Nanggroe Aceh Darusalam
oleh Wedhya Wardani
Aku terbangun oleh suara kokok ayam jago yang pertama.
Suaranya sangat nyaring menghunjam telingaku. Selanjutnya nyanyian indah itu diikuti
oleh suara ayam-ayam betina yang saling
bersahutan, ramai dan sangat ribut hingga merobek dan memaksa kesadaranku kembali
sepenuhnya dari nyenyak tidur yang mematikan.
Sambil mengeluh aku pergi ke kamar mandi, “kenapa semalam tak
satu orangpun yang memberitahu apabila kamar yang kutempati bermalam bersama
Fie persis di belakangnya adalah kandang ayam. fyuuuu”.
Pelabuhan Ule-lheuh
Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya hujan angin menjelang keberangkatan kami ke
pelabuhan-pun reda. Pranoto dan Edi segera mengantar aku dan Fie menuju
pelabuhan. Dengan berkendara motor kami menerobos gerimis yang semakin menipis
oleh cahaya hangat sang surya.
Pelabuhan Ule-lheuh adalah pelabuhan yang menghubungkan Pulau
Sabang dan kota Banda Aceh. Saat aku dan Pranoto sampai kulihat di pelataran
pelabuhan telah ramai oleh para calon penumpang. Aku segera mencari Edi dan Fie
yang tiba lebih dulu. Aku menemukan mereka di depan loket karcis dengan wajah
dingin.
Fie memberitahuku bahwa tiket untuk kapal cepat sudah tidak
tersisa. Peluangnya adalah menggunakan kapal fery dengan jadwal keberangkatan
siang. Atau dengan kata lain kita akan kehilangan waktu setengah hari.
Namun di waktu yang tepat dewa penolong datang dengan cara
yang tidak terduga. Harapanpun muncul ketika Pranoto menyeret dan memaksaku dan
Fie agar ikut antri bersama para calon penumpang di depan pintu masuk kapal
cepat.
Rupanya Pranoto tanpa sengaja bertemu dengan seorang temannya
yang notabene adalah penduduk Pulau Sabang. Selanjutnya kami berdua dititipkan
ke temannya tersebut yang kebetulan akan pulang ke Pulau Sabang bersama istri
dan kedua anaknya.
Setelah menunggu, antrian bagi calon penumpang yang tidak
mempunyai tiket mulai meringsek, mendekati pintu masuk kapal. Teman Pranoto dengan
sigap mendekati petugas untuk mendaftarkan dirinya, istri dan anaknya, serta tidak
ketinggalan kami berdua yang diakunya sebagai saudara. SEMPURNA.
Seorang petugas mencatat nama kami sebagai penumpang.
Selanjutnya Fie membayar tiket dengan harga normal untuk kami berdua. Hanya sesaat
aku dan Fie beradu pandang sambil mengulum senyum. Seraya ingin bersorak, ‘Horeee…..
kita berangkat!’.
Aku duduk bersebelahan dengan istri teman Pranoto diatas koper
besar milik seorang penumpang yang telah mengiklaskan untuk kami duduki. Sedang
Fie memilih berdiri di dekat pintu.
Sepuluh kurang dua puluh menit kapal cepat ‘Pulo Rondo’ mulai
bergerak menjauhi pelabuhan Ule-lheuh. Sekitar 2 jam ke depan, kami akan segera
menjejakkan langkah di Pulau terujung negeriku - Indonesia.
Pulau Sabang
Walau ditengah perjalanan gelombang air laut cukup besar,
kapal yang kutumpangi merapat dengan elok di pelabuhan Balohan pulau Sabang.
Disini kami berpisah dengan penolong kami, karena beliau
telah dijemput oleh keluarganya. Selanjutnya kami berdua menuju ke dalam kantor
pelabuhan. Tujuannya adalah menghindari para sopir ataupun ojek yang menawarkan
jasanya. Yang kedua untuk mengenal lokasi dengan mencari informasi yang kami
perlukan. Dan ketiga, si Fie sedang menunggu konfirmasi dari temannya yang bisa
menyewakan motor pada kami.
Kami masuk ke dalam satu-satunya kantin yang ada di pelabuhan.
Memesan dua porsi bakso dan teh manis hangat guna mengusir mabuk laut.
Selanjutnya dari pemilik kantin, kami mendapat informasi bahwa jika tidak
segera naik taksi (istilah untuk semua mobil yang disewakan), maka kami harus
menunggu hingga sore saat kedatangan kapal kedua.
Ya pada akhirnya kami menggunakan jasa taksi yang ada, sebab
teman Fie yang sedianya bisa meminjamkan motor posisinya ada di Iboih. Sementara
motor sewaan yang ada di sekitaran pelabuhan Balohan sudah tersewa semua.
Sedikit saran untuk rekan-rekan yang akan berkunjung ke P.
Sabang, sebaiknya pesan motor dulu agar bisa menghemat biaya. Contact Person persewaan motor banyak
ditempel atau di jumpai di pelabuhan
Ule-lheuh.
Sopir taksi kami adalah orang melayu tulen. Orangnya ramah
dan dengan suka hati ia bercerita serta menerangkan tentang Pulau Sabang dan
dirinya tanpa kami memintanya lebih dahulu. Lengkap dengan petuah-petuah
layaknya orang tua kepada dua anak gadisnya.
Jarak Pelabuhan Balohan menuju Pantai Iboih sekitar 50 km,
dengan kondisi jalan seluruhnya beraspal. Biaya untuk sekali jalan Rp. 50.000,-
per-orang. Tapi jika berkelompok atau group ongkosnya dihitung sewa satu mobil
sekitar Rp. 250.000 hingga Rp. 300.000,- perkali jalan.
Selama perjalanan, kami tidak habis-habisnya berdecak kagum
oleh panorama yang terbentang. Air laut dan langit menampilkan warna yang berlapis-lapis.
Biru kehijauan. Berkilat-kilat dibawah cerahnya matahari.
Lewat tengah hari kami tiba di pantai Iboih. Disana teman Fie
sudah menunggu kami. Singkat cerita kami menyewa motor yang awalnya dipatok
dengan harga Rp. 100.000,- per-harinya (harga normal). Tapi kami menawarnya Rp.
150.000 untuk dua hari, dengan alasan bahwa pemakaian di hari pertama hanya
setengah hari.
Selanjutnya kami diantar ke penginapan. Sekitar 10 menit
berkendara menyusuri jalan yang menanjak dimana sisi kanan dan kirinya
ditumbuhi ilalang liar dan pohon tropis kami sampai di penginapan.
Penginapan yang dimaksud adalah rumah panggung yang
konstruksinya dari kayu dan berdinding anyaman bambu. Dimana lantai bawah
digunakan oleh sang pengelola sebagai kedai dan lantai dua yang tersekat-sekat
disewakan kepada para wisatawan yang datang.
Kamar yang kami sewa berisi satu tempat tidur yang muat untuk
dua orang dengan kelambu anti nyamuk, kipas angin dan satu tikar pandan yang
digelar persis di depan jendela. Sedang untuk kamar mandi dan toilet posisinya
terpisah dari bangunan utama.
Sebenarnya disamping penginapan terdapat pondok-pondok kecil
dengan fasilitas tidak jauh beda namun lengkap dengan kamar mandi pribadi.
Pondok tersebut disewakan dengan harga Rp. 250.000/malam.
Dengan pertimbangan nilai ekonomis kami memutuskan memilih
kamar yang berada diatas kedai, sebab harganya hanya Rp. 50.000/kamar/malam
dengan view yang lebih cantik tentunya.
Selesai sholat dhuhur yang digabung dengan sholat Ashar aku
segera menyusul Fie yang sudah memesan makanan di Kedai. Tidak banyak pilihan
makanan yang ditawarkan semua serba instant, seperti mie rebus/goreng, telor
ceplok, roti, cornet dan sosis. Tapi untunglah masih ada ayam goreng dan nasi
walau keduanya terlalu kering dan keras dalam memasak.
Ngintip Ikan di Pulau Rubiah
Pukul tiga, kami sudah berada di pantai iboih kembali. Sekali
lagi dengan pertimbangan biaya ter-ekonomis, kami menunggu seseorang yang mau
diajak bergabung sekaligus patungan untuk sewa boat seharga Rp. 150.000/kapal.
Seperti yang kami harapkan ada sepasang muda-mudi yang hendak
ke pulau Rubiah untuk snorkle. Setelah berkenalan, intinya kami sepakat untuk
‘sharing cost’.
Selanjutnya kami bersiap-siap mengenakan peralatan snorkle
yang disewa di tempat yang sama dengan biaya Rp. 40.000 satu set (fin, kaca
mata, kaki katak dan pelampung). Bagi pemula dan/ atau yang membutuhkan pemandu snorkle biayanya Rp.
50.000/pemandu.
Pukul 15:30 WIB kami berempat menuju pulau Rubiah. Kurang
dari sepuluh menit, kami diturunkan di pantai pulau Rubiah berpasir kasar dan dipenuhi
oleh serpihan karang. Setelah meminta untuk di jemput pukul lima, boat-pun
kembali ke iboih.
Awalnya aku ragu, apakah aku bisa berenang hingga ke tengah
selat (antara Iboih dan Rubiah). Namun karena ketiga temanku yang lain sudah
lebih dulu meluncur ke air dan melambaikan tangannya penuh kepuasan atas apa
yang dilihatnya.
Akupun nekat menceburkan diri, mengayuh dengan tanganku, sehingga
badanku terdorong maju. Walau beberapa
kali harus berhenti karena harus menenangkan diri yang disebabkan gamang
melihat dasar laut, akhirnya aku dapat menyusul Fie dimana sekelompok ikan
badut berenang diantara bunga karang raksasa.
Beningnya air laut, terumbu karang yang subur dengan warna
dan bentuk yang indah lengkap dengan ikan-ikan beraneka warna yang berenang
riang diantaranya adalah satu pengalaman yang tidak dapat aku lupakan. Betapa
indahnya Indonesia dan betapa Maha kuasanya Alloh yang menciptakan keindahan alam
di bawah laut.
Tugu Nol Km, Pulau
Sabang
Langit
yang biru telah berubah jingga saat kami tiba di tugu Nol KM. Tugu yang
dibangun dengan maksud sebagai titik penentuan awal posisi geografis Indonesia
ini berada pada ketingian 43.6 meter (MSL), LU 05º 54’ 21.42” dan BT 95º 13’
00.50”.
Daya tarik
dari sudut terujung rangkaian kepulauan nusantara ini, selain keberadaan tugu
nol itu sendiri, adalah sensasi pada saat semua orang duduk berderet di pagar
pembatas jalan guna menantikan detik-detik tenggelamnya sang surya di garis cakrawala.
^_^ nyambung ke bagian-4
Catatan Penulis
- Pada hari biasa terdapat dua (2) jadwal keberangkatan: 9:00 WIB dengan kapal cepat dan 13:00 WIB dengan kapal Fery. Sedang pada hari Jumat hanya ada satu jadwal keberangkatan dengan kapal cepat yakni jam 14:00 WIB. Namun sebaiknya mengecek jadwal kapal langsung ke pelabuhan, karena terkadang ada perubahan jadwal yang biasanya karena alasan cuaca.
- Di Pulau Sabang hanya ada satu bank yakni BRI, dan mesin ATM hanya ada di area kantor BRI. Apabila bank yang dimiliki tidak tergabung dalam ATM bersama sebaiknya tarik dulu di kota Banda Aceh sebelum ke P. Sabang.
- Penginapan Seulako :
085260920505, 081377180277 (50ribu/kamar/malam pada 2012)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar