Banda Aceh - Nanggroe
Aceh Darussalam
18 ~ 19
Mei 2012
Oleh Wedhya Wardani
Mesjid
Raya Baiturohman
Setelah menaruh ranselku di kantor LSM yang menjadi tempatku bermalam. Pranoto mengantarku ke
Mesjid Raya Baiturohman. Selanjutnya aku ditinggal karena ia harus pergi untuk
urusan pekerjaan.
Aku masuk ke areal mesjid dari pintu
sebelah kiri, dimana banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual berbagai
jajanan khas Aceh. Aku tidak sempat mencoba membeli apapun, karena sudah tidak
sabar untuk melihat bangunan yang seijin Alloh SWT telah selamat dari terjangan tsunami, padahal semua
bangunan yang ada di sekitarnya tersapu oleh luapan air laut dan rata dengan tanah.
Mesjid kebanggaan penduduk Aceh ini berdiri
di areal yang cukup luas, dengan taman berumput hijau yang dihias pohon-pohon kurma
juga adanya kolam besar memberikan kesan teduh dan asri serta sangat nyaman
dijadikan tempat bersantai. Sedang konstruksi bangunan-nya sendiri mempunyai
tujuh (7) kubah, empat (4) menara, dan satu (1) menara induk yang terpisah. Persis di depan kolam terdapat batu peresmian pemugaran terakhir pasca bencana
tsunami.
Awalnya mesjid Raya Baiturohman
didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (Th.1607 – Th.1636),
selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga menjadi pusat pendidikan ilmu
agama. Konon pada masa itu banyak kalangan bahkan dari luar negeri seperti
Melayu, Persia, Arab, dan Turki yang datang untuk memperdalam ilmu agama di
negri yang juga dikenal dengan nama negeri serambi Mekkah.
Namun saat kolonial Belanda berkuasa di
Aceh, masjid Baiturohman yang saat itu difungsikan sebagai basis pertahanan dan
perlawanan rakyat Aceh dibumi hanguskan (Th. 1873). Ternyata hal ini bukannya
menyurutkan perjuangan rakyat Aceh sebaliknya malah memicu serangan yang lebih
hebat. Karenanya 6 tahun kemudian (1879) dibawah Gubernur Jenderal Van
Lansnerge mesjid Baiturohman dibangun kembali, dan terus mengalami pemugaran
sampai bentuknya yang sekarang.
Selesai mengitari kawasan mesjid, aku duduk-duduk di undakan
menara yang berada di taman, tidak terlalu lama bersama-sama penduduk Aceh yang
menyurut, kami berbondong-bondong menuju mesjid untuk memenuhi panggilan sholat
magrib.
Tempat wudhu terpisah dari bangunan induk, berada di sebelah
kiri, berbanjar-banjar. Selanjutnya saat memasuki mesjid, aku semakin kagum
oleh interior bangunan yang di dominasi warna putih yang serasi dan elegan
dengan lampu-lampu gantung gaya eropa.
Aku memutuskan untuk berdiam di mesjid
hingga selesai waktu Isya. Setelahnya sembari menunggu dijemput aku duduk di teras
mesjid, dengan seorang penduduk aku berbincang. Pria paroh baya bersama istri
dan anaknya itu sudah biasa menghabiskan waktu di areal mesjid. Dan yang
semakin menarik saat beliau bercerita bagaimana ada seorang pedagang non muslim
yang mempunyai toko klontong di depan mesjid (dulunya kawasan taman mesjid
adalah pertokoan/pasar) seketika menjadi mualaf karena menurut pengakuannya, semasa
bencana telah melihat mesjid Baiturrohman terbang diatas gelombang Tsunami.
Rumah Adat Aceh (19
Mei 2012)
Rumah Adat
Aceh atau disebut dengan Rumoh Atjeh merupakan tempat untuk memamerkan
barang-barang khas/ asli Aceh. Rumah panggung ini dibuat pada masa kolonial
Belanda yakni Th. 1914 dan baru pada 31 Juli 1915 diresmikan sebagai musium
Aceh hingga sekarang.
Salah satu
koleksi yang menarik adalah lonceng Cakra Donya berukuran tinggi +/- 1,25 meter
dan lebar 0,75 meter. Lonceng yang dipamerkan di pelataran Rumoh Aceh ini konon
adalah hadiah dari kaisar China untuk sultan Aceh. Adapun tujuan pemberian
hadiah adalah untuk membina persahabatan diantara kedua kerajaan. Kondisi
lonceng sendiri telah terkerosi (berkarat) sangat parah sehingga pahatan
ataupun ukirannya nyaris tidak terlihat lagi, padahal jika membaca literatur
yang ada menerangkan bahwa ukiran ataupun hiasan yang ditulis dalam bahasa Arab
dan China terlapis oleh emas.
Makam Pahlawan Sultan Iskandar Muda
Bersebelahan dengan Rumah Adat Aceh adalah Makam Pahlawan Sultan Iskandar
Muda, merupakan salah satu sultan yang tersohor dan membawa Aceh berada di puncak kejayaannya.
Sultan Iskandar Muda berkuasa sejak Th.
1607 hingga Th. 1636, dengan daerah kekuasaan sampai pesisir barat Minangkabau,
bahkan penaklukannya hingga ke Semenanjung Melayu – Penang. Selain itu kerja sama luar
negeri-pun dibina seperti dengan Inggris, Prancis, Belanda, Turki, China, hal ini terbukti dari catatan ataupun
berbagai peninggalan yang masih ada.
Hal tersebut membuat kerajaan Aceh sangat makmur dan
menjadi pusat ilmu pengetahuan kala itu, karenanya sebagai wujud kebanggaan maka bandara udara
Aceh diberi nama sang
sultan.
Selain
terdapat makan keluarga lengkap dengan daftar siapa saja yang dimakamkan, di
tempat tersebut juga dipamerkan berbagai persenjataan perang yang digunakan sekitar
abad 19~20 seperti meriam, roket atau tank.
Musium Tsunami
Lewat pukul sembilan waktu setempat kami telah sampai di musium tsunami yang dibangun sebagai monumen peringatan atas bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004. Selain
sebagai tempat memoriam kejadian tempat ini juga berfungsi sebagai menjadi pusat pendidikan dan dirancang sebagai tempat
perlindungan darurat seandainya bencana tsunami terjadi lagi (semoga tidak pernah
terjadi lagi).
Musium empat lantai yang berdiri diareal seluas 2.500 m² ini didesain oleh putra bangsa ‘Ridwan Kamil’. Secara umum
rancangannya sangat artistik, diawali pada dindingnya yang melengkung yang
ditutup oleh relief-relief geometris sedang dinding dalam musium dihiasi gambar orang-orang menarikan tari ‘Saman’ yang
mempunyai arti kekuatan, kedisiplinan, dan kepercayaan (religius). Sementara
bila dilihat dari ketinggian maka atap musium menyerupai gelombang laut yang telah memporak-porandakan Aceh. Sedang
lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional
Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.
Setelah menitipkan ranselku, aku masuk ke lorong tsunami
sendiri, sementara Pranoto lebih memilih menjemur badannya dibawah hangatnya
matahari sembari menikmati ‘cigarrete’
.
Aku masuk ke dalam lorong sempit dan gelap diantara dua
dinding air yang tinggi, beberapa kali air menciprat ke wajahku sementara lantunan
dari ayat-ayat Al-Quran mengema di seluruh ruangan menembus kalbu. Darahku
berdesir, ketakutan dan kepanikan tentu tidak bisa terbayangkan saat itu.
Berserah diri dan hanya memohon pertolongan dari Alloh, barangkali kesan
tersebut yang hendak disampaikan kepada setiap pengunjung.
Keluar
dari lorong tsunami aku sampai di ruang kenangan. Disini terdapat
monitor-monitor ‘touch screen’ yang menampilkan foto-foto dokumentasi ketika
dan saat evakuasi bencana. Selanjutnya masuk ke ruangan yang menyerupai
cerobong kapal, dimana pada dindingnya tertulis nama-nama korban bencana
tsunami, dan pada puncak cerobong diukir asma ALLOH mungkin sebagai supremasi
tertinggi atas Qodho’ dan Qodhar manusia.
Lepas
dari situ kita memasuki anjungan kapal yang berupa titian/ jembatan dimana
dibagian bawah terdapat kolam sedangkan pada langit-langitnya yang
diperumpamakan layar diletakan bendera-bendera negara yang telah membantu
pemulihan Aceh pasca bencana.
Sampai
diujung jembatan terdapat ruang cinema yang memutar film dokumenter saat
bencana terjadi, tidak ada pungutan biaya, anda dipersilahkan duduk dan diminta
diam selama pemutaran film berlangsung.
Di
dalam film diterangkan daerah-daerah yang tergerus oleh tsunami diantaranya
adalah perempatan surabaya, dimana aku bermalam selama berada di Aceh. Disebut
perempatan Surabaya karena di daerah tersebut banyak orang yang berasal dari Surabaya
atau Jawa Timur bermukim, hingga saat ini perempatan tersebut tetap terkenal dengan
nama perempatan Surabaya.
Bertolak
dari ruang Cinema ada beberapa ruangan seperti ruang geology, ruang pendidikan
dan perpustakaan yang akan memberikan informasi baik dalam bentuk foto-foto
atau catatan mulai bencana terjadi, pasca tusnami, dan pembangunan yang terus
dilakukan oleh pemerintah Aceh.
Akhirnya
aku sampai ke lantai dasar, mengikuti petunjuk tanda panah ‘keluar’, segera
kujumpai Pranoto yang menungguku dengan cemas. Sebab waktuku kian menipis,
tik-tok-tik-tok, dengan motornya Pranoto ngebut! Dan hasilnya 10 menit sebelum
boarding aku sudah sampai di Bandara. Aku segera menyalaminya, berterima kasih
lalu lari melewati petugas dan langsung mengantri di depan loket.
Toba
nantikan kedatangan-ku... yaaaa
(critanya di bagian ke-6)
http://wedhya.blogspot.com/2013/01/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-6.html
(critanya di bagian ke-6)
http://wedhya.blogspot.com/2013/01/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-6.html
Catatan Penulis
Aku benar-benar
berterima kasih pada:
Fie patner
seperjalananku, bang Pranoto, Edy, Ria yang sudi meluangkan waktu dan mengantarku
keliling Aceh, bang Okta dan istri yang mengijinkan aku numpang bermalam di kantor LSM, Rasidin
& bang Nasir yang membagi info-info Aceh mungkin suatu hari kita bisa jumpa,
Antie & the great BPM, Sepasang kepompong (Tina dan Mery) yang setia
memonitor keberadaanku serta teman-teman lain yang kujumpai sepanjang perjalanan
yang tidak dapat kusebutkan satu persatu, juga pada Alloh untuk semua hal yang
memudahkan perjalananku selama di Aceh dan Pulau Sabang.
Amin.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar