Kamis, 03 Januari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian 4) Kilau Sunrise di Pantai Iboih – Pulau Sabang



Nanggroe Aceh Darussalam

18 Mei 2012


Oleh Wedhya Wardani
Kilau Sunrise di Pantai Iboih
Alarm memberiku tanda bahwa pagi segera menerangkan hari. Aku segera bangun, meraih tas berisi peralatan pribadi yang tergolek di lantai. Kuintip dari celah cendela, gelap masih sempurna menyelubungi bumi.
Walau ada perasaan malas karena toilet yang ada terpisah dari bangunan tempatku menginap, aku melangkah keluar kamar untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Aku menuruni tangga kayu, tak seorangpun kutemui kecuali suara ombak yang terhempas di garis pantai. Dan sesekali suara pelepah pohon kelapa yang berderak karena tertiup angin.
Tepat aku berada di depan pintu toilet, tiba-tiba seluruh lampu di kawasan tersebut padam. Membuatku kaget dan hanya diam di tempat. Kulihat ke sekeliling, hanya bayang-bayang pepohonan yang sekarang mirip tangan-tangan raksasa.
Jujur kawan, saat itu aku takut sekali. Apalagi lampu senter yang sedianya sudah kupersiapkan untuk keadaan darurat tidak kubawa.
Sejenak aku ragu masuk ke dalam bilik ukuran 1x1.5 meter untuk membersihkan diri. Aku mengamati sekelilingku, suasana seketika berubah begitu mencekam. Deburan ombak tidak dapat kudengar, alam benar-benar telah menjadi sangat sunyi.
Sesungguhnya bukan kawanan jin, syetan atau hantu dengan bentuk buruk yang sangat kutakutkan, tapi serangan hewan buas (mungkin saja, karena sekelilingku masih hutan) atau manusia yang berniat jahat.
Pemikiran terakhir membuatku untuk segera membersihkan diri dan wudhu. Lalu aku segera kembali. Menyusuri jalan yang gelap, langkahku tersuruk-suruk diatas pasir. Ketika tiba di depan tangga kayu dengan cepat aku menapaki anak tangganya. Walhasil sampai di dalam kamar nafasku, memburu seperti baru selesai jogging.
Segera kuambil lampu senter, menyalakannya untuk menerangi ruangan kamar yang gulita. Kulihat Fie masih tidur di tempatnya, sepertinya ia sama sekali tidak terusik dengan padamnya listrik.
Baru sekitar pukul enam lewat aku mendengar bunyi generator diikuti aliran listrik yang mengerakkan kipas angin juga menghidupkan lampu kecil yang menjadi penerangan kamar. Aku-pun bangkit, tersenyum, menertawakan ketakutanku beberapa menit yang lalu sambil membuka jendela kamar
Udara menyeruak, memenuhi kamar sekaligus membagi kesegaran dan aroma pantai.  Saat itu ‘Fie’ mengeliat dan kukatakan padanya saatnya bangun dan menjemput ‘sunrise’. ‘Fie’-pun segera mempersiapkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama dengan camera dan tripod, ‘Fie’ telah siap untuk memburu matahari pagi terindah yang akan muncul di pantai Iboih. 

Masing-masing mengambil posisi yakni sudut terbaik untuk fotografi sebagai oleh-oleh sepulang dari pulau Sabang. Merupakan bukti otentik yang akan bercerita bahwa  titik terujung disebelah barat dari rangkaian kepulauan Nusantara ini mempunyai keindahan yang masih belum banyak digali.
Setelah puas, kami berdua sepakat untuk membeli sarapan dulu sebelum melanjutkan eksplorasi keindahan alam di Pulau Sabang. Sayangnya café dan restaurant tempat kami menginap baru beroperasi jam 10:00 siang, padahal sejak semalam kami belum makan.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kawasan wisata pantai Iboih dimana terdapat banyak warung. Dan sekali lagi kami hanya bisa bersabar, karena belum ada warung makan yang siap. Daripada tidak sama sekali, kami-pun pasrah dengan memesan teh panas dan makan jajanan (kue) untuk mengganjal perut.
Sembari merasai hangatnya teh dengan nuansa pantai yang elok, kami mengobrol dengan penduduk setempat. Dari situ aku baru tahu jika ingin makan pagi maka sebaiknya memesannya sedari semalam.
Padahal bila di Jakarta, saat pagi telah menjelang berbagai jenis pedagang sudah bertabur; mulai tukang bubur, nasi uduk, kue pancong atau gorengan siap melayani pembeli. Sekali lagi, ini adalah pelajaran bahwa culture atau kebiasaan satu daerah berbeda dengan penduduk di tempat lain.
Serunya Bertemu dengan Backpacker Medan
Selesai sarapan aku menjumpai rekan-rekan ‘Backpacker Medan’ yang seharusnya berangkat bersama-sama dari pelabuhan Ule-lheuh. Tapi karena tiket untuk kapal cepat sudah habis dan mereka berjumlah sekitar 10 orang maka mereka memutuskan untuk naik kapal Fery dengan jam keberangkatan 13:00 WIB dengan harapan mobil juga bisa ikut terangkut. Nyatanya mobil tidak bisa masuk karena jumlah penumpang yang membludak saat itu.
Aku bertemu dengan komandan ‘BPM’ ‘Antie’ berikut ‘Fidoh’ yang datang dari Jakarta. Sebenarnya jadwal kedatanganku dan ‘Fidoh’ ke Medan nyaris bersamaan, hanya saja aku memilih menempuh rute udara. Sedang ‘Fidoh’ bergabung bersama rekan-rekan BPM menempuh jalur darat. 
 Selanjutnya kami melewatkan waktu dengan acara foto bersama. Diselingi dengan perkenalan berikut petunjuk dari ‘Antie’ untuk perjalananku selanjutnya, explore Medan dan Toba.
Matahari terus meninggi dan mempertontonkan alam yang semakin penuh dengan warna. Hijau dan biru bergradasi laksana permadani, membentang, serta menghipnotis kami. Untunglah ‘Fie’ mengingatkan bahwa kami harus bergerak.
Rencana kami adalah mengunjungi spot-spot lain yang ada di Pulau Sabang. Sedang rekan-rekan BPM akan menunggu hingga selesai sholat Ju’mat untuk mulai beraktifitas (Snorkel atau Diving). Karenanya kami berdua segera berpamitan pada rekan-rekan BPM, dan semoga suatu hari kita bisa bertemu kembali.    
Pantai Gapang yang Menawan
Pantai pertama yang kami kunjungi adalah pantai Gapang, yang merupakan kawasan wisata yang dibangun dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti taman bermain untuk anak-anak.
‘Fie’ terus melajukan motor melewati gapura yang tidak berpenjaga. Terus meluncur hingga melampaui batas paving, di jalan pasir yang sedikit lebih sempit yang mana disebelah kanan kirinya dihias dengan anggrek.
Yang unik anggrek-anggrek tersebut ditanam diatas batang-batang pohon kelapa yang dijadikan inangnya. Menjadikan suasana dikawasan pantai gapang terkesan asri dan berkelas.
Akhirnya motor berhenti di depan jajaran hunian  berlantai dua yang disewakan kepada para wisatawan. Selanjutnya kamipun menghambur ke arah pantai. Membiarkan airnya menjilati kaki kami yang telanjang. 
Air Terjun Pria Laot
Bertolak dari pantai Gapang tujuan kedua adalah air terjun Pria Laot. Sekitar 30 menit kami sudah sampai pada papan besar yang menunjuk arah air terjun. Atau tepatnya berada ± 12 km dari kota Sabang, air terjun bertingkat ini tersembunyi di dalam lebatnya hutan tropis. 
Bagi mereka yang membawa mobil, hanya bisa ditempuh sampai batas aspal. Tapi yang berkendara dengan sepeda motor perjalanan masih bisa dilanjutkan hingga melewati talang air.
Disepanjang jalan ini, berbatas bunga rumput dan hijaunya daun talas, aku melihat beberapa ekor bebek yang berenang tenang diatas aliran sungai yang jernih.
Jalan yang kami lalui semakin mengecil hingga sampai batas jalan bersemen, akhirnya motor yang kami naiki diparkir dibawah pohon. Disana tidak ada pos jaga atau jasa parkir, tapi jangan khawatir, kendaraan anda aman. Meski demikian jangan pernah coba-coba untuk melakukan kejahilan.
Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan trekking sungai sekitar 10 menit. Cukup menyusuri aliran sungai maka hulunya akan berakhir di air terjun, demikian keterangan yang kami peroleh dari penduduk setempat yang tadi kami jumpai di dekat plang penunjuk arah.
Namun beberapa kali kami harus menyebrang sungai secara zigzak, memutari batu-batu besar yang berserak menghalang jalan. Sampai akhirnya kami mendengar kemericik air yang riuh.
Berdiri diatas salah satu batu besar berlumut, aku mencium bau tanah dan humus berselang-seling. Cahaya matahari sulit menembus lokasi ini dikarenakan rapatnya pohon-pohon dan rimbunya dedaunan, menjadi sebab kawasan di sekitar air terjun terkesan suram dan sangat lembab.  Hanya beberapa kali kami mengambil foto, selanjutnya kami sudah kembali menyusuri jalan dimana kami datang.  
Sebagai tambahan informasi; biawak laut yang merupakan salah satu satwa liar yang mendiami pulau Sabang, kerap mencul di kawasan ini. Sayangnya ketika kami berkunjung waktu itu, kami belum beruntung.  
Gedung Kesenian Pulau Sabang
12:50 WIB kami sudah kembali meluncur menuju tujuan berikutnya. Saat itu alarm perutku mulai berbunyi memberi tanda jam makan siang. Aku-pun berbisik pada Fie, jika kita menjumpai warung sebaiknya kita berhenti dulu. Fie mengangguk dan menambahkan gas, menambah laju motor.
Kami memasuki kota sabang yang lebih mirip kota mati. Sebab aku tidak menjumpai keramaian layaknya kota pada umumnya atau aktifitas sekelas kota kecamatan. Kami melewati pasar yang juga sepi dan tidak ada satupun warung yang buka, ‘Perfect’, desahku.
Fie membelokkan motornya dan tanpa sengaja kami berhenti di depan Gedung Kesenian Pulau Sabang yang juga tertutup rapat. Yang menarik dari tulisan yang yang menjelaskan bahwa gedung ini dibangun sebelum TH 1900 yang berarti dibangun pada masa kolonial Belanda.
Seperti nama gedungnya yang sengaja diperuntukkan untuk memfasilitasi hiburan bagi masyarakat Sabang. Dulu di gedung ini setiap harinya menanyangkan film-film yang sudah melewati seleksi komite yang memutuskan film mana yang akan diputar, termasuk film anak-anak. Selanjutnya gedung ini digunakan sebagai gedung kesenian yang menyelenggarakan atau mengadakan kegiatan seni ataupun peragaan busana.
Lembutnya Pasir di Pantai Sumur Tiga
13:35 WIB kami sampai di pantai Sumur Tiga. Disini kami masih saja dimanjakan oleh indahnya laut yang berwarna biru kehijauan dengan batas pasir putih yang sangat lembut. Ditambah jajaran pohon kelapa yang melambai-lambai, benar-benar membuatku enggan untuk beranjak dari tempat itu.
Siang itu sungguh sangat terik, namun sekali lagi kutegaskan keindahan alam yang terbentang di depan kami membuat kami tidak mengindahkan sengatan matahari yang mampu membuat mahluk hidup meranggas. 
Bangker Jepang
Belum lengkap kiranya jika ke Pulau Sabang tapi belum mengunjungi salah satu benteng yang banyak tersebar di pulau tersebut. Baik peninggalan semasa kolonial belanda ataupun peninggalan perag dunia II (masa pendudukan Jepang). Karena pulau Sabang sendiri juga mempunyai julukan ‘Kota Seribu Benteng’
Salah satu Benteng yang kami kunjungi adalah benteng yang berada dijalur antara Pantai Sumur Tiga dan Pantai Anoi Hitam. Awalnya kami memang menuju pantai Anoi Hitam yang terkenal unik dengan pasirnya yang berwarna hitam pekat dengan ukuran butiran lebih besar dari pasir umumnya (kira-kira sebesar biji merica) serta mempunyai kandungan nikel 3kali lebih besar (upffff…. Indonesiaku yang kaya).
Bangker peninggalan Jepang tersebut dibangun diatas bukit dan menghadap langsung ke arah laut lepas yang membiru. Sementara dibawah bangker, koral-koral berwarna legam menjadi benteng alam yang menahan deburan ombak. Sungguh elok, indah tiada terperi.
Setelah beristirahat sejenak di pondok, guna memulihkan tenaga yang benar-benar terkuras oleh peluh, aku bertanya kepada pemilik toko kelontong mengenai jarak tempuh menuju pantai Anoi Hitam. Dan keterangan beliau sungguh mematahkan hatiku. Bahwa jalur ke pantai yang akan dituju rusak berat. Bahkan kami disuruh untuk kembali. Padahal jika melihat peta yang ada, jalur pantai Anoi Hitam bisa menembus hingga pelabuhan Balohan.

Fie melirik jam tangannya, lalu dengan sigap ia menghidupkan mesin motor. “Sebaiknya aku mengantarmu ke pelabuhan Balohan, takutnya kamu ketinggalan kapal,” putus Fie, sekaligus adalah perintah agar aku segera naik ke atas motor.
Selanjutnya kami berdua sudah meluncur kembali menyusuri jalanan yang berdebu dan berfatamorgana akibat teriknya matahari. Kurang setengah jam dari jadwal keberangkatan kami telah sampai di Pelabuhan. Aku segera melompat dari boncengan dan membeli tiket.
Setelah memperoleh tiket dan mencatat jadwal keberangkatan kapal untuk ke-esokan harinya untuk di-infokan kepada Fie dan teman-teman BPM, aku menjumpai teman seperjalananku yang tangguh itu di salah satu warung yang ada.
Kami segera memesan makanan dan menghabiskannya dengan cepat. Sejenak kami berdua hanya bisa terdiam, merasai lelah dan kesenangan yang baru saja kami lewati bersama. “Jangan khawatir foto Anoi Hitam akan kukirim untukmu,” cetus Fie penuh smangat. Aku tersenyum dan mengacunginya jempol.
Disini aku dan Fie berpisah. Aku memasuki gerbang pelabuhan dan segera menaiki kapal kembali ke Banda Aceh, sedangkan Fie dengan motor sewaan telah melaju kencang memburu Anoi Hitam.
‘Berharap suatu hari kami bisa dipertemukan dalam perjalanan yang lebih seru’.   

perjalanan di hari ke-5 lebih seruuuuuuu *_^
 

Catatan Penulis

1.  Adanya patangan/ larangan melaut, memancing, berenang, atau berbagai kegiatan di laut pada hari: Kamis (jam 19:00 WIB) hingga Jum’at (jam 14:00 WIB).

2.  Detail pengeluaran selama di Pulau Sabang di luar makan dan keperluan pribadi (2 hari 1 malam):

Tiket kapal cepat dari pelabuhan Ule-lheuh ke P. Sabang (PP)            :    Rp. 120.000

Mobil dari Pelabuhan Sabang – Pantai Iboih per orang (1x jln)             :    Rp.   50.000

Sewa kapal Ke Pulau Rubiah (Rp. 150.000 : 4 orang)                           :    Rp.   37.500

Sewa alat Snorkle (Pelampung, Kaca Mata, Fin, Kaki Katak)               :    Rp.   40.000

Sewa motor selama 2 hari (Rp. 150.000 : 2 orang)                                 :    Rp.   75.000

Penginapan (Rp. 50.000/malam/kamar : 2 orang)                                   :    Rp.   25.000

Total pengeluaran per-orang                                                                             Rp. 347.500


Tidak ada komentar:

Posting Komentar