Nanggroe Aceh Darussalam
18
Mei 2012
Oleh Wedhya Wardani
Kilau Sunrise di Pantai
Iboih
Alarm
memberiku tanda bahwa pagi segera menerangkan hari. Aku segera bangun, meraih
tas berisi peralatan pribadi yang tergolek di lantai. Kuintip dari celah
cendela, gelap masih sempurna menyelubungi bumi.
Walau
ada perasaan malas karena toilet yang ada terpisah dari bangunan tempatku
menginap, aku melangkah keluar kamar untuk membersihkan diri dan mengambil air
wudhu.
Aku
menuruni tangga kayu, tak seorangpun kutemui kecuali suara ombak yang terhempas
di garis pantai. Dan sesekali suara pelepah pohon kelapa yang berderak karena
tertiup angin.
Tepat
aku berada di depan pintu toilet, tiba-tiba seluruh lampu di kawasan tersebut
padam. Membuatku kaget dan hanya diam di tempat. Kulihat ke sekeliling, hanya
bayang-bayang pepohonan yang sekarang mirip tangan-tangan raksasa.
Jujur
kawan, saat itu aku takut sekali. Apalagi lampu senter yang sedianya sudah kupersiapkan
untuk keadaan darurat tidak kubawa.
Sejenak
aku ragu masuk ke dalam bilik ukuran 1x1.5 meter untuk membersihkan diri. Aku
mengamati sekelilingku, suasana seketika berubah begitu mencekam. Deburan ombak
tidak dapat kudengar, alam benar-benar telah menjadi sangat sunyi.
Sesungguhnya
bukan kawanan jin, syetan atau hantu dengan bentuk buruk yang sangat
kutakutkan, tapi serangan hewan buas (mungkin saja, karena sekelilingku masih
hutan) atau manusia yang berniat jahat.
Pemikiran
terakhir membuatku untuk segera membersihkan diri dan wudhu. Lalu aku segera
kembali. Menyusuri jalan yang gelap, langkahku tersuruk-suruk diatas pasir.
Ketika tiba di depan tangga kayu dengan cepat aku menapaki anak tangganya.
Walhasil sampai di dalam kamar nafasku, memburu seperti baru selesai jogging.
Segera
kuambil lampu senter, menyalakannya untuk menerangi ruangan kamar yang gulita.
Kulihat Fie masih tidur di tempatnya, sepertinya ia sama sekali tidak terusik
dengan padamnya listrik.
Baru
sekitar pukul enam lewat aku mendengar bunyi generator diikuti aliran listrik
yang mengerakkan kipas angin juga menghidupkan lampu kecil yang menjadi
penerangan kamar. Aku-pun bangkit, tersenyum, menertawakan ketakutanku beberapa
menit yang lalu sambil membuka jendela kamar
Udara
menyeruak, memenuhi kamar sekaligus membagi kesegaran dan aroma pantai. Saat itu ‘Fie’ mengeliat dan kukatakan
padanya saatnya bangun dan menjemput ‘sunrise’. ‘Fie’-pun segera mempersiapkan
diri. Tidak membutuhkan waktu lama dengan camera dan tripod, ‘Fie’ telah siap
untuk memburu matahari pagi terindah yang akan muncul di pantai Iboih.
Masing-masing mengambil posisi yakni sudut terbaik untuk fotografi sebagai
oleh-oleh sepulang dari pulau Sabang. Merupakan bukti otentik yang akan
bercerita bahwa titik terujung disebelah
barat dari rangkaian kepulauan Nusantara ini mempunyai keindahan yang masih
belum banyak digali.
Setelah
puas, kami berdua sepakat untuk membeli sarapan dulu sebelum melanjutkan
eksplorasi keindahan alam di Pulau Sabang. Sayangnya café dan restaurant tempat
kami menginap baru beroperasi jam 10:00 siang, padahal sejak semalam kami belum
makan.
Akhirnya
kami memutuskan untuk pergi ke kawasan wisata pantai Iboih dimana terdapat banyak
warung. Dan sekali lagi kami hanya bisa bersabar, karena belum ada warung makan
yang siap. Daripada tidak sama sekali, kami-pun pasrah dengan memesan teh panas
dan makan jajanan (kue) untuk mengganjal perut.
Sembari
merasai hangatnya teh dengan nuansa pantai yang elok, kami mengobrol dengan
penduduk setempat. Dari situ aku baru tahu jika ingin makan pagi maka sebaiknya
memesannya sedari semalam.
Padahal
bila di Jakarta, saat pagi telah menjelang berbagai jenis pedagang sudah
bertabur; mulai tukang bubur, nasi uduk, kue pancong atau gorengan siap melayani
pembeli. Sekali lagi, ini adalah pelajaran bahwa culture atau kebiasaan satu daerah berbeda dengan penduduk di
tempat lain.
Serunya Bertemu dengan Backpacker Medan
Selesai
sarapan aku menjumpai rekan-rekan ‘Backpacker Medan’ yang seharusnya berangkat
bersama-sama dari pelabuhan Ule-lheuh. Tapi karena tiket untuk kapal cepat
sudah habis dan mereka berjumlah sekitar 10 orang maka mereka memutuskan untuk naik
kapal Fery dengan jam keberangkatan 13:00 WIB dengan harapan mobil juga bisa
ikut terangkut. Nyatanya mobil tidak bisa masuk karena jumlah penumpang yang
membludak saat itu.
Aku
bertemu dengan komandan ‘BPM’ ‘Antie’ berikut ‘Fidoh’ yang datang dari Jakarta.
Sebenarnya jadwal kedatanganku dan ‘Fidoh’ ke Medan nyaris bersamaan, hanya saja
aku memilih menempuh rute udara. Sedang ‘Fidoh’ bergabung bersama rekan-rekan
BPM menempuh jalur darat.
Selanjutnya
kami melewatkan waktu dengan acara foto bersama. Diselingi dengan perkenalan
berikut petunjuk dari ‘Antie’ untuk perjalananku selanjutnya, explore Medan dan Toba.
Matahari
terus meninggi dan mempertontonkan alam yang semakin penuh dengan warna. Hijau
dan biru bergradasi laksana permadani, membentang, serta menghipnotis kami. Untunglah
‘Fie’ mengingatkan bahwa kami harus bergerak.
Rencana
kami adalah mengunjungi spot-spot lain yang ada di Pulau Sabang. Sedang
rekan-rekan BPM akan menunggu hingga selesai sholat Ju’mat untuk mulai
beraktifitas (Snorkel atau Diving). Karenanya kami berdua segera
berpamitan pada rekan-rekan BPM, dan semoga suatu hari kita bisa bertemu
kembali.
Pantai Gapang yang Menawan
Pantai
pertama yang kami kunjungi adalah pantai Gapang, yang merupakan kawasan wisata
yang dibangun dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti taman bermain
untuk anak-anak.
‘Fie’
terus melajukan motor melewati gapura yang tidak berpenjaga. Terus meluncur
hingga melampaui batas paving, di jalan pasir yang sedikit lebih sempit yang
mana disebelah kanan kirinya dihias dengan anggrek.
Yang
unik anggrek-anggrek tersebut ditanam diatas batang-batang pohon kelapa yang
dijadikan inangnya. Menjadikan suasana dikawasan pantai gapang terkesan asri
dan berkelas.
Akhirnya
motor berhenti di depan jajaran hunian berlantai dua yang disewakan kepada para
wisatawan. Selanjutnya kamipun menghambur ke arah pantai. Membiarkan airnya
menjilati kaki kami yang telanjang.
Air Terjun Pria Laot
Bertolak
dari pantai Gapang tujuan kedua adalah air terjun Pria Laot. Sekitar 30 menit
kami sudah sampai pada papan besar yang menunjuk arah air terjun. Atau
tepatnya berada ± 12 km dari kota Sabang, air terjun bertingkat ini tersembunyi
di dalam lebatnya hutan tropis.
Bagi
mereka yang membawa mobil, hanya bisa ditempuh sampai batas aspal. Tapi yang
berkendara dengan sepeda motor perjalanan masih bisa dilanjutkan hingga melewati
talang air.
Disepanjang
jalan ini, berbatas bunga rumput dan hijaunya daun talas, aku melihat beberapa
ekor bebek yang berenang tenang diatas aliran sungai yang jernih.
Jalan
yang kami lalui semakin mengecil hingga sampai batas jalan bersemen, akhirnya
motor yang kami naiki diparkir dibawah pohon. Disana tidak ada pos
jaga atau jasa parkir, tapi jangan khawatir, kendaraan anda aman. Meski
demikian jangan pernah coba-coba untuk melakukan kejahilan.
Kemudian
perjalanan dilanjutkan dengan trekking
sungai sekitar 10 menit. Cukup menyusuri aliran sungai maka hulunya akan
berakhir di air terjun, demikian keterangan yang kami peroleh dari penduduk
setempat yang tadi kami jumpai di dekat plang penunjuk arah.
Namun
beberapa kali kami harus menyebrang sungai secara zigzak, memutari batu-batu
besar yang berserak menghalang jalan. Sampai akhirnya kami mendengar kemericik
air yang riuh.
Berdiri
diatas salah satu batu besar berlumut, aku mencium bau tanah dan humus
berselang-seling. Cahaya matahari sulit menembus lokasi ini dikarenakan
rapatnya pohon-pohon dan rimbunya dedaunan, menjadi sebab kawasan di sekitar
air terjun terkesan suram dan sangat lembab.
Hanya beberapa kali kami mengambil foto, selanjutnya kami sudah kembali
menyusuri jalan dimana kami datang.
Sebagai
tambahan informasi; biawak laut yang merupakan salah satu satwa liar yang
mendiami pulau Sabang, kerap mencul di kawasan ini. Sayangnya ketika kami
berkunjung waktu itu, kami belum beruntung.
Gedung Kesenian Pulau Sabang
12:50
WIB kami sudah kembali meluncur menuju tujuan berikutnya. Saat itu alarm
perutku mulai berbunyi memberi tanda jam makan siang. Aku-pun berbisik pada
Fie, jika kita menjumpai warung sebaiknya kita berhenti dulu. Fie mengangguk
dan menambahkan gas, menambah laju motor.
Kami
memasuki kota sabang yang lebih mirip kota mati. Sebab aku tidak menjumpai
keramaian layaknya kota pada umumnya atau aktifitas sekelas kota kecamatan.
Kami melewati pasar yang juga sepi dan tidak ada satupun warung yang buka,
‘Perfect’, desahku.
Fie
membelokkan motornya dan tanpa sengaja kami berhenti di depan Gedung Kesenian
Pulau Sabang yang juga tertutup rapat. Yang menarik dari tulisan yang yang
menjelaskan bahwa gedung ini dibangun sebelum TH 1900 yang berarti dibangun pada
masa kolonial Belanda.
Seperti
nama gedungnya yang sengaja diperuntukkan untuk memfasilitasi hiburan bagi
masyarakat Sabang. Dulu di gedung ini setiap harinya menanyangkan film-film
yang sudah melewati seleksi komite yang memutuskan film mana yang akan diputar,
termasuk film anak-anak. Selanjutnya gedung ini digunakan sebagai gedung
kesenian yang menyelenggarakan atau mengadakan kegiatan seni ataupun peragaan
busana.
Lembutnya Pasir di Pantai Sumur Tiga
13:35
WIB kami sampai di pantai Sumur Tiga. Disini kami masih saja dimanjakan oleh
indahnya laut yang berwarna biru kehijauan dengan batas pasir putih yang sangat
lembut. Ditambah jajaran pohon kelapa yang melambai-lambai, benar-benar
membuatku enggan untuk beranjak dari tempat itu.
Siang itu sungguh sangat terik, namun sekali lagi
kutegaskan keindahan alam yang terbentang di depan kami membuat kami tidak
mengindahkan sengatan matahari yang mampu membuat mahluk hidup meranggas.
Bangker Jepang
Belum
lengkap kiranya jika ke Pulau Sabang tapi belum mengunjungi salah satu benteng
yang banyak tersebar di pulau tersebut. Baik peninggalan semasa kolonial
belanda ataupun peninggalan perag dunia II (masa pendudukan Jepang). Karena
pulau Sabang sendiri juga mempunyai julukan ‘Kota Seribu Benteng’
Salah
satu Benteng yang kami kunjungi adalah benteng yang berada dijalur antara
Pantai Sumur Tiga dan Pantai Anoi Hitam. Awalnya kami memang menuju pantai Anoi
Hitam yang terkenal unik dengan pasirnya yang berwarna hitam pekat dengan ukuran butiran lebih besar dari pasir umumnya (kira-kira sebesar biji
merica) serta mempunyai kandungan nikel 3kali lebih besar (upffff…. Indonesiaku
yang kaya).
Bangker
peninggalan Jepang tersebut dibangun diatas bukit dan menghadap langsung ke
arah laut lepas yang membiru. Sementara dibawah bangker, koral-koral berwarna
legam menjadi benteng alam yang menahan deburan ombak. Sungguh elok, indah
tiada terperi.
Setelah
beristirahat sejenak di pondok, guna memulihkan tenaga yang benar-benar
terkuras oleh peluh, aku bertanya kepada pemilik toko kelontong mengenai jarak tempuh
menuju pantai Anoi Hitam. Dan keterangan beliau sungguh mematahkan hatiku.
Bahwa jalur ke pantai yang akan dituju rusak berat. Bahkan kami disuruh untuk
kembali. Padahal jika melihat peta yang ada, jalur pantai Anoi
Hitam bisa menembus hingga pelabuhan Balohan.
Fie
melirik jam tangannya, lalu dengan sigap ia menghidupkan mesin motor. “Sebaiknya
aku mengantarmu ke pelabuhan Balohan, takutnya kamu ketinggalan kapal,” putus
Fie, sekaligus adalah perintah agar aku segera naik ke atas motor.
Selanjutnya
kami berdua sudah meluncur kembali menyusuri jalanan yang berdebu dan
berfatamorgana akibat teriknya matahari. Kurang setengah jam dari jadwal
keberangkatan kami telah sampai di Pelabuhan. Aku segera melompat dari
boncengan dan membeli tiket.
Setelah
memperoleh tiket dan mencatat jadwal keberangkatan kapal untuk ke-esokan
harinya untuk di-infokan kepada Fie dan teman-teman BPM, aku menjumpai teman
seperjalananku yang tangguh itu di salah satu warung yang ada.
Kami
segera memesan makanan dan menghabiskannya dengan cepat. Sejenak kami berdua
hanya bisa terdiam, merasai lelah dan kesenangan yang baru saja kami lewati
bersama. “Jangan khawatir foto Anoi Hitam akan kukirim untukmu,” cetus Fie
penuh smangat. Aku tersenyum dan mengacunginya jempol.
Disini
aku dan Fie berpisah. Aku memasuki gerbang pelabuhan dan segera menaiki kapal kembali ke Banda Aceh,
sedangkan Fie dengan motor sewaan telah melaju kencang memburu Anoi Hitam.
‘Berharap
suatu hari kami bisa dipertemukan dalam perjalanan yang lebih seru’.
perjalanan di hari ke-5 lebih seruuuuuuu *_^
Catatan Penulis
1. Adanya patangan/ larangan
melaut, memancing, berenang, atau berbagai kegiatan di laut pada hari: Kamis
(jam 19:00 WIB) hingga Jum’at (jam 14:00 WIB).
2. Detail pengeluaran
selama di Pulau Sabang di luar makan dan keperluan pribadi (2 hari 1 malam):
Tiket kapal cepat dari pelabuhan Ule-lheuh ke P. Sabang (PP) : Rp. 120.000
Mobil dari Pelabuhan Sabang – Pantai Iboih per orang (1x jln) : Rp. 50.000
Sewa kapal Ke Pulau Rubiah (Rp. 150.000 : 4 orang) : Rp.
37.500
Sewa alat Snorkle (Pelampung, Kaca Mata, Fin, Kaki Katak) : Rp. 40.000
Sewa motor selama 2 hari (Rp. 150.000 : 2 orang) : Rp.
75.000
Penginapan (Rp. 50.000/malam/kamar : 2 orang) : Rp.
25.000
Total pengeluaran per-orang Rp.
347.500






Tidak ada komentar:
Posting Komentar