkan mata, terlintas bagaimana teman-teman yang berencana melakukan perjalanan untuk ‘explore Medan” memutuskan batal di dua minggu terakhir, sementara tiket sudah ku-issued dan ijin cuti-pun telah disetujui. Kemudian disusul kekhawatiran dua sahabatku, akan tekadku untuk tetap melakukan perjalanan apabila harus solo trip turut membuat perasaanku gamang. Namun tepat disaat petugas menyerahkan perubahan tiket, aku sudah pulih dengan semangatku. Kutarik nafas dalam-dalam sambil berdoa, semoga tujuh hari perjalananku akan lancar.

Toba Di ketinggian

Lagu rayuan pulau kelapa yang mengalun lirih bagai lagu terapi penenang jiwa yang mengantarku pada lamunan tentang jernihnya air yang terhempas di garis batas daratan, sejuknya udara yang sepoi-sepoi dan birunya langit yang berhias arak-arakan awan putih benar-benar melenakanku. Kusadari sepenuhnya, aku sedang menuju salah satu zamrud nusantara, aku tersenyum, tulus bersama jiwaku. 


Aku menggeliat dan menegakkan dudukku saat sang pilot memberitahu bahwa danau Toba terbentang dibawah kami, tepatnya disebelah kiri pesawat. Seorang penumpang yang ada di depanku mengeluarkan kamera SLR, dengan cekatan ia mengabadikan pemandangan danau Toba dari ketinggian ribuan kaki. Aku cukup memandang danau terluas se-Asia Tenggara itu dari kaca cendela dengan penuh takjub. Aku tersenyum sambil berbisik bahwa danau itulah yang menjadi alasanku, berikut yang mampu menepis semua ketakutan untuk melakukan perjalananku kali ini. 


Diluar legenda tentang danau Toba yang merupakan cerita favorit dimasa kanak-kanakku dulu, sesungguhnya danau Toba merupakan danau yang terbentuk dari letusan gunung merapi super (super-volcano) yang dahsyat pada 73.000 – 75.000 tahun lalu. Setelah letusan tersebut terbentuklah kawah/ kaldera (crater) yang kemudian terisi air sampai membentuk genangan, yang selanjutnya disebut Tao Toba. Tao sama dengan danau dalam bahasa setempat. Sementara magma yang belum keluar terus menekan ke atas sehingga muncullah daratan yang kemudian dikenal dengan nama Pulau Samosir. (sumber wikipedia)
wikipedia)

Wisata Kota Medan

Begitu sampai di Bandara Polonia Medan, aku bergegas menuju loket maskapai penerbangan dan berencana memajukan jadwal penerbanganku lagi, karena pagi tadi telah dimundurkan dengan pertimbangan aku tidak akan keburu untuk “check in”. Tapi apa salahnya dicoba, karena memang pesawat yang baru saja kunaiki dari Jakarta menuju Medan itulah yang akan berlanjut ke Aceh. Selain itu adalah pertimbangan waktu. Apabila aku bisa berangkat di jam 10:00 kenapa harus menunggu 5 jam lagi?

Sayangnya setelah menunggu selama 5 menit, sang petugas yang mengenakan seragam biru cerah itu meminta maaf karena tidak bisa membantu seperti yang kuminta. Walau aku bersikeras, dengan mengatakan pesawat GA0146 yang tadi kunaiki masih menunggu untuk keberangkatan menuju tujuan akhirnya. Sekali lagi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya, sang petugas meminta maaf bahwa pesawat sudah posisi boarding. Dengan kecewa aku tetap berterima kasih sambil meninggalkan loket.  

Lima jam di Bandara tanpa aktivitas tentunya akan menjadi penderitaan yang panjang bagiku. Lirik-lirik, aku melihat ruang informasi. Tanpa berfikir lagi aku segera masuk ke bilik tersebut. Aroma dan asap tembakau yang pekat menyapaku kala kudorong pintunya. Aku masuk ke ruangan  yang tidak lebih luas dari kamar kostku. Kusapa petugas yang menghadapi mesin ketik, sementara mulutnya terus saja mengeluarkan asap mirip cerobong pabrik. Aku bertanya transportasi apa yang tepat untuk keliling kota Medan berikut kisaran harga-nya.

Setelah mendapat petunjuk singkat, aku memutuskan untuk naik Ojek, sebab harga bentor (becak motor) lebih mahal. Aku berjalan keluar Bandara Polonia Medan. Dibawah pohon kulihat seorang pria duduk di atas motornya. Aku menghampirinya, dan langsung bernegosiasi dengannya. Singkat cerita aku dan si Andre nama sang pengemudi motor sepakat di satu harga dengan tambahan  service bersedia jadi pemandu dan tukang foto-ku. 

Istana Maimoon

Tempat pertama yang dikunjungi adalah ‘Life Monument’ yakni Istana Maimoon, berjarak kira-kira 3 Km dari Bandara Polonia Medan. Istana yang masih dihuni oleh keturunan raja diraja Deli ini  dibangun pada 26 Agustus 1888 seperti tergurat pada Batu peresmian yang terdapat di depan pintu masuk istana yang bernuansakan warna kuning. 

Yang menarik dari istana yang diperkirakan telah berumur lebih dari seabad ini, kita dapat langsung melihat bagaimana 3 budaya/bangsa terkolaborasi dalam seni arsitektur bangunan istana Maimoon; yang pertama adalah bentuk bangunan istana adalah rumah panggung bergaya melayu yang terdiri atas  bangunan induk dan dua bangunan sayap di kiri dan kanan (mewakili Indonesia). Kedua, atap istana yang berbentuk limas (kubah) merupakan gaya bangunan di Timur Tengah (Arab). Ketiga, lampu-lampu kristal yang menjadi penerang di dalam ruangan istana merupakan gaya Eropa. 

Aku semakin larut mengagumi istana Maimoon, utamanya pada hiasan dinding bermotif ‘floral’ yang ditempatkan pada bidang-bidang segi empat dan segi delapan berikut lukisan dan foto para sultan yang dibingkai dalam  figura-figura nan mewah. Akan tetapi kasyikanku itu terusik oleh sekelompok pengunjung yang datang dari ruangan lain. Mereka berhambur, riuh dan berpose di depan singgasana raja layaknya sesi pemotretan ‘keluarga besar’. Lebih dari kehebohan yang mereka lakukan, yang mengundang perhatian dari kelompok tersebut adalah mereka semua mengenakan busana adat. Baru setelah kutelisik ternyata seperti halnya rumah adat lainnya, di Istana Maimoon para pengunjung juga diijinkan memakai pakaian adat dan duduk di kursi raja dan permaisuri Deli. 
   
Selanjutnya aku pergi ke serambi istana di mana 3 orang musikus sedang menyambut tamu yang datang dengan lagu-lagu khas melayu, benar-benar membuat suasana istana Maimoon serasa mundur puluhan tahun yakni di masa kejayaannya ‘Sultan Ma’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsyah’ (1873-1924); yakni sultan yang telah memindahkan pusat kesultanan Deli ke Medan dan membangun istana Maimoon. 


Sementara itu di halaman sebelah kiri istana, tengah berlangsung pentas budaya. Aku-pun pergi mendekat dan untuk beberapa saat aku menyaksikan atraksi barongsai dan tarian melayu yang dibawakan oleh pelajar-pelajar kota Medan. Sebagai kenang-kenangan aku foto bersama dengan tim barongsai. 

Menyusur jalan ke arah kanan dari bangunan induk istana Maimoon, terdapat bangunan tersendiri yang menyimpan benda bertuah yakni meriam puntung (putung atau terbelah). Konon menurut cerita setempat meriam tersebut adalah penjelmaan dari putra raja Deli Tua ‘Mambang Khayali’ yang mempertahankan daerahnya dari serbuan raja Aceh. Karena pinangan sang raja ditolak oleh kakaknya (putri raja Deli Tua) yang bernama Putri Hijau. Kisah mengenai meriam puntung tersebut dapat dibaca langsung pada prasasti besar yang ditempatkan persis di depan bangunan. Selain cerita legenda yang ada, meriam puntung sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat yang sangat percaya bahwa meriam tersebut masih memiliki kekuatan supranatural hingga kini. Ini terlihat dari para penziarah yang membawakan bunga serta menyalakan dupa di tempat tersebut.
Walau diakhir cerita sang juru kunci menyatakan bahwa kita hanya boleh percaya dan meminta pada sang Rab, namun anehnya ia memintaku untuk mendengarkan sesuatu dari dalam meriam dengan cara menempelkan telingaku pada ujung meriam. “Konsentrasi dan tenangkan fikiran,” tutur sang penjaga.  Aku-pun menuruti petunjuknya. Sesaat aku menajamkan pendengaranku. Sayup-sayup aku mendengar suara berdengung. Seraya bangkit dari dudukku, aku mengatakan apa yang kudengar itu pada  sang juru kunci. Dan perempuan paro baya yang telah setia menjaga tempat meriam puntung itu membenarkan apa yang telah kudengar. Ia tersenyum dan menyudahi semua penjelasannya dengan diam. Sikapnya tersebut kusimpulkan sebagai isyarat bahwa aku harus mengakhiri ziarahku. Akan tetapi saat aku hendak keluar dari bangunan, nalarku berkata; bahwa suara yang kudengar dari dalam meriam tadi, hanyalah efek udara yang terperangkap. 
      
Mesjid Raya Al-Mashun       

Dari lokasi istana Maimoon, selanjutnya Andre mengantarku ke tujuan berikutnya. Hanya berjarak sekitar 200 meter, kami telah sampai di depan gerbang mesjid raya. Segera aku turun dari boncengan dan masuk ke areal mesjid. Saat akan menyelinap, aku sempat membaca pengumuman yang tergantung persis di pintu pagar bertuliskan “wilayah wajib berbusana muslim”. Aku tersenyum sambil mengucapkan salam pada seorang petugas yang melihat ke arahku.

Mesjid Raya Al-Mashun juga merupakan satu dari karya masterpice dimasa pemerintahan Sultan Ma’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsyah. Mesjid ini pertama kali dipergunakan pada 19 September 1909 dan sampai sekarang masyarakat muslim di kota Medan masih menggunakannya sebagai tempat ibadah walau kondisinya kurang terawat.

Di sebelah kiri depan mesjid terdapat taman dengan tanaman hias dan air mancur yang langsung menghadap ke jalan protokol. Berjalan lebih ke belakang, disana aku menemukan areal pemakaman raja-diraja Deli. Batu-batu nisan yang ada kebanyakan dihias dengan tulisan arab, yang berisi doa juga penghormatan atas almarhum.     

Sedang disebelah kanan mesjid, terdapat bangunan dengan dua ruangan yang berfungsi sebagai tempat jemaah untuk mengambil wudhu. Selesai mensucikan diri dari hadas kecil, aku menaiki tangga mesjid. Saat hendak menitipkan alas kaki, aku berpapasan dengan pengunjung dari negara lain. Dimana yang pria mengenakan sarung dan yang wanita memakai kerudung. Walau terkesan seadanya tapi aku salut sekali dengan aturan ketat yang diterapkan. Karena sudah sewajarnya para pendatang wajib menghormati adat dan kebiasaan orang lokal, terlebih lagi di tempat ibadah.

Selesai sholat sunnah dua rokaat, aku-pun segera berkemas. Namun sebelum pergi, aku tertarik untuk menyusuri lorong mesjid, mengagumi gaya arsitektur dan ornamen yang ada. Seperti halnya istana Maimoon, mesjid Al-Mashun juga dipengaruhi oleh gaya arsitektur Melayu, Timur-Tengah dan Eropa. 

Bertolak dari Mesjid Raya Al-Mashun, bapak yang memiliki dua orang putra dan putri itu membawaku ke Mesjid Agung Medan dan sekali lagi aku melihat ada  peringatan agar mengenakan busana muslim/muslima di kawasan mesjid. 

Tidak ada yang istimewa dari bangunan Mesjid Agung  yang terletak dipusat kota itu.  Selain sangat sederhana karena nyaris tidak ditemui ornamen atau kaligrafi yang biasanya menghias dinding mesjid, juga terkesan gersang sebab tidak ada taman, yang kudapati hanya areal parkir yang luas. Tapi karena menghormati pemanduku, aku tetep melangkah memasuki mesjid, berdoa dan berdzikir beberapa saat sembari mengistirahatkan bahuku yang mulai terasa pegal.  
 
Kuil di Kampung Keling

Pukul 12:30 waktu setempat, dengan lihainya Andre melaju, menyelip dan mendahului kendaraan lain di jalanan kota Medan yang padat.  Setelah melewati beberapa tikungan dan perempatan, Andre mengurangi gas motornya, lalu berhenti di depan toko-toko kelontong yang ramai oleh pengunjung. Saat aku tanyakan apakah terjadi sesuatu, Andre menunjuk ke arah belakang punggungku. Selanjutnya ia menerangkan bangunan yang begitu penuh dengan corak itu adalah Kuil orang Keling (India).

Lambang cakra pada puncak bangunan kuil yang secara keseluruhan berwarna emas itu menjulang ke langit dipagari oleh tembok setinggi kurang lebih dua meter. Selain temboknya sendiri dihiasi oleh ornamen berwarna terang, pada bagian atas tembok diletakkan patung-patung yang indah. Konon kata Andre, para tukang dan pematung yang membangun kuil tersebut, khusus didatangkan dari pulau Jawa dan cara mengukirnya menggunakan sendok makan, bagian terakhir yang dikatakan Andre sangat kuragukan, walau aku manggut-manggut saat ia menerangkannya dengan semangat.  

Pintu Kuil yang berada di pojokan jalan tampak tertutup rapat, walau demikian aku coba mengintip diantara celah-celah pintu ke dalam areal kuil sambil mencari jadwal kuil dibuka, atau seseorang yang bisa kuajak bicara sehingga aku diijinkan masuk. Tapi aku tidak mendapat apa yang aku cari. Baru setelah bertanya pada penjaga toko yang berada  diseberang kuil, aku memperoleh informasi bahwa Kuil hanya buka sore hari dan tidak dibuka secara umum.  

Rahmat Galeri dan Musium 

Dibawah udara yang terik dan sangat menyengat akhirnya kami sampai di Rahmat Galeri dan Musium. Menurut cerita Andre tempat ini adalah tempat favorite putra dan putrinya, dan mungkin anak sekolah pada umumnya. Karena saat aku membeli retribusi sebesar Rp. 20.000,- kulihat ada serombongan pelajar yang keluar dari pintu galeri.
 
Koleksi yang ditampilkan di dalam musium ini terbilang cukup lengkap, mulai dari satwa laut yang terdiri atas berbagai jenis kerang, kemudian berbagai jenis burung, seranga dan kupu-kupu, lalu hewan-hewan buas seperti; macan, singa, beruang, ular. Selain itu koleksi yang ada terawat dengan baik, penambahan efek lampu/penerangan di dalam geleri juga suara-suara binatang dari pengeras suara di setiap ruang membuat binatang-binatang yang diawetkan tersebut seperti hidup. 

Peletakan batu pertama Rahmat galeri dan musium yang dinamai sama dengan nama pemilik dan pendirinya yakni Rahmat Syah ini dilakukan pada tanggal 23 Februari 2005 oleh Gubernur Sumatera Utara ‘H.T. Rizal Nurdin’. Selanjutnya Rahmat Galeri dan Musium selain menjadi rujukan bagi para pendidik membawa siswa-siswinya untuk menimba ilmu, tempat ini juga tempat yang nyaman  bagi siapapun yang ingin melepaskan kepenatan. Melihat hewan-hewan dengan suasana yang dibuat sedemikian rupa, benar-benar membuatku lupa waktu. Apabila aku telah dua jam berada di dalam galeri ini.

Begitu aku keluar dari pintu galeri, kulihat Andre diatas motornya mendengus dan memintaku agar segera naik. Lalu sembari menghidupkan mesin, Andre berkata dengan penuh kekhawatiran, apabila aku sampai tertinggal pesawat. Aku segera minta maaf padanya dan memintanya agar tancap gas menuju bandara.



Oleh: Wedhya Wardani

** Catatan Penulis **

  1. Mempelajari adat kebiasaan ataupun aturan yang berlaku ditempat yang akan dikunjungi akan mempermudah untuk beradaptasi dan membaur dengan penduduk lokal, juga menghindari berbagai masalah yang akan menghalangi kelancaran perjalanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar