Kamis, 23 Agustus 2012

MENGIKUTI JEJAK PENAMBANG BELERANG


Kawah Ijen – Bondowoso – Jawa Timur
8 November, 2011


Oleh Wedhya Wardani
Bersama Dhesi Gembira dan Irwan Perkasa
Terimakasih banyak pada Bpk Mutaqin yang mengijinkan kami menyertai hingga ke sumber belerang

            Dari arah terminal Sasak Perot-Banyuwangi, kami bertiga dengan berkendara motor menuju ke arah barat kota Banyuwangi. Sampai di pertigaan patung barong, aku berhenti sebentar, diikuti Irwan yang berboncengan dengan Dhesi. Saat kutanyakan mau ambil jalan lurus atau belok kiri, mereka memintaku untuk memutuskannya. Sekali ayun aku menutup helm-ku dan menarik gas. Motorku melaju lurus, yakni arah desa wisata osing. Walau jalannya tidak terlalu lebar dan banyak tikungan tajam, aku menyukai jalur ini. Selain masih banyak sawah yang hijau membentang, jalur ini lebih teduh karena terdapat kawasan perkebunan peninggalan masa kolonial Belanda. Di perkebunan Kalibendo ini bisa dijumpai; pohon karet, cengkeh dan tanaman kopi yang tumbuh berbanjar-banjar, rapih dan sangat terawat baik

Keluar dari wilayah perkebunan Kalibendo, Kami memasuki daerah perkampungan yang masih jarang. Aku mengurangi sedikit kecepatan saat melintasi buah kopi yang terhampar di tengah jalan. Hal ini sengaja dilakukan oleh warga sekitar perkebunan sebagai cara efektif untuk mengeringkan buah kopi sekaligus untuk memecah kulit kopi dengan memanfaatkan kendaraan yang lewat. Walau demikian, apabila memungkinkan aku lebih suka menghindar atau tidak melindas hamparan kopi tersebut. Karena rasanya seperti melaju di jalan berkerikil. Kecuali berkendara dengan mobil, tentu dengan senang hati melakukannya.  

Tepat di desa Jambu, kami langsung belok ke kanan. Saat melewati pos jaga perkebunan, aku sengaja melambatkan motorku. Begitu kulihat seorang penjaga berdiri, aku melambai sambil menunjuk ke arah tujuan kami. Sang petugas melambai, sambil berteriak, “hati-hati jalurnya rusak!”. Aku tersenyum, menyakinkan padanya bahwa kami akan baik-baik saja.

Aku terus meluncur di jalan beraspal tipis berpagar pohon cengkeh yang menjulang ke langit, sementara Irwan dan Dhesi yang berboncengan terus mengekor di belakangku. Jalan masih relatif landai, dengan beberapa belokan yang halus. Disepanjang jalan aku menjumpai pegawai perkebunan yang menyiangi rumput. 

Dikawasan ini juga terdapat budidaya lebah madu. Dari arah jalan kita langsung bisa melihat kotak-kotak kayu yang merupakan rumah lebah. Ditempatkan berkelompok-kelompok, menyebar diantara tanaman yang ada di kawasan perkebunan. Sehingga madu yang dihasilkan oleh para lebah bervariasi baik dalam rasa, warna, kepekatan dan khasiatnya; misalkan yang diletakkan di areal tanaman kopi maka madunya berwarna sedikit hitam dan berasa kopi.
 
Setelah melewati turunan yang tajam, kami memasuki kawasan hutan tropis. Selain pohon-pohon besar dengan sulur akar berhias anggrek yang menepel rapat dibatangnya, jajaran pohon palem dengan daunnya yang lebar berikut beberapa jenis perdu seperti pakis terlihat hijau  dan subur di sebelah kanan-kiri jalan. Namun keindahan tersebut tidak dapat kami nikmati cukup lama, karena semakin masuk hutan, kondisi jalan semakin rusak. Keadaan ini sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Jalan hotmix yang dulu kulewati tak kudapati lagi. Kini yang terbentang adalah bongkahan-bongkahan batu gunung yang mencuat tak karuan, sangat mengerikan serta membuatku ragu untuk melanjutkan perjalanan. 

Apalagi ketika kami bertemu seorang sopir yang mobil pick-up-nya mogok di tengah hutan sana. Pria setengah baya itu memberi kami informasi bahwa di depan, kerusakan jalan kian parah. Apalagi semalam turun hujan, selain tanah yang basah membuat jalan menjadi licin, batu-batu yang dulunya merupakan pondasi jalan tak jarang lepas dari tempatnya saat di lewati kendaraan. Aku menoleh ke arah Irwan untuk meminta pertimbangannya. Pria satu-satunya yang menyertai kami ini dengan santainya mengatakan bahwa perjalanan sudah tanggung, hanya perlu melewati beberapa tanjakan lagi. Sesudah itu jalan akan landai yakni begitu mendekati pos pengangkutan belerang. Bahkan ia menyakinkanku, jika nanti aku takut, maka ia akan membawa motor satu persatu secara bergantian dan menyuruh kami untuk jalan kaki saja.

Dengan suara bulat, kami bertiga sepakat untuk melanjutkan perjalanan. Satu tanjakan berikutnya berhasil aku lewati dengan sangat berani. Akan tetapi ditanjakan berikutnya, dengan kemiringan nyaris 70 derajat, aku menyerah. Aku turun dari motor dan menahannya sampai Irwan berlari menggantikanku. Sementara Irwan membawa motor melewati tanjakan, aku dan Dhesi berjalan kaki, demikian seterusnya. 

Hingga kami bertemu dengan dua orang pegawai perkebunan yang berboncengan dengan motor tril. Setelah bertegur sapa, juga sedikit berbincang tentang masalah kami. Akhirnya dengan pertimbangan bahwa kami menuju ke arah yang sama dan alasan manusiawi yakni menolong seorang wanita. ‘TENTU’. Tanpa diminta-pun bapak-bapak tersebut akan menawarkan bantuannya untuk membawa motorku sampai ke atas. 

Benar-benar pertolongan disaat yang tepat, fikirku. Kami-pun segera melanjutkan berjalanan. Walau hanya dibonceng, terkadang aku ngeri dan apabila turunan atau tanjakannya terlalu curam, aku akan memilih untuk turun dan berjalan kaki di belakangnya.

Setelah 2.5 jam perjalanan yang penuh tantangan, akhirnya kami sampai di Paltuding. Paltuding adalah pos jaga yang berada di kaki gunung Ijen. Sambil beristirahat, aku bertanya pada seorang petugas, apakah jalur dari Bondowoso relatif lebih bagus. Dengan senyum kecut beliau bilang bahwa ke dua jalan menuju Ijen sama rusaknya, selain itu jika pulang ke Banyuwangi lewat arah Bondowoso, maka jarak tempuhnya akan lebih jauh lagi. Intinya aku harus pulang dengan jalur yang sama. Aku menghela nafas tanpa berucap.
**

Embun diunjung bunga-bunga rumput telah menguap bersama nafas-nafas para penambang belerang yang menuruni kaki Ijen. Mereka yang turun adalah para penambang gelombang pertama. Yang kutahu biasanya mereka telah mendaki jauh sebelum waktu shubuh. Karena pada saat itu asap dari sumber belerang dan kabut tidak begitu tebal, sehingga mudah bagi mereka untuk mengambil bongkahan-bongkahan yang dimuntahkan dari perut bumi tersebut.
 
Sementara menunggu Dhesi yang melapor berikut membayar retribusi ke pos jaga dan Irwan yang masih sibuk mengamankan motor, aku melepas pandanganku pada perbukitan disekitar kaki Ijen. Kunjungan terakhirku adalah empat tahun silam, saat membawa rombongan teman-teman kantor. Karenanya dengan semua kerinduan yang terpendam, aku menghirup udara pegunungan yang sejuk, membiarkan setiap kapiler dalam paru-paruku menyesapnya.

08:00 WIB, kami menapaki jalan setapak menuju kawah Ijen, yang merupakan jalan satu-satunya yang biasa dilalui oleh para penambang juga para pendaki. Buru-buru aku menepi, dan berhenti tatkala berpapasan dengan beberapa penambang yang memanggul keranjang rotan dengan beban sekitar 70kg hingga 100kg belerang di pundaknya.  Yang disusul beberapa wisatawan baik lokal ataupun asing. Aku tersenyum saat mereka melalui kami. Seorang pemuda berkulit kemerahan dan berambut keriting membalas dengan memberi salam serta senyum  mengembang. Setelah mereka berlalu, kami kembali melanjutkan langkah.

Jalan yang kami lalui, sekilas mungkin terlihat landai, walau dalam kenyataannya adalah mendaki. Dhesi mengeluh jika dirinya merasa sesak. Aku menyuruhnya berhenti sebentar agar dapat mengatur nafas dan memintanya supaya tidak perlu terburu-buru ingin sampai ke puncak. Karena hal itu justru bisa membuat tenaganya cepat terkuras. 

 
Di belakang kami, menyusul sekelompok penambang dengan keranjang kosong. Salah seorang dari mereka menyapa dengan bahasa osing (bahasa daerah di Banyuwangi). Setelah masing-masing dari kami memperkenalkan nama dengan bahasa pengantar yang sama. Pembincaraan berlanjut pada tawaran, agar kami ikut hingga ke sumber belerang. Awalnya aku ragu, sebab telah beberapa kali aku ke kawah Ijen belum pernah ke sumber. Selain yang kutahu ada larangan keras agar para pendaki tidak turun ke kawah karena alasan keselamatan, juga ada pintu yang dijaga ketat sehingga pendaki tidak bisa memasuki kawasan yang hanya diperkenankan untuk para penambang saja.

Mutaqin demikian nama bapak dengan dua putra itu mengijinkan kami mengikuti jejak para penambang menuju sumber belerang. Sebenarnya pria yang berusia sekitar 35 tahun ini adalah salah seorang pekerja di PT. Candi Ngrimbi, perusahaan yang mempunyai ijin resmi untuk melakukan penambangan Belerang di kawah Ijen. Tanggung jawab Mutaqin adalah menjaga keamanan berikut memastikan bahwa jalan selalu dalam keadaan baik, dengan kata lain dapat dilalui oleh buruh tambang baik disaat cuaca cerah atau yang paling buruk sekalipun. Kegiatan keseharian mutaqin seperti memangkas rumput, menjaga kebersihan parit yang ada di kedua sisi jalan, dan bila perlu membuat pijakan di jalur yang sulit kala musim hujan.   

Hari itu mungkin keberuntungan bagi kami dapat bertemu dengan Mutaqin. Sebab jika bukan waktu libur kerja-nya, Mutaqin akan bekerja pada pos-nya. Menambang di hari libur sesungguhnya ia lakukan guna menambah pendapat bulanan-nya yang jauh dari mencukupi.

Kurang lebih 30 menit berjalan, akhirnya kami sampai di pos pengumpulan belerang. Beberapa penambang terlihat sedang duduk beristirahat sambil menghisap lintingan tembakau. Dhesi dan Irwan segera duduk dibangku kayu sembari mengendorkan jacket yang mereka pakai, sedang aku menuju kantin untuk memesan minuman hangat.

Di pos inilah belerang-belerang ditimbang terlebih dahulu, sebelum dibawa turun. Setelah ditimbang sang penambang akan mendapatkan kupon yang fungsinya semacam surat jalan, berisi nama penambang berikut berat belerang dari petugas jaga. Jika mereka tidak tertib, atau tidak melakukan penimbangan berikut membawa kupon dari pos ini, maka belerang yang mereka bawa akan ditolak di pos pengumpulan yang terletak di kaki gunung. Karena di pos tersebut belerang-belerang itu baru diterima/ditimbang ulang apabila ada kupon yang menyertainya. Setelah pengecekan berat belerang, para buruh akan mendapat upah, untuk satu kali angkut sekitar Rp. 50.000 hingga Rp. 80.000 tergantung berat belerang yang mereka bawa. Selanjutnya setelah terkumpul, belerang akan diangkut menggunakan truk ke pabrik pengolahan yang ada di daerah Kalibendo – Banyuwangi.

Setelah menghilang beberapa saat di salah satu bangunan berdinding anyaman bambu (gedek), Mutaqim muncul dengan membawa masker yang biasa digunakan oleh petugas kesehatan. Ia memberikannya pada kami dan meminta agar kami memakai masker tersebut apabila nanti masuk ke area sumber Belerang. 


Dari pos pengumpul belerang sesungguhnya jalan terbagi menjadi dua, yakni; yang satu mendaki menuju puncak/ kawah dan yang kedua menuju Dam yang dibangun semasa pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai informasi sedikit, dibalik Dam terdapat jalur sungai yang berfungsi sebagai saluran muntahan gunung Ijen yang tetap aktif hingga sekarang. Sehingga muntahannya tidak merusak desa sekitarnya. Karena saluran ini sudah lama tidak dipergunakan (sebab Gunung Ijen belum meletus lagi) dan proses pengedapan air yang mengandung sulfur dari danau/ kawah Ijen yang merembes menyebabkan dasar aliran sungai berwarna putih. Hal ini membuat pemandangan alam tersendiri atas Ijen disisi yang lain.

Selesai membayar minuman, kamipun bergegas melanjutkan perjalanan, dengan tujuan menuju kawah dan sumber belerang. Waktu itu kira-kira sekitar pukul 09:00 WIB lewat ketika kabut tiba-tiba saja meyelimuti segala hal termasuk jajaran pohon Cemara dan berbagai semak-semak berbunga terang di kanan kiri jalan yang kami lalui. Kabut telah menghalangi jarak pandang kami. Karenanya kami berjalan beriringan dengan tetap menjaga jarak agar tidak terlalu jauh satu sama lain. Kami benar-benar mengandalkan Mutaqin yang menjadi penunjuk jalan. Dengan langkah ringan Mutaqim yang menenteng keranjang rotan itu seolah tidak terpengaruh dengan kabut yang mungkin bisa menyesatkan jalan kami. Mutaqin hanya bilang ini sudah biasa. Setelah berjalan sekitar setengah jam, akhirnya kami mulai mencium bau belerang,  dan hal itu adalah tanda bahwa kami telah sampai di ketinggian ±2386 m/dpl. 

Untuk beberapa saat kami berhenti, mengatur nafas sambil melihat sekeliling dan hanya kabut yang masih menyelubungi panorama. Dari jauh kulihat, muncul diatara kabut yang enggan bergeser, rombongan penambang yang mirip semut-semut pekerja berjalan dengan cepat walau dipundaknya  harus memikul tumpukan bongkahan belerang. Aku terus mengawasi langkah mereka yang semakin mendekat ke arah kami.  Seperti yang sudah-sudah aku bersama yang lain lebih menepi agar bapak-bapak penambang bisa lewat dengan leluasa. 
Selanjutnya Mutaqim memberi isyarat agar kami segera mengikuti dirinya lagi. Tak satupun dari kami yang menjawab, hanya langkah kami yang mengekor dibelakangnya. Kamipun menembus kabut, menyusup diantara bau belerang yang semakin kuat. Memaksa kami untuk memasang masker dengan benar, sedang Mutaqin hanya menggunakan handuk kecil sebagai penutup hidung. 

Saat perjalanan kami mendekati bibir kawah, sempat kulihat papan peringatan yang terkesan seadanya, samar dalam pandanganku yang mulai berair karena pedih; “All visitor are strictly forbidden to go down to the crater”, yang kira-kira artinya adalah ‘semua pengunjung dilarang keras turun ke kawah. Mataku berkedip, berpaling dan buat pertama kalinya aku tidak mengindahkan peringatan tersebut, membandel, dengan tetap mengikuti Mutaqim menuju sumber belerang.

Sampai diturunan yang cukup terjal, aku berhenti sejenak. Aku mencari sesuatu sambil mengingat letaknya. Aku merasa telah melewatkan satu hal. Melihat aku yang clingak-clinguk, Mutaqimpun bertanya, ‘apa yang sedang kucari?’. Kukatakan padanya bahwa dikunjunganku yang terakhir, aku melihat ada pintu pagar yang merupakan batas bagi para pengunjung. 

Sebelum menjawab pertanyaanku, Mutaqim menyipitkan mata sambil melonggarkan handuk kecilnya. Kemudian Mutaqin menerangkan bahwa pintu besi itu telah rusak total, terkerosi oleh asap belerang setahun yang lalu. Dan dengan wajah serius Mutaqim menyakinkan pada kami bahwa tidak ada benda berbahan besi yang mampu bertahan lama disitu.  

“Lewat sini!” teriak Mutaqim  yang sudah mendahului kami. Langkahnya terlihat ringan walau medan yang kami lalui menurun dan curam, belum lagi ditambah sergapan asap belerang yang selain menutup pandangan, memedihkan mata juga membuat pernawasan menjadi sesak. Beberapa kali kami berhenti baik karena harus memberi jalan kepada para penambang yang lewat, juga karena kami terbatuk-batuk atau untuk mengatur nafas. Keinginan untuk mencapai sumber dan dasar kawahlah yang membuat kami untuk tetap meneruskan perjalanan. 

Akhirnya setelah 50 menit menuruni tebing kami sampai di dasar kawah. Awalnya kami tidak melihat apapun selain asap pekat beraroma tajam yang sangat menyiksa hingga dadaku terasa sesak sekali. Mutaqim menyuruh kami istirahat di dalam gubuk bambu tidak jauh dari sumber belerang. Disitu ia mengajarkan pada kami agar membasahi/mencuci masker dengan air, untuk kemudian dipakai lagi. Dan hasilnya sangat lumayan, aku seperti menghirup oksigen segar.    
     
Setelah menunggu beberapa waktu, seperti instruksi Mutaqim, pelan-pelan asap yang pekat menipis, lalu terbentang danau yang tercipta oleh erupsi letusan gunung Ijen begitu sangat mempesona. Belum lagi aku selesai mengagumi panorama yang terhampar di depanku, dengan mengejutkan Mutaqim melompat dan menyuruh kami untuk mengikutinya dengan cepat. Setengah berlari ia menuju ke sebelah kanan belakang pondok bambu. Seperti janjinya, Mutaqim menunjukkan pipa-pipa yang tersambung ke dalam perut bumi, sementara ujung yang lain mengeluarkan cairan mendidih. Mutaqim mencongkel satu bongkah untuk ditunjukkan kepada kami. Warnanya oranye terang, ketika bongkahan itu terkena udara dan dingin lambat laun warnanya  berubah menjadi kuning seperti belerang yang biasa kita lihat. Inilah sumber, tempat dimana para penambang harus mengambil setiap bongkahan belerang untuk kemudian diangkut dengan pundaknya menuju ke atas hingga di kaki gunung tempat pengumpulan belerang. 


Ketika arah angin tiba-tiba berubah, hanya dalam hitungan detik kami telah dikepung oleh asap belerang dengan cepat. Namun aku masih sempat melihat seseorang berseragam merah lengkap dengan masker yang menutup seluruh mukanya berjalan ke arah kami.  Mutaqim melambaikan tangan, memberi isyarat pada mahluk bermasker asap. Selanjutnya aku tidak bisa melihat apapun. Mataku terpejam karena pedih oleh asap. Akhirnya dengan cara bergandengan dan dituntun oleh Mutaqim kami kembali bersembunyi ke dalam pondok. 

Sesampainya di pondok, Aku menggeledah tas jalanku, mengeluarkan air mineral dan segera menguyur mukaku. Baru setelahnya aku sedikit bisa melihat lagi. Sambil mengulurkan air mineral kepada Dhesy, aku bertanya siapakah orang berseragam merah tadi. Mutaqim menjelaskan bahwa yang kulihat itu adalah penjaga sumber. Sebenarnya ada dua orang yang bertugas secara bergantian untuk menjaga sumber belerang agar tetap dalam keadaan aman bagi para penambang yakni supaya tidak ada penyumbatan pada pipa-pipa yang ada ataupun kebakaran yang sering terjadi karena suhu yang terlalu panas. 


Disaat kabut kembali tersibak, alam kembali mempertontonkan langit yang biru tanpa cela, terang menaungi cadas berwarana gelap yang membentengi danau yang laksana kaca raksasa. Aku segera berlari, menuju garis batas dimana air danau beriak begitu lembut. Walau aku tergoda untuk bermain dengan airnya. Aku merasa cukup menyentuh air danau yang terasa hangatdengan ujung jemariku. Hanya mengingatkan, jika rekan-rekan nanti berkesempatan datang ke Ijen dan mampu sampai di dasar kawah jangan mencoba mencuci muka di danau ini! Sebab air danau mengandung belerang yang kadarnya belum diteliti. Tapi efek umum yang pernah aku rasakan akan membuat kulit ari terkelupas dengan sedikit gatal-gatal seperti digigit ribuan semut. 

            Ketika asap mulai menutup pandangan lagi, kami sudah mulai menaiki tebing. Mutaqim tetap memimpin di depan, tapi kali ini ia memanggul keranjang berisi belerang dengan beban sekitar 50 hingga 60kg.  Kami yang hanya membawa badan saja, musti istirahat beberapa kali, bahkan sempat tertinggal cukup jauh dari Mutaqim. Membuat Mutaqim kembali dan memastikan keadaan kami baik-baik saja. Karena kufikir kami begitu merepotkan, aku memintanya agar terus saja hingga puncak, dan menunggu kami disana.

            Lebih lama dari saat kami menuruni tebing, akhirnya kami sampai di puncak. kulihat Mutaqim tengah duduk santai.  Saat melihat kami, mutaqim segera bersiap kembali untuk memanggul keranjangnya. Tapi aksinya itu ditahan oleh Irwan, yang ingin mencoba memanggul belerang tersebut. Dengan hati-hati Mutaqim membantu meletakkan keranjang dipundak Irwan, dan memberi arahan bagaimana langkah kaki sebaiknya seirama dengan gerakan keranjang. Sebab jika terlalu kaku akan terasa lebih berat. Kurang dari 10 meter, Irwan menyerah dan menurunkan beban dipundaknya.
 
            12:30 Wib sedikit berkabut namun secara keseluruhan cuaca puncak Ijen sangat cerah. Setelah mempersilahkan Mutaqim untuk mendahului kami dan berjanji akan bertemu dipkaki Ijen (Paltuding). Karena kami masih ingin menikmati pemandangan alam yang tersaji.  Tiada kata, hanya rasa kagum dan syukur atas kebesaran Ilahi yang telah memberi rupa pada sudut Jawa Timur dengan keelokan Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiru-biruan.   
**

Catatan Penulis
  1. Kawasan obyek wisata kawah Ijen yang berada dibawah pengawasan Taman Nasional Baluran ini dulunya masuk daerah Kabupaten Banyuwangi, tapi entah mulai kapan yang kutahu saat kunjungan-ku terakhir kawasan ini telah masuk dalam daerah Kabupaten Bondowoso. Walau demikian orang masih mengenal kawah Ijen berada di Banyuwangi, sebab secara geografis letaknya memang relatif dekat dengan kota Banyuwangi.
  2. Untuk menuju Kawah Ijen ada beberapa jalur yang bisa ditempuh:
  • Dari Surabaya; naik Kereta Api jurusan Banyuwangi (+/- 7jam), turun di stasiun Karang Asem. Selanjutnya bisa jalan kaki ke terminal Sasak Perot. Lalu dilanjut menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin), dari Jambu bisa ngojek atau ikut truk pengangkut Belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative
  • Dari Surabaya; naik Bus antar kota jurusan Pasuruan-Probolingo-Situbondo-Banyuwangi (+/- 7jam) turun di Terminal Banyuwangi (Jika ingin cepat beli tiketnya per-terminal aja, sudah jadi kebiasaan klo yang kelas ekonomi dan penumpangnya sedikit busnya suka ngetem lama). Dari Terminal Banyuwangi Baru-Ketapang lanjut naik angkot menuju kota Banyuwangi/Terminal Blambangan (Rp 3ribu). Lalu ganti angkot yang menuju terminal Sasak Perot (harga sama). Kemudian dilanjut menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin). Selanjutnya bisa ngojek atau ikut truk pengangkut Belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative) hingga Paltuding.
  • Dari Surabaya; mengunakan bus antar kota menuju Situbondo, lalu berlanjut ke Bondowoso   (+/- 7jam). Dari terminal Bondowoso menuju ke desa kalianyar- kec sempol (+/- 52km) terus ke Belawan lanjut ke Paltuding.
  • Dari Denpasar-Bali; Menuju penyebrangan Gilimanuk-Ketapang (+/- 5jam), Penyebrangan Gilimanuk-Tanjung Wangi (Ketapang) (+/- 1jam), dari pelabuhan Ketapang naik angkot menuju kota Banyuwangi/Terminal Blambangan (Rp 3ribu). Lalu ganti angkot yang menuju terminal Sasak Perot (harga sama). Kemudian dilanjut menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin). Selanjutnya bisa ngojek atau ikut truk pengangkut belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative) hingga Paltuding. 
  • Bagi yang mempunyai anggaran lebih dari Surabaya menuju Banyuwangi bisa ditempuh lewat udara (Pesawat). Maskapai yang beroperasi untuk sementara adalah Merpati dengan rute Surabaya (Juanda) – Banyuwangi (Belimbing Sari Apt), waktu tempuh kurang dari satu jam. Dari Bandara Belimbing Sari langsung menuju terminal Karang Ente lalu lanjut ke terminal Sasak Perot. Kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan pedesaan yang menuju desa Jambu (Licin), dari Jambu bisa ngojek atau ikut truk pengangkut Belerang, jadwal jam 6pagi dan 2siang (tentative) hingga Paltuding. Yang jelas tidak ada trayek angkutan menuju Paltuding.  

8 komentar:

  1. Pengalaman yang sangat menarik. Jadi mau kesana nih melalui malang, rutenya gmn yah?
    Ada saan? Makasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo dari Malang bisa naik Kereta atau naik bus:

      1) Kereta: Dari Malang seingatku ada kereta ekonomi jam 1 or dan jam 2 siang menuju Banyuwangi, ntar turun di stasiun Karangasem (+/- 6 s/d 7 jam perjalanan), dari sini bisa jalan kaki menuju terminal sasak perot, baru kamu nyari angkutan pedesaan yang menuju desa jambu-licin. Selanjutnya sama dengan keterangan diatas (ngojek atau ikut truck pengangkut belerang)

      2) Bus: Dari Terminal Dinoyo-Malang ada yang langsung Banyuwangi dengan rute: Malang-Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (+/- 6 s/d 7 jam perjalanan), dari terminal Banyuwangi Baru-Ketapang naik angkot kuning ke terminal Blambangan kmd ganti angkot yang ke terminal sasak perot baru kamu nyari angkutan pedesaan yang menuju desa jambu-licin. Selanjutnya sama dengan keterangan diatas (ngojek atau ikut truck pengangkut belerang)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima Kasih Agus, Silahkan Explore Ijen, banyak sudut cantik disana, tidak hanya kawah-nya yang eksotik, tapi pemandangan di DAM (buatan masa kolonial Belanda) sangat menakjubkan.

      Hapus
  3. aaaaaaaaaaaaaaaa ... gokil mbak sudah gak tahan saya !

    BalasHapus