Senin, 28 Januari 2013

MERONCE KILAU ZAMRUD NUSANTARA (Bagian 6): Jalan Bereng Rekan BPM



 19 Mei 2012 


Oleh Wedhya Wardani

Keluar pintu Bandara Polonia Medan, aku segera menuju kesalah satu kedai untuk beristirahat sejenak. Kulihat di sudut kedai, jam menunjukkan waktu pukul satu kurang lima belas menit.

Siang itu cukup panas. Seorang pelayan datang untuk menawarkan menu makanan, aku langsung meminta jus markisa yang menjadi salah satu minuman andalan di Medan.

Sembari menikmati jus segar berwarna orange, aku menanti konfirmasi dari teman-teman BPM (Backpacker Medan) yang sedianya akan menemaniku keliling kota Medan.

Persis minumanku habis, aku mendapat SMS bahwa salah seorang rekan BPM sudah menungguku di pintu keluar kawasan Bandara. Segera aku membayar tagihan minumanku, meraih ransel dan detik berikutnnya aku sudah menemui Hendri yang akan mengantarku keliling kota Medan. 

Penangkaran Buaya Asam Kumbang

Tujuan pertama yakni penangkaran buaya Asam Kumbang tepatnya di Jalan Bunga Raya II, Medan, Sumatera Utara.
 
Bau yang sangat menyengat langsung menyapa penciuman ketika kami memasuki daerah penangkaran. Dibatasi oleh dinding tembok setinggi satu meter dan bersambung dengan kawat ayam (wire mesh) yang tersekat-sekat menyerupai bilik-bilik dimana beberapa ekor buaya ditempatkan di dalamnya sesuai klasifikasi umur. Hal ini untuk memudahkan para pengunjung melihat buaya secara langsung.

Diantara yang dipamerkan ada yang memiliki keunikan sendiri yakni buaya bekulit putih dan buaya buntung (tidak memiliki ekor). Sedang sebagian besar lainnya berada di kolam rawa-rawa berwarna hijau. 

Di tengah kolam terdapat beberapa pohon besar yang dijadikan tempat tinggal burung-burung berbulu putih. Tentunya burung-burung itu juga akan menjadi santapan buaya bila mereka lengah. Sungguh pemandangan yang tersaji benar-benar seperti habitat aslinya.


Penangkaran yang dirintis oleh warga keturunan China (Lo Than Mok) ini menempati areal seluas 2 hektar dengan jumlah buaya sekitar dua ribu ekor. Menakjubkan bukan? 

Hal itu belum apa-apa, konon penangkaran yang dikelola secara turun temurun ini adalah penangkaran buaya terbesar di dunia. Hanya saat aku berkunjung kondisinya kurang terurus. Walau saat kami masuk ada retribusi, namun aku rasa dana yang diperlukan untuk mengurus penangkaran sebesar itu tentulah cukup besar, mengingat minimnya pengunjung.

Karenanya mungkin keterlibatan berbagai pihak sangat diharapkan, seperti mempromosikan sebagai salah satu tempat yang patut dikunjungi adalah bantuan dalam bentuk non-material guna kelangsungan penangkaran. 

Gereja Annai Valengkani

Bertolak dari tempat penangakaran buaya, Hendri membawaku menuju daerah Tanjung Selamat.  Saat ia menghentikan motornya, aku terkagum-kagum oleh bangunan yang penuh dengan corak warna.

Apabila aku tidak diberitahu jika tujuan berikutnya adalah gereja. Tentunya aku akan salah terka, sebab bangunan Gereja Annai Valengkani lebih mirip kuil Hindu. Dan kenyataannya ini adalah gereja Katolik dengan arsitektur bangunan sepenuhnya gaya India.

Secara umum bangunan utamanya terdiri atas 3 lantai, dengan dua tangga berbentuk setengah lingkaran pada sisi kanan dan kiri menuju lantai dua. Diatas lantai tiga barulah terdapat bangunan berundak yang menjulang, baru pada puncaknya terdapat kubah kecil dengan lambang gereja pada umumnya. 


Sementara disebelah kiri bangunan utama, terdapat kapel dengan dua patung malaikat pada pintu masuknya. Sedang di dalam kapel sendiri terdapat patung berwana emas yang dihias dengan roncean bunga. Maaf ya rekan-rekan, selanjutnya saya tidak bisa menerangkan lebih jauh sebab keburu diusir oleh seorang penjaga, katanya aku mengganggu jemaah yang sedang berdoa.

Padahal aku sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan aku sengaja jalan sedikit berjinjit agar tidak ada suara. Tapi sudahlah, aku wajib menghormati umat yang beribadah. Mungkin keinginan tahuanku yang besar justru membuat mereka tidak nyaman. 

Selain itu, bukankah petugas keturunan India tersebut hanya menjalankan tugasnya.  Em, pemikiran terakhir membuatku surut. Aku tersenyum padanya dan segera berlalu.  

Sementara dibelakang kapel terdapat kran-kran yang mengalirkan air, yang oleh jemaah di tampung dalam wadah-wadah plastik. Konon air tersebut dulunya keluar dari bawah patung Bunda Maria. Dan selanjutnya dinyakini bahwa air tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Selesai mengambil beberapa foto, selanjutnya aku menjumpai Hendri yang menunggu di parkiran. Hendri mengatakan bahwa teman-temannya sudah menunggu kami. Aku tidak jelas tempat yang ia maksudkan. Intinya kami harus pergi. 

Mesjid Al Musanif

Dalam Perjalanan kami berhenti di mesjid Al-Musannif untuk menunaikan ibadah sholat ashar. Mesjid ini sangat bersih. Disebelah kanan terdapat taman dengan bunga-bunga yang ditanam di dalam pot besar serta dilengkapi pula dengan tempat duduk untuk bersantai yang menghadap kolam. 

Saat aku mengitari halamannya untuk menuju sisi lain dari mesjid, angin bertiup ringan. Semilir dan menyegarkanku. Dan kudapati Hendri yang sudah menantiku dengan seorang teman sejawatnya, ‘Ayif’. Selesai berkenalan kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan.

Maha Vihara Matreya

Kami memasuki perumahan Cemara Asri, lurus melalui jalan berpaving kami menuju jalan Boulevard Utara. Disana kami tealah ditunggu oleh seorang pemuda. Ia duduk disalah satu bangku yang berada dipelataran Vihara.

Vihara  yang merupakan salah satu tempat beribadatan umat Budha terbesar di Indonesia ini menempati lahan sekitar 4,5 hektar yang mempunyai fasilitas lengkap dan nyaman bagi umatnya. 

Memiliki tiga (3) gedung utama yang mempunyai fungsi dan kapasitas/ daya tampung jemaah yang cukup besar. Memasuki gedung Vihara yang luas kami disuguhi suasana yang tenang. 

Selesai melihat-lihat gedung-1 yang merupakan tempat pemujaan Buddha, kami berjalan ke sebelah kiri bangunan dimana satu taman lengkap dengan kolam dan gemericik air mengundang keinganantahuanku.

Taman di Vihara ini ditata dengan gaya Tiongkok, dimana kolam yang memanjang dibentuk seperti aliran sungai. Di dalamnya terdapat banyak ikan koi yang berenang dengan gemulai memamerkan warna cerah ditubuhnya yang indah. Sementara disisi pinggir diantara tanaman perdu diletakkan beberapa patung Biksu kecil sebagai pemanis. Selain itu ada jembatan yang bisa kita lintasi sedang dibawahnya terdapat miniatur perahu yang seolah-olah akan lewat dibawahnya. Membuat suasana taman serasa hidup. 

Lanjut ke sebelah kanan bangunan, disini terdapat taman bermain bagi anak-anak, Auditorium serta, restoran vegetarian (jangan bermimpi ada sajian daging) berikut toko souvenir berada di gedung ini juga, menarik bukan?

Sedang bangunan ke-2 merupakan aula serbaguna dengan daya tampung yang cukup besar (sekitar 2500 orang), biasanya dimanfaatkan untuk ruang makan atau resepsi. Dan bangunan ke-3 adalah balai pertemuan dengan daya tampung sekitar 2000orang. 

Disisi luar, tepatnya disebelah kiri gedung-1, terdapat lonceng kebahagiaan raksasa. Pada genta yang terbuat dari besi baja seberat 7 ton dengan tinggi 3,3 meter tersebut diukir kalimat Dharma Hati Maitreya.


Hari sudah merunduk senja saat aku dan trio BPM; Hendri, Ayif dan Sipiro, menyudahi lawatan kami. Kembali kami menyusuri jalan berpaving, dalam perjalanan pulang, masih dalam kawasan Vihara aku melihat banyak burung bertengger diatas pohon.

Hendri menerangkan ini yang disebut taman burung. Jumlahnya ada ratusan burung. Burung-burung tersebut bukanlah satwa asli yang mendiami area tersebut akan tetapi burung migran yang berasal dari Eropa dan Australia. Dan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat singgah sementara.

Merdeka Walk

Sebelum melanjutkan perjalanan, sepeda motor yang kami kendarai berbelok ke Mesjid Al-Musanif, selanjutnya kami ber-empat segera menunaikan ibadah sholat Magrib.

Beberapa menit ke depan, kami sudah beriringan melaju di jalanan kota medan. Menebus keramaian dan padatnya kendaraan. Sampai akhirnya berhenti di sebuah aula untuk menjemput gadis manis yang beberapa kali namanya disebut oleh trio BPM.  

Setelah berhasil mengajak Apni untuk bergabung, kami berlima menuju kedai tempat dimana teman-teman BPM biasa ngumpul. Untuk menikmati aneka  minuman segar, khususnya minuman favorit hasil campuran “Teh-Susu”. Namun pilihanku tidak mudah berpindah, yakni tetap Jus Markisa dan memang manteb.

Satu persatu teman-teman BPM datang bergabung bersama kami. Hanya beberapa saat saja kami merasa canggung. Namun sedetik kemudian, ‘ach’, sungguh aku merasa semuanya adalah kawan lama. Kawan-kawan BPM memang K3: keren, kompak dan kocak.   

Selanjutnya kami berkonvoi menuju Merdeka Walk. Yups! Ini tempatnya orang Medan berkumpul. Setelah memarkir kendaraan, kami menyusuri jalanan di sekitaran Jalan Merdeka dimana terdapat gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda yang masih berfungsi hingga saat ini.


Terima Kasih untuk BPM, khususnya:



 Hendri (yang sudah memberi tumpangan bermalam),

si kalem Ayif,

Sipiro (Jeruknya manis, lain kali jangan satu ya, hehehe);

sis Irma (yang nyempatin walau sangat sibuk dengan kegiatan syuting) dan

sis Apni (yang kita culik dari kampus),

juga bang Rumi & Istri,

si-keriting bang Nandes yang lucu,

bang Wiwin yang manis,

serta bang Andika (semoga usahanya sukses),

emmm ,,, satu lagi 
Carol yang batal gabung (Next kami bertemu di Siantar)

Sebelumnya aku akan menyusur jalur Berastagi - Sipiso2 dan Tongging 
http://wedhya.blogspot.com/2013/02/meronce-kilau-zamrud-nusantara-bagian-7.html

2 komentar:

  1. nice to meet yu too kakak...maafkan orng sok sibuk ini...heeeehheee..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yang malah merasa tersanjung nichhh,,,
      Walau semua sibuk, masih bisa luangkan waktu buat bertemu. Sukses buatmu ya sis Irma :)

      Hapus