Senin, 07 Januari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (bagian-5): Jejak Tsunami



Banda Aceh - Nanggroe Aceh Darussalam
18 ~ 19 Mei 2012
  
 Oleh Wedhya Wardani

Mesjid Raya Baiturohman
Setelah menaruh ranselku di kantor LSM yang menjadi tempatku bermalam. Pranoto mengantarku ke Mesjid Raya Baiturohman. Selanjutnya aku ditinggal karena ia harus pergi untuk urusan pekerjaan.
Aku masuk ke areal mesjid dari pintu sebelah kiri, dimana banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual berbagai jajanan khas Aceh. Aku tidak sempat mencoba membeli apapun, karena sudah tidak sabar untuk melihat bangunan yang seijin Alloh SWT telah selamat dari terjangan tsunami, padahal semua bangunan yang ada di sekitarnya tersapu oleh luapan air laut dan rata dengan tanah.
Mesjid kebanggaan penduduk Aceh ini berdiri di areal yang cukup luas, dengan taman berumput hijau yang dihias pohon-pohon kurma juga adanya kolam besar memberikan kesan teduh dan asri serta sangat nyaman dijadikan tempat bersantai. Sedang konstruksi bangunan-nya sendiri mempunyai tujuh (7) kubah, empat (4) menara, dan satu (1) menara induk yang terpisah. Persis di depan kolam terdapat batu peresmian pemugaran terakhir pasca bencana tsunami. 

Awalnya mesjid Raya Baiturohman didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (Th.1607 – Th.1636), selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga menjadi pusat pendidikan ilmu agama. Konon pada masa itu banyak kalangan bahkan dari luar negeri seperti Melayu, Persia, Arab, dan Turki yang datang untuk memperdalam ilmu agama di negri yang juga dikenal dengan nama negeri serambi Mekkah.
Namun saat kolonial Belanda berkuasa di Aceh, masjid Baiturohman yang saat itu difungsikan sebagai basis pertahanan dan perlawanan rakyat Aceh dibumi hanguskan (Th. 1873). Ternyata hal ini bukannya menyurutkan perjuangan rakyat Aceh sebaliknya malah memicu serangan yang lebih hebat. Karenanya 6 tahun kemudian (1879) dibawah Gubernur Jenderal Van Lansnerge mesjid Baiturohman dibangun kembali, dan terus mengalami pemugaran sampai bentuknya yang sekarang.
Selesai mengitari kawasan mesjid, aku duduk-duduk di undakan menara yang berada di taman, tidak terlalu lama bersama-sama penduduk Aceh yang menyurut, kami berbondong-bondong menuju mesjid untuk memenuhi panggilan sholat magrib.
Tempat wudhu terpisah dari bangunan induk, berada di sebelah kiri, berbanjar-banjar. Selanjutnya saat memasuki mesjid, aku semakin kagum oleh interior bangunan yang di dominasi warna putih yang serasi dan elegan dengan lampu-lampu gantung gaya eropa. 
 Aku memutuskan untuk berdiam di mesjid hingga selesai waktu Isya. Setelahnya sembari menunggu dijemput aku duduk di teras mesjid, dengan seorang penduduk aku berbincang. Pria paroh baya bersama istri dan anaknya itu sudah biasa menghabiskan waktu di areal mesjid. Dan yang semakin menarik saat beliau bercerita bagaimana ada seorang pedagang non muslim yang mempunyai toko klontong di depan mesjid (dulunya kawasan taman mesjid adalah pertokoan/pasar) seketika menjadi mualaf karena menurut pengakuannya, semasa bencana telah melihat mesjid Baiturrohman terbang diatas gelombang Tsunami.

Rumah Adat Aceh (19 Mei 2012)

Rumah Adat Aceh atau disebut dengan Rumoh Atjeh merupakan tempat untuk memamerkan barang-barang khas/ asli Aceh. Rumah panggung ini dibuat pada masa kolonial Belanda yakni Th. 1914 dan baru pada 31 Juli 1915 diresmikan sebagai musium Aceh hingga sekarang. 


Salah satu koleksi yang menarik adalah lonceng Cakra Donya berukuran tinggi +/- 1,25 meter dan lebar 0,75 meter. Lonceng yang dipamerkan di pelataran Rumoh Aceh ini konon adalah hadiah dari kaisar China untuk sultan Aceh. Adapun tujuan pemberian hadiah adalah untuk membina persahabatan diantara kedua kerajaan. Kondisi lonceng sendiri telah terkerosi (berkarat) sangat parah sehingga pahatan ataupun ukirannya nyaris tidak terlihat lagi, padahal jika membaca literatur yang ada menerangkan bahwa ukiran ataupun hiasan yang ditulis dalam bahasa Arab dan China terlapis oleh emas.

Makam Pahlawan Sultan Iskandar Muda

Bersebelahan dengan Rumah Adat Aceh adalah Makam Pahlawan Sultan Iskandar Muda, merupakan salah satu sultan yang tersohor dan membawa Aceh berada di puncak kejayaannya.

Sultan Iskandar Muda berkuasa sejak Th. 1607 hingga Th. 1636, dengan daerah kekuasaan sampai pesisir barat Minangkabau, bahkan penaklukannya hingga ke Semenanjung Melayu – Penang. Selain itu kerja sama luar negeri-pun dibina seperti dengan Inggris, Prancis, Belanda, Turki, China,  hal ini terbukti dari catatan ataupun berbagai peninggalan yang masih ada. 

Hal tersebut membuat kerajaan Aceh sangat makmur dan menjadi pusat ilmu pengetahuan kala itu, karenanya sebagai wujud kebanggaan maka bandara udara Aceh diberi nama sang sultan.

Selain terdapat makan keluarga lengkap dengan daftar siapa saja yang dimakamkan, di tempat tersebut juga dipamerkan berbagai persenjataan perang yang digunakan sekitar abad 19~20 seperti meriam, roket atau tank.

Musium Tsunami
Lewat pukul sembilan waktu setempat kami telah sampai di musium tsunami yang dibangun sebagai monumen peringatan atas bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004. Selain sebagai tempat memoriam kejadian tempat ini juga berfungsi sebagai menjadi pusat pendidikan dan dirancang sebagai tempat perlindungan darurat seandainya bencana tsunami terjadi lagi (semoga tidak pernah terjadi lagi)
 Musium empat lantai yang berdiri diareal seluas 2.500 m² ini didesain oleh putra bangsa ‘Ridwan Kamil’. Secara umum rancangannya sangat artistik, diawali pada dindingnya yang melengkung yang ditutup oleh relief-relief geometris sedang dinding dalam musium dihiasi gambar orang-orang menarikan tari ‘Saman’ yang mempunyai arti kekuatan, kedisiplinan, dan kepercayaan (religius). Sementara bila dilihat dari ketinggian maka atap musium menyerupai gelombang laut yang telah memporak-porandakan Aceh. Sedang lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.
Setelah menitipkan ranselku, aku masuk ke lorong tsunami sendiri, sementara Pranoto lebih memilih menjemur badannya dibawah hangatnya matahari sembari menikmati ‘cigarrete’ .
Aku masuk ke dalam lorong sempit dan gelap diantara dua dinding air yang tinggi, beberapa kali air menciprat ke wajahku sementara lantunan dari ayat-ayat Al-Quran mengema di seluruh ruangan menembus kalbu. Darahku berdesir, ketakutan dan kepanikan tentu tidak bisa terbayangkan saat itu. Berserah diri dan hanya memohon pertolongan dari Alloh, barangkali kesan tersebut yang hendak disampaikan kepada setiap pengunjung.  
Keluar dari lorong tsunami aku sampai di ruang kenangan. Disini terdapat monitor-monitor ‘touch screen’  yang menampilkan foto-foto dokumentasi ketika dan saat evakuasi bencana. Selanjutnya masuk ke ruangan yang menyerupai cerobong kapal, dimana pada dindingnya tertulis nama-nama korban bencana tsunami, dan pada puncak cerobong diukir asma ALLOH mungkin sebagai supremasi tertinggi atas Qodho’ dan Qodhar manusia.
Lepas dari situ kita memasuki anjungan kapal yang berupa titian/ jembatan dimana dibagian bawah terdapat kolam sedangkan pada langit-langitnya yang diperumpamakan layar diletakan bendera-bendera negara yang telah membantu pemulihan Aceh pasca bencana.
Sampai diujung jembatan terdapat ruang cinema yang memutar film dokumenter saat bencana terjadi, tidak ada pungutan biaya, anda dipersilahkan duduk dan diminta diam selama pemutaran film berlangsung.
Di dalam film diterangkan daerah-daerah yang tergerus oleh tsunami diantaranya adalah perempatan surabaya, dimana aku bermalam selama berada di Aceh. Disebut perempatan Surabaya karena di daerah tersebut banyak orang yang berasal dari Surabaya atau Jawa Timur bermukim, hingga saat ini perempatan tersebut tetap terkenal dengan nama perempatan Surabaya.
Bertolak dari ruang Cinema ada beberapa ruangan seperti ruang geology, ruang pendidikan dan perpustakaan yang akan memberikan informasi baik dalam bentuk foto-foto atau catatan mulai bencana terjadi, pasca tusnami, dan pembangunan yang terus dilakukan oleh pemerintah Aceh.
Akhirnya aku sampai ke lantai dasar, mengikuti petunjuk tanda panah ‘keluar’, segera kujumpai Pranoto yang menungguku dengan cemas. Sebab waktuku kian menipis, tik-tok-tik-tok, dengan motornya Pranoto ngebut! Dan hasilnya 10 menit sebelum boarding aku sudah sampai di Bandara. Aku segera menyalaminya, berterima kasih lalu lari melewati petugas dan langsung mengantri di depan loket.
Toba nantikan kedatangan-ku... yaaaa 
(critanya di bagian ke-6)
http://wedhya.blogspot.com/2013/01/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-6.html
   Catatan Penulis

Aku benar-benar berterima kasih pada:
Fie patner seperjalananku, bang Pranoto, Edy, Ria yang sudi meluangkan waktu dan mengantarku keliling Aceh, bang Okta dan istri yang mengijinkan aku numpang bermalam di kantor LSM, Rasidin & bang Nasir yang membagi info-info Aceh mungkin suatu hari kita bisa jumpa, Antie & the great BPM, Sepasang kepompong (Tina dan Mery) yang setia memonitor keberadaanku serta teman-teman lain yang kujumpai sepanjang perjalanan yang tidak dapat kusebutkan satu persatu, juga pada Alloh untuk semua hal yang memudahkan perjalananku selama di Aceh dan Pulau Sabang. 
Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar