Senin, 29 Oktober 2012

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-3) Di Titik Nol KM - Pulau Sabang


Nanggroe Aceh Darusalam
17 Mei 2012
oleh Wedhya Wardani


Aku terbangun oleh suara kokok ayam jago yang pertama. Suaranya sangat nyaring menghunjam telingaku. Selanjutnya nyanyian indah itu diikuti oleh suara ayam-ayam betina yang  saling bersahutan, ramai dan sangat ribut hingga merobek dan memaksa kesadaranku kembali sepenuhnya dari nyenyak tidur yang mematikan. 

Sambil mengeluh aku pergi ke kamar mandi, “kenapa semalam tak satu orangpun yang memberitahu apabila kamar yang kutempati bermalam bersama Fie persis di belakangnya adalah kandang ayam. fyuuuu”.


Pelabuhan Ule-lheuh 

Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya  hujan angin menjelang keberangkatan kami ke pelabuhan-pun reda. Pranoto dan Edi segera mengantar aku dan Fie menuju pelabuhan. Dengan berkendara motor kami menerobos gerimis yang semakin menipis oleh cahaya hangat sang surya. 

Pelabuhan Ule-lheuh adalah pelabuhan yang menghubungkan Pulau Sabang dan kota Banda Aceh. Saat aku dan Pranoto sampai kulihat di pelataran pelabuhan telah ramai oleh para calon penumpang. Aku segera mencari Edi dan Fie yang tiba lebih dulu. Aku menemukan mereka di depan loket karcis dengan wajah dingin. 

Fie memberitahuku bahwa tiket untuk kapal cepat sudah tidak tersisa. Peluangnya adalah menggunakan kapal fery dengan jadwal keberangkatan siang. Atau dengan kata lain kita akan kehilangan waktu setengah hari.

Namun di waktu yang tepat dewa penolong datang dengan cara yang tidak terduga. Harapanpun muncul ketika Pranoto menyeret dan memaksaku dan Fie agar ikut antri bersama para calon penumpang di depan pintu masuk kapal cepat. 

Rupanya Pranoto tanpa sengaja bertemu dengan seorang temannya yang notabene adalah penduduk Pulau Sabang. Selanjutnya kami berdua dititipkan ke temannya tersebut yang kebetulan akan pulang ke Pulau Sabang bersama istri dan kedua anaknya.   
 Setelah menunggu, antrian bagi calon penumpang yang tidak mempunyai tiket mulai meringsek, mendekati pintu masuk kapal. Teman Pranoto dengan sigap mendekati petugas untuk mendaftarkan dirinya, istri dan anaknya, serta tidak ketinggalan kami berdua yang diakunya sebagai saudara. SEMPURNA.


Seorang petugas mencatat nama kami sebagai penumpang. Selanjutnya Fie membayar tiket dengan harga normal untuk kami berdua. Hanya sesaat aku dan Fie beradu pandang sambil mengulum senyum. Seraya ingin bersorak, ‘Horeee….. kita berangkat!’. 

Aku duduk bersebelahan dengan istri teman Pranoto diatas koper besar milik seorang penumpang yang telah mengiklaskan untuk kami duduki. Sedang Fie memilih berdiri di dekat pintu.

Sepuluh kurang dua puluh menit kapal cepat ‘Pulo Rondo’ mulai bergerak menjauhi pelabuhan Ule-lheuh. Sekitar 2 jam ke depan, kami akan segera menjejakkan langkah di Pulau terujung negeriku - Indonesia.  

Pulau Sabang

Walau ditengah perjalanan gelombang air laut cukup besar, kapal yang kutumpangi merapat dengan elok di pelabuhan Balohan pulau Sabang. 

Disini kami berpisah dengan penolong kami, karena beliau telah dijemput oleh keluarganya. Selanjutnya kami berdua menuju ke dalam kantor pelabuhan. Tujuannya adalah menghindari para sopir ataupun ojek yang menawarkan jasanya. Yang kedua untuk mengenal lokasi dengan mencari informasi yang kami perlukan. Dan ketiga, si Fie sedang menunggu konfirmasi dari temannya yang bisa menyewakan motor pada kami.

Kami masuk ke dalam satu-satunya kantin yang ada di pelabuhan. Memesan dua porsi bakso dan teh manis hangat guna mengusir mabuk laut. Selanjutnya dari pemilik kantin, kami mendapat informasi bahwa jika tidak segera naik taksi (istilah untuk semua mobil yang disewakan), maka kami harus menunggu hingga sore saat kedatangan kapal kedua. 

Ya pada akhirnya kami menggunakan jasa taksi yang ada, sebab teman Fie yang sedianya bisa meminjamkan motor posisinya ada di Iboih. Sementara motor sewaan yang ada di sekitaran pelabuhan Balohan sudah tersewa semua.  

Sedikit saran untuk rekan-rekan yang akan berkunjung ke P. Sabang, sebaiknya pesan motor dulu agar bisa menghemat biaya. Contact Person persewaan motor banyak ditempel  atau di jumpai di pelabuhan Ule-lheuh. 

Sopir taksi kami adalah orang melayu tulen. Orangnya ramah dan dengan suka hati ia bercerita serta menerangkan tentang Pulau Sabang dan dirinya tanpa kami memintanya lebih dahulu. Lengkap dengan petuah-petuah layaknya orang tua kepada dua anak gadisnya. 

Jarak Pelabuhan Balohan menuju Pantai Iboih sekitar 50 km, dengan kondisi jalan seluruhnya beraspal. Biaya untuk sekali jalan Rp. 50.000,- per-orang. Tapi jika berkelompok atau group ongkosnya dihitung sewa satu mobil sekitar Rp. 250.000 hingga Rp. 300.000,- perkali jalan. 

Selama perjalanan, kami tidak habis-habisnya berdecak kagum oleh panorama yang terbentang. Air laut dan langit menampilkan warna yang berlapis-lapis. Biru kehijauan. Berkilat-kilat dibawah cerahnya matahari.

Lewat tengah hari kami tiba di pantai Iboih. Disana teman Fie sudah menunggu kami. Singkat cerita kami menyewa motor yang awalnya dipatok dengan harga Rp. 100.000,- per-harinya (harga normal). Tapi kami menawarnya Rp. 150.000 untuk dua hari, dengan alasan bahwa pemakaian di hari pertama hanya setengah hari. 

Selanjutnya kami diantar ke penginapan. Sekitar 10 menit berkendara menyusuri jalan yang menanjak dimana sisi kanan dan kirinya ditumbuhi ilalang liar dan pohon tropis kami sampai di penginapan.

Penginapan yang dimaksud adalah rumah panggung yang konstruksinya dari kayu dan berdinding anyaman bambu. Dimana lantai bawah digunakan oleh sang pengelola sebagai kedai dan lantai dua yang tersekat-sekat disewakan kepada para wisatawan yang datang. 

Kamar yang kami sewa berisi satu tempat tidur yang muat untuk dua orang dengan kelambu anti nyamuk, kipas angin dan satu tikar pandan yang digelar persis di depan jendela. Sedang untuk kamar mandi dan toilet posisinya terpisah dari bangunan utama.

Sebenarnya disamping penginapan terdapat pondok-pondok kecil dengan fasilitas tidak jauh beda namun lengkap dengan kamar mandi pribadi. Pondok tersebut disewakan dengan harga Rp. 250.000/malam. 

Dengan pertimbangan nilai ekonomis kami memutuskan memilih kamar yang berada diatas kedai, sebab harganya hanya Rp. 50.000/kamar/malam dengan view yang lebih cantik tentunya.

Selesai sholat dhuhur yang digabung dengan sholat Ashar aku segera menyusul Fie yang sudah memesan makanan di Kedai. Tidak banyak pilihan makanan yang ditawarkan semua serba instant, seperti mie rebus/goreng, telor ceplok, roti, cornet dan sosis. Tapi untunglah masih ada ayam goreng dan nasi walau keduanya terlalu kering dan keras dalam memasak.

Ngintip Ikan di Pulau Rubiah

Pukul tiga, kami sudah berada di pantai iboih kembali. Sekali lagi dengan pertimbangan biaya ter-ekonomis, kami menunggu seseorang yang mau diajak bergabung sekaligus patungan untuk sewa boat seharga Rp. 150.000/kapal. 

Seperti yang kami harapkan ada sepasang muda-mudi yang hendak ke pulau Rubiah untuk snorkle. Setelah berkenalan, intinya kami sepakat untuk ‘sharing cost’. 

Selanjutnya kami bersiap-siap mengenakan peralatan snorkle yang disewa di tempat yang sama dengan biaya Rp. 40.000 satu set (fin, kaca mata, kaki katak dan pelampung). Bagi pemula dan/ atau  yang membutuhkan pemandu snorkle biayanya Rp. 50.000/pemandu.


Pukul 15:30 WIB kami berempat menuju pulau Rubiah. Kurang dari sepuluh menit, kami diturunkan di pantai pulau Rubiah berpasir kasar dan dipenuhi oleh serpihan karang. Setelah meminta untuk di jemput pukul lima, boat-pun kembali ke iboih.

Awalnya aku ragu, apakah aku bisa berenang hingga ke tengah selat (antara Iboih dan Rubiah). Namun karena ketiga temanku yang lain sudah lebih dulu meluncur ke air dan melambaikan tangannya penuh kepuasan atas apa yang dilihatnya. 

Akupun nekat menceburkan diri, mengayuh dengan tanganku, sehingga badanku terdorong  maju. Walau beberapa kali harus berhenti karena harus menenangkan diri yang disebabkan gamang melihat dasar laut, akhirnya aku dapat menyusul Fie dimana sekelompok ikan badut berenang diantara bunga karang raksasa. 

Beningnya air laut, terumbu karang yang subur dengan warna dan bentuk yang indah lengkap dengan ikan-ikan beraneka warna yang berenang riang diantaranya adalah satu pengalaman yang tidak dapat aku lupakan. Betapa indahnya Indonesia dan betapa Maha kuasanya Alloh yang menciptakan keindahan alam di bawah laut.  

Tugu Nol Km, Pulau Sabang

Langit yang biru telah berubah jingga saat kami tiba di tugu Nol KM. Tugu yang dibangun dengan maksud sebagai titik penentuan awal posisi geografis Indonesia ini berada pada ketingian 43.6 meter (MSL), LU 05º 54’ 21.42” dan BT 95º 13’ 00.50”.  

Daya tarik dari sudut terujung rangkaian kepulauan nusantara ini, selain keberadaan tugu nol itu sendiri, adalah sensasi pada saat semua orang duduk berderet di pagar pembatas jalan guna menantikan detik-detik tenggelamnya sang surya di garis cakrawala.

^_^ nyambung ke bagian-4

 

Catatan Penulis

  1. Pada hari biasa terdapat dua (2) jadwal keberangkatan: 9:00 WIB dengan kapal cepat dan 13:00 WIB dengan kapal Fery. Sedang pada hari Jumat hanya ada satu jadwal keberangkatan dengan kapal cepat yakni jam 14:00 WIB. Namun sebaiknya mengecek jadwal kapal langsung ke pelabuhan, karena terkadang ada perubahan jadwal yang biasanya karena alasan cuaca. 
  2. Di Pulau Sabang hanya ada satu bank yakni BRI, dan mesin ATM hanya ada di area kantor BRI. Apabila bank yang dimiliki tidak tergabung dalam ATM bersama sebaiknya tarik dulu di kota Banda Aceh sebelum ke P. Sabang.
  3. Penginapan Seulako : 085260920505, 081377180277 (50ribu/kamar/malam pada 2012) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar