19 Mei 2012
Oleh Wedhya Wardani
Keluar pintu Bandara Polonia
Medan, aku
segera menuju kesalah satu kedai untuk beristirahat sejenak. Kulihat di sudut kedai, jam menunjukkan waktu pukul satu kurang lima belas menit.
Siang itu cukup panas. Seorang pelayan datang untuk menawarkan menu
makanan, aku langsung meminta jus markisa yang menjadi salah satu minuman
andalan di Medan.
Sembari menikmati jus segar berwarna
orange, aku menanti konfirmasi dari teman-teman BPM (Backpacker Medan) yang
sedianya akan menemaniku keliling kota Medan.
Persis minumanku habis, aku mendapat SMS bahwa salah
seorang rekan BPM sudah menungguku di pintu keluar kawasan Bandara. Segera aku
membayar tagihan minumanku, meraih ransel dan detik berikutnnya aku sudah
menemui Hendri yang akan mengantarku keliling kota Medan.
Penangkaran Buaya
Asam Kumbang
Tujuan pertama yakni penangkaran buaya Asam Kumbang
tepatnya di Jalan Bunga Raya II, Medan, Sumatera Utara.
Bau yang sangat menyengat langsung
menyapa penciuman ketika kami memasuki daerah penangkaran. Dibatasi oleh
dinding tembok setinggi satu meter dan bersambung dengan kawat ayam (wire mesh) yang tersekat-sekat
menyerupai bilik-bilik dimana beberapa ekor buaya
ditempatkan di dalamnya sesuai klasifikasi umur. Hal ini untuk memudahkan para
pengunjung melihat buaya secara langsung.
Diantara yang dipamerkan ada yang
memiliki keunikan sendiri yakni buaya bekulit putih dan buaya buntung (tidak
memiliki ekor). Sedang sebagian besar lainnya berada di kolam rawa-rawa
berwarna hijau.
Di tengah kolam terdapat beberapa pohon
besar yang dijadikan tempat tinggal burung-burung berbulu putih. Tentunya
burung-burung itu juga akan menjadi santapan buaya bila mereka lengah. Sungguh
pemandangan yang tersaji benar-benar seperti habitat aslinya.
Penangkaran yang dirintis oleh warga keturunan China (Lo Than Mok) ini menempati areal seluas 2 hektar dengan jumlah buaya
sekitar dua ribu ekor. Menakjubkan bukan?
Hal itu belum apa-apa,
konon penangkaran yang dikelola secara turun temurun ini adalah penangkaran
buaya terbesar di dunia. Hanya saat aku berkunjung kondisinya kurang terurus.
Walau saat kami masuk ada retribusi, namun aku rasa dana yang diperlukan untuk
mengurus penangkaran sebesar itu tentulah cukup besar, mengingat
minimnya pengunjung.
Karenanya mungkin
keterlibatan berbagai pihak sangat diharapkan, seperti mempromosikan sebagai
salah satu tempat yang patut dikunjungi adalah bantuan dalam bentuk non-material
guna kelangsungan penangkaran.
Gereja Annai Valengkani
Bertolak dari tempat penangakaran buaya, Hendri membawaku menuju daerah
Tanjung Selamat. Saat ia menghentikan
motornya, aku terkagum-kagum oleh bangunan yang penuh dengan corak warna.
Apabila aku tidak diberitahu jika tujuan berikutnya adalah gereja. Tentunya
aku akan salah terka, sebab bangunan Gereja Annai Valengkani lebih mirip kuil
Hindu. Dan kenyataannya ini adalah gereja Katolik dengan arsitektur bangunan
sepenuhnya gaya India.
Secara umum bangunan utamanya terdiri atas 3 lantai, dengan dua tangga berbentuk
setengah lingkaran pada sisi kanan dan kiri menuju lantai dua. Diatas lantai tiga barulah terdapat bangunan
berundak yang menjulang, baru pada puncaknya
terdapat kubah kecil dengan lambang gereja pada umumnya.
Sementara disebelah kiri bangunan utama, terdapat kapel dengan dua patung
malaikat pada pintu masuknya. Sedang di dalam kapel sendiri terdapat patung
berwana emas yang dihias dengan roncean bunga. Maaf ya rekan-rekan, selanjutnya
saya tidak bisa menerangkan lebih jauh sebab keburu diusir oleh seorang
penjaga, katanya aku mengganggu jemaah yang sedang berdoa.
Padahal aku sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan aku sengaja jalan
sedikit berjinjit agar tidak ada suara. Tapi sudahlah, aku wajib menghormati
umat yang beribadah. Mungkin keinginan tahuanku yang besar justru membuat
mereka tidak nyaman.
Selain
itu, bukankah petugas keturunan India tersebut hanya menjalankan tugasnya. Em, pemikiran terakhir membuatku
surut. Aku tersenyum
padanya dan segera berlalu.
Sementara
dibelakang kapel
terdapat kran-kran yang mengalirkan air, yang oleh jemaah di tampung dalam
wadah-wadah plastik. Konon air tersebut dulunya keluar dari bawah patung Bunda
Maria. Dan selanjutnya dinyakini bahwa air tersebut bisa menyembuhkan berbagai
penyakit.
Selesai
mengambil beberapa foto, selanjutnya aku menjumpai Hendri yang menunggu di parkiran. Hendri mengatakan
bahwa teman-temannya sudah menunggu kami. Aku tidak jelas tempat yang ia
maksudkan. Intinya kami harus pergi.
Mesjid Al Musanif
Dalam Perjalanan kami berhenti di mesjid Al-Musannif untuk
menunaikan ibadah sholat ashar. Mesjid ini sangat bersih. Disebelah kanan
terdapat taman dengan bunga-bunga yang ditanam di dalam pot besar serta dilengkapi pula dengan tempat duduk untuk bersantai yang menghadap
kolam.
Saat aku mengitari halamannya untuk menuju sisi lain dari
mesjid, angin bertiup ringan. Semilir dan menyegarkanku. Dan kudapati Hendri
yang sudah menantiku dengan seorang teman sejawatnya,
‘Ayif’. Selesai berkenalan kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan.
Maha Vihara Matreya
Kami memasuki perumahan Cemara Asri, lurus melalui jalan
berpaving kami menuju jalan Boulevard Utara. Disana kami tealah ditunggu oleh seorang pemuda. Ia
duduk disalah satu bangku yang berada dipelataran Vihara.
Vihara yang merupakan salah satu tempat beribadatan
umat Budha terbesar di Indonesia ini menempati lahan sekitar 4,5 hektar yang
mempunyai fasilitas lengkap dan nyaman bagi umatnya.
Memiliki
tiga (3) gedung utama yang mempunyai fungsi dan kapasitas/ daya tampung jemaah
yang cukup besar. Memasuki gedung Vihara yang luas kami disuguhi suasana yang
tenang.
Selesai melihat-lihat
gedung-1 yang merupakan tempat pemujaan Buddha, kami berjalan ke sebelah kiri
bangunan dimana satu taman lengkap dengan kolam dan gemericik air mengundang
keinganantahuanku.
Taman di
Vihara ini ditata dengan gaya Tiongkok, dimana kolam yang memanjang dibentuk
seperti aliran sungai. Di dalamnya terdapat banyak ikan koi yang berenang
dengan gemulai memamerkan warna cerah ditubuhnya yang indah. Sementara disisi
pinggir diantara tanaman perdu diletakkan beberapa patung Biksu kecil sebagai
pemanis. Selain itu ada jembatan yang bisa kita lintasi sedang dibawahnya
terdapat miniatur perahu yang seolah-olah akan lewat dibawahnya. Membuat
suasana taman serasa hidup.
Lanjut ke sebelah kanan bangunan, disini terdapat taman
bermain bagi anak-anak, Auditorium
serta, restoran vegetarian (jangan bermimpi ada sajian daging) berikut toko
souvenir berada di gedung ini juga, menarik bukan?
Sedang
bangunan ke-2 merupakan aula serbaguna dengan daya tampung yang cukup besar
(sekitar 2500 orang), biasanya dimanfaatkan untuk ruang makan atau resepsi. Dan
bangunan ke-3 adalah balai pertemuan dengan daya tampung sekitar 2000orang.
Disisi
luar, tepatnya disebelah kiri gedung-1, terdapat lonceng kebahagiaan raksasa.
Pada genta yang terbuat dari besi baja seberat 7 ton dengan tinggi 3,3 meter
tersebut diukir kalimat Dharma Hati Maitreya.
Hari sudah
merunduk senja saat aku dan trio BPM; Hendri, Ayif dan Sipiro,
menyudahi lawatan kami. Kembali kami menyusuri jalan berpaving, dalam
perjalanan pulang, masih dalam kawasan Vihara aku melihat banyak burung
bertengger diatas pohon.
Hendri
menerangkan ini yang disebut taman burung. Jumlahnya ada ratusan burung.
Burung-burung tersebut bukanlah satwa asli yang mendiami area tersebut akan
tetapi burung migran yang berasal dari Eropa dan Australia. Dan menjadikan
tempat tersebut sebagai tempat singgah sementara.
Merdeka
Walk
Sebelum melanjutkan perjalanan, sepeda motor yang kami
kendarai berbelok ke Mesjid Al-Musanif, selanjutnya kami ber-empat segera
menunaikan ibadah sholat Magrib.
Beberapa menit ke depan, kami sudah beriringan melaju di
jalanan kota medan. Menebus keramaian dan padatnya kendaraan. Sampai akhirnya
berhenti di sebuah aula untuk menjemput gadis manis yang beberapa kali namanya
disebut oleh trio BPM.
Setelah berhasil mengajak Apni untuk bergabung, kami
berlima menuju kedai tempat dimana teman-teman BPM biasa ngumpul. Untuk
menikmati aneka minuman segar, khususnya
minuman favorit hasil campuran “Teh-Susu”. Namun pilihanku tidak mudah berpindah, yakni tetap Jus Markisa dan memang
manteb.
Satu persatu teman-teman BPM datang
bergabung bersama kami. Hanya beberapa saat saja kami merasa canggung. Namun
sedetik kemudian, ‘ach’, sungguh aku merasa semuanya adalah kawan lama. Kawan-kawan
BPM memang K3: keren, kompak dan kocak.
Selanjutnya kami berkonvoi menuju Merdeka Walk. Yups! Ini
tempatnya orang Medan berkumpul. Setelah memarkir kendaraan, kami menyusuri
jalanan di sekitaran Jalan Merdeka dimana terdapat gedung-gedung peninggalan
kolonial Belanda yang masih berfungsi hingga saat ini.
Terima
Kasih untuk BPM,
khususnya:
Hendri (yang sudah memberi tumpangan bermalam),
si
kalem Ayif,
Sipiro (Jeruknya manis, lain kali jangan satu ya, hehehe);
sis Irma (yang nyempatin walau sangat sibuk dengan
kegiatan syuting) dan
sis
Apni (yang kita culik dari kampus),
juga bang Rumi & Istri,
si-keriting bang Nandes yang lucu,
bang Wiwin yang manis,
serta bang Andika (semoga usahanya sukses),
emmm ,,, satu lagi
Carol yang batal gabung (Next kami bertemu di Siantar)
Sebelumnya aku akan menyusur jalur Berastagi - Sipiso2 dan Tongging
http://wedhya.blogspot.com/2013/02/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-7.html








nice to meet yu too kakak...maafkan orng sok sibuk ini...heeeehheee..
BalasHapusAku yang malah merasa tersanjung nichhh,,,
HapusWalau semua sibuk, masih bisa luangkan waktu buat bertemu. Sukses buatmu ya sis Irma :)